JD Vance: Jeffrey Epstein Punya Hubungan dengan Kubu Israel

14 hours ago 13

WAKIL Presiden Amerika Serikat JD Vance pada Rabu 15 Juli 2026 mengklaim bahwa mendiang pelaku kejahatan seksual, Jeffrey Epstein, "tampaknya memiliki hubungan dengan elemen-elemen deep state Israel serta tingkat tertinggi intelijen Amerika."

Saat ditanya dalam siniar "The Joe Rogan Experience" mengenai anggapan banyak orang bahwa Epstein terkait dengan badan intelijen Israel, Mossad, Vance menjawab, "Ya, Mossad atau CIA atau deep state lainnya, baik di Amerika, Israel, maupun negara lain."

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

"Dia jelas memiliki hubungan dengan tingkat atas, tingkat tertinggi intelijen Amerika. Dia jelas memiliki hubungan dengan tingkat tertinggi intelijen Israel," ujarnya seperti dilansir Anadolu.

Dia menambahkan bahwa menurutnya kasus Epstein itu "menarik" karena, "sepengetahuan saya, Perdana Menteri Netanyahu—yang saat ini tidak terlalu populer di Amerika Serikat—tampaknya Epstein justru terhubung dengan elemen-elemen deep state Israel yang berhaluan kiri-tengah."

"Dia tidaklah sangat terhubung dengan kubu kanan-tengah politik Israel. Di Amerika, dia terhubung dengan semua kalangan. Dia punya teman dari Partai Republik, dia punya teman dari Partai Demokrat. Dia memiliki hubungan yang jauh lebih dalam dengan kubu kiri-tengah Israel dibandingkan kubu kanan-tengah," klaim Vance.

Akui Penanganan Pemerintahan Trump Salah

Vance dalam kesempatan tersebut juga mengakui bahwa pemerintahan Trump salah dalam menangani respons terhadap kasus tersebut.

Mengenai penanganan kasus Epstein oleh pemerintah, Vance berkata, "Jika orang ingin mengatakan kami salah menangani masalah rilis dokumen Epstein, ya kami memang bersalah. Kami memang salah menanganinya, terutama terkait komunikasinya."

"Kami benar-benar kacau dalam hal komunikasi mengenai berkas-berkas Epstein," ujarnya.

Saat ditanya apa yang seharusnya dilakukan secara berbeda, dia berkata, "Menurut saya, seharusnya kami langsung merilis semuanya sejak awal. Tentu saja butuh waktu untuk meninjau materi tersebut, menemukannya, dan menyunting bagian-bagian tertentu demi melindungi korban dan sebagainya. Namun, seharusnya kami melakukannya secepat mungkin."

Departemen Kehakiman AS baru-baru ini merilis lebih dari 3 juta halaman dokumen, 2.000 video, dan 180.000 gambar pada Januari berdasarkan Undang-Undang Transparansi Berkas Epstein (Epstein Files Transparency Act), yang disahkan menjadi undang-undang pada November lalu.

Epstein ditemukan tewas di sel penjaranya di New York City pada 2019 saat sedang menunggu persidangan atas tuduhan perdagangan seks. Ia mengaku bersalah di pengadilan negara bagian Florida dan divonis bersalah karena mempekerjakan anak di bawah umur untuk prostitusi pada 2008. Namun, para kritikus menyebut vonis yang tergolong ringan itu sebagai "kesepakatan istimewa" (sweetheart deal).

Para korbannya menuding bahwa ia menjalankan jaringan perdagangan seks berskala besar yang dimanfaatkan oleh kalangan elite kaya dan politisi.

Read Entire Article
Parenting |