MARKAS Besar Tentara Nasional Indonesia menjelaskan rencana penambahan pos keamanan dan pasukan di wilayah Papua setelah terjadi insiden penembakan pilot dan pembakaran pesawat di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, Kamis, 2 Juli lalu.
Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Brigadir Jenderal Muhammad Nas mengatakan penambahan pos dan prajurit merupakan evaluasi terhadap pengamanan di wilayah-wilayah rawan, khususnya yang masih minim keberadaan prajurit. "Fokus pengamanan kami untuk meningkatkan perlindungan masyarakat hingga menjamin keamanan jalur penerbangan perintis dan objek vital," kata Nas melalui pesan WhatsApp, Rabu, 8 Juli 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Menurut Nas, sebagaimana yang disampaikan Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan atau Pangkogabwilhan III, insiden di Lapangan Terbang Ipdeheik, pekan lalu terjadi karena minimnya pos keamanan di sekitar lokasi.
Karenanya, kata Nas, penting bagi aparat keamanan, khususnya TNI untuk membangun pos keamanan di titik-titik rawan pedalaman Papua guna memastikan situasi, keamanan, dan ketertiban masyarakat terus berjalan kondusif.
Toh, dia menambahkan, rencana penambahan pos keamanan juga akan dikoordinasikan dengan gereja, tokoh masyarakat, dan tokoh adat. "Soal lokasi maupun jumlah personel masih dalam tahap perencanaan," ujar Nas.
Sebelumnya, Pangkogabwilhan III Letnan Jenderal Lucky Avianto mengatakan, setelah insiden penembakan pilot di Yahukimo, TNI berencana menambah pembangunan pos keamanan dan pasukan di wilayah-wilayah rawan konflik di Papua. Dia beralasan, penambahan ini dapat dilakukan dengan pertimbangan di wilayah yang menjadi TKP penembakan pilot merupakan salah satu wilayah yang minim keberadaan aparat keamanan.
"Pos terdekat dari wilayah itu berada sekitar 40 kilometer," kata Lucky di Pangkalan Udara Silas Papare, Jayapura, Jumat, 3 Juli 2026 dilansir dari Antara.
Rencana itu disoroti pegiat dan peneliti bidang keamanan. Profesor Pusat Riset Kewilayahan BRIN Cahyo Pamungkas mengatakan penerapan pendekatan keamanan dengan penambahan pos dan pasukan hanya akan memperpanjang rantai kekerasan di Papua. "Menambah pasukan non-organik ke Papua bukan solusi efektif untuk menghentikan konflik," kata Cahyo, Senin, 6 Juli 2026.
Ketua Komnas HAM Anis Hidayah berpendapat serupa. Dia meminta pemerintah mengambil langkah serius dalam upaya penuntasan konflik di Papua.
Ia mengatakan, lembaganya menyarankan agar pemerintah mengevaluasi pendekatan keamanan yang selama ini diterapkan. Sebab, pendekatan ini dinilai tak mampu untuk menuntaskan persoalan yang terjadi di Papua. "Pendekatan keamanan terbukti menimbulkan masalah dibanding menyelesaikan masalah, karena itu perlu dievaluasi," kata Anis.
Pada Kamis, 2 Juli 2026, pilot PT AMA berkebangsaan Amerika Serikat Nicholas F. Goselin dinyatakan tewas setelah mendaratkan pesawat di Lapangan Terbang Ipdeheik. TPNPB menyatakan bertanggung jawab terkait penembakan dan pembakaran pesawat itu.















































