MENTERI Koperasi Ferry Juliantono merespons tren video parodi Koperasi Desa Merah Putih yang kerap beredar di media sosial. Video-video tersebut menyoroti kebijakan kopdes, seperti pelatihan militer untuk manajer koperasi hingga penentuan lokasi yang dinilai tidak strategis, dan membungkusnya dalam bentuk humor.
Menurut Ferry, parodi satire adalah hal biasa di era media sosial. "Mereka sebenarnya maksudnya baik dan mereka mengingatkan bahwa ada yang perlu kita evaluasi," kata dia di Istana Kepresidenan Jakarta pada Selasa, 7 Juli 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Ferry berujar menerima tren parodi tersebut sebagai masukan. Pemerintah, ia menyampaikan, akan menjadikan kritik-kritik sebagai pertimbangan dalam memperbaiki kebijakan.
Di sisi lain, Ferry berkata, masyarakat harus melihat bahwa tidak semua Kopdes Merah Putih mengalami kondisi seperti yang dijadikan parodi. Contohnya, kata dia, tidak semua bangunan Kopdes berada di lokasi yang tidak strategis. "Itu kan hanya beberapa, tapi karena viral," ucapnya.
Kopdes Merah Putih adalah salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah mencanangkan Kopdes sebagai unit usaha di desa ataupun kelurahan dengan tujuan memperkuat ekonomi kerakyatan dan pemerataan di tingkat desa.
Namun, program ini tak luput dari kritik. Salah satu kontroversi muncul setelah lima calon manajer Kopdes meninggal dalam kegiatan pelatihan dasar kemiliteran yang wajib mereka ikuti.
Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan Taufanto mengatakan penyebab lima peserta meninggal memang berbeda-beda. Namun, instansinya telah menarik suatu kesimpulan mengenai faktor penyebabnya. "Pertama, karena kelelahan, kemudian perubahan pola hidup," kata Donny di Kompleks DPR, MPR, dan DPD, Rabu, 1 Juli 2026.
Menurut Donny, perubahan pola hidup turut berperan dalam insiden ini. Sebab, para peserta yang sehari-hari menjalani kehidupan di ruang sipil, secara tiba-tiba harus beradaptasi dengan pola kehidupan di barak militer.
Pola kehidupan di barak militer yang menuntut kedisiplinan inilah, kata dia, yang ditengarai memicu terjadinya insiden lima peserta meninggal karena tak siap atau kaget dengan adaptasi. "Selain itu, juga faktor cuaca," ujar Donny.
Penyebab lain, menurut Donny, yakni karena penyakit bawaan. Dalam proses seleksi, Kementerian Petahanan sejatinya telah melakukan proses asesmen kesehatan dengan hasil deteksi berada pada batas aman.
Lalu, dia melanjutkan, penyebab ketiga terkait dengan penyakit paru-paru. Donny berpendapat, dari lima peserta yang meninggal, dua di antaranya memiliki penyakit bawaan paru-paru.
"Ini yang menyebabkan ada kasus-kasus tertentu. Tetapi, kejadian ini mungkin disebabkan tadi, perubahan pola hidup maupun cuaca, sehingga menyebabkan kondisi peserta yang sudah terbatas berujung meninggal dunia," ucap Donny.
Lima peserta yang meninggal saat mengikuti kegiatan latsarmil adalah Nola Dya Sari, Novia Rahmadhani Sihotang, Anisa Muyassaroh, Yonanda Muhammad Taufiq, dan Muhammad Rifki Renaldi Gunawan.
Lokasi kopdes juga menjadi sorotan. Dalam sejumlah video yang viral, ada kopdes yang berdiri di sekitar lahan pemakaman, persawahan hingga di atas bukit.















































