KEMENTERIAN Perindustrian melaporkan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Juni 2026 turun sebesar 0,60 poin secara bulanan menjadi 52,90. Nilainya lebih rendah dibandingkan kepercayaan industri pada Mei 2026 sebesar 53,6. “Pada Juni tantangan (industri) tidak hanya produksi tapi permintaan,” kata juru bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arief, dalam rilis yang disiarkan daring, Selasa, 30 Juni 2026.
Febri menjelaskan, tantangan industri pada bulan keenam tidak hanya seputar kenaikan harga energi dunia dan melemahnya nilai tukar rupiah yang membuat harga bahan baku melonjak.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Lebih dari itu, Febri menjelaskan, tantangan industri bertambah akibat pemadaman listrik pada bulan keenam. Kondisi ini menyebabkan industri dan kawasan industri yang menggunakan listrik sebagai bagian produksi, menghentikan produksi mereka selama pemadaman berlangsung.
Selain pemadaman listrik, industri mengalami tantangan akibat kenaikan harga gas terutama yang berasal dari regasifikasi LNG. Namun, Febri menyatakan Kementerian Perindustrian mengapresiasi upaya DPR dan pemerintah menurunkan harga gas regasifikasi menjadi US$ 13 per MMBTU. Ia mengatakan penurunan harga merupakan angin segar bagi industri, terutama yang menggunakan gas sebagai bahan baku atau masuk ke dalam program HGBT.
Selain tantangan dari sisi industri, Febri mengatakan dunia usaha mengalami tantangan permintaan. Febri mengatakan, permintaan masih cukup tinggi pada Mei 2026 dan inflasi masih terkendali sehingga daya beli masyarakat terjaga terutama untuk membeli produk manufaktur.
Namun, pada Juni 2026, Febri menyatakan Kementerian Perindustrian mencermati kenaikan harga barang konsumsi rumah tangga. Kenaikan harga BBM nonsubsidi, kata Febri, ikut menggerus daya beli masyarakat. Kementerian Perindustrian mencermati pengeluaran masyarakat pengguna BBM nonsubsidi semakin berkurang, terutama untuk membeli produk manufaktur.
Dari segala tantangan, Febri menyatakan industri masih tahan banting, terutama ditopang permintaan domestik yang cukup besar. Kementerian Perindustrian memperkirakan daya beli terjaga.
Adapun belanja pemerintah terutama program prioritas seperti makan bergizi gratis, koperasi desa, implementasi B50, dan kampung nelayan akan meningkatkan permintaan produk manufaktur. “Itu menurut kami salah satu penopang meningkatnya permintaan domestik,” tuturnya.
Berdasarkan komponen pembentukan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Juni 2026, terdapat 22 subsektor yang ekspansi dan satu kontraksi. Puluhan subsektor ekspansi berkontribusi 98,6 persen terhadap total produk domestik bruto industri nonmigas pada kuartal I. Subsektor tertinggi adalah minuman dan pakaian jadi. Sementara yang terkontraksi ialah subsektor kulit, barang dari kulit, dan alas kaki.
Berdasarkan nilai variabel, pesanan baru melambat 0,12 poin menjadi 53.5. Variabel produksi pun 0,92 poin pada Juni 2026. Begitupun variabel persediaan produk yang turun 1,61 dan berada di zona kontraksi.
Berdasarkan orientasi pasar, Kementerian Perindustrian mencatat kinerja industri yang berorientasi domestik menurun 2,30 menjadi 51,16. Sementara industri yang berorientasi ekspor mengalami pertumbuhan 0,33 poin menjadi 54,06. Febri mengatakan, kenaikan kinerja ekspor dipengaruhi negara tujuan ekspor sedang mengalami pertumbuhan positif.















































