PENELITI Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mengungkap jejak tsunami Aceh 2004 yang masih tersimpan di dalam lapisan tanah menggunakan teknologi Laser-Induced Breakdown Spectroscopy (LIBS). Teknologi tersebut mampu mengidentifikasi karakteristik kimia endapan tsunami yang lebih komprehensif dibanding metode analisis geokimia konvensional.
Peneliti Ahli Muda di Pusat Riset Fotonika BRIN, Rara Mitaphonna, menjelaskan pemanfaatan teknologi LIBS termasuk dalam bagian upaya mitigasi bencana. Informasi mengenai lokasi, ketebalan, dan karakteristik endapan tsunami masa lalu dapat digunakan untuk merekonstruksi jangkauan gelombang tsunami, serta memperkirakan besarnya energi dan identifikasi wilayah dengan kerentanan tinggi.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Data tersebut dapat menjadi dasar dalam penyusunan peta bahaya tsunami, perencanaan tata ruang kawasan pesisir, hingga pengembangan strategi mitigasi bencana yang lebih baik,” kata Rara melalui keterangan tertulisnya pada Selasa, 7 Juli 2026.
Rara menyebut, tsunami yang menghantam Aceh pada akhir Desember 2024 dipicu oleh gempa bermagnitudo 9,1. Selain menyebabkan kerusakan dan korban jiwa yang sangat besar, bencana itu meninggalkan lapisan sedimen khas di wilayah pesisir. Material seperti pasir pantai, garam, cangkang organisme laut, mineral, lumpur, hingga material organik terbawa gelombang tsunami dan mengendap di daratan.
Seiring waktu, kata dia, lapisan tersebut tertutup oleh proses alami sehingga sulit dikenali hanya berdasarkan warna atau tekstur tanah. Untuk mengidentifikasi jejak tsunami tersebut, Rara dan tim mengambil sampel sedimen di Desa Pulot, Kabupaten Aceh Besar, salah satu wilayah yang terdampak paling parah tsunami 2004. Penelitian ini melibatkan Universitas Syiah Kuala dan hasilnya telah dipublikasikan dalam Microchemical Journal Volume 227, Artikel 118789 (2026).
Rara menjelaskan teknologi LIBS bekerja dengan menembakkan pulsa laser berenergi tinggi ke permukaan sampel tanah. Dalam hitungan mikrodetik, permukaan sampel berubah menjadi plasma bersuhu sangat tinggi yang memancarkan cahaya. Cahaya tersebut kemudian dianalisis untuk mengetahui unsur-unsur kimia penyusun sedimen. “Melalui cahaya yang dipancarkan plasma, kami dapat mengetahui unsur-unsur kimia yang terdapat pada setiap lapisan sedimen,” ucap Rara.
Menurut dia, setiap unsur memiliki spektrum cahaya yang unik sehingga dapat dikenali layaknya sidik jari. Berbeda dengan metode analisis kimia konvensional yang membutuhkan preparasi sampel cukup panjang, LIBS mampu mendeteksi banyak unsur sekaligus hanya dalam satu kali pengukuran tanpa proses pelarutan menggunakan bahan kimia.
Hasil penelitian menunjukkan lapisan endapan tsunami memiliki komposisi unsur yang berbeda secara signifikan dibandingkan lapisan tanah lainnya. Lapisan tsunami kaya akan natrium, kalsium, silikon, stronsium, dan barium, yang merupakan karakteristik material laut yang terbawa gelombang tsunami.
Sementara itu, lapisan tanah yang terbentuk sebelum tsunami lebih didominasi unsur besi, aluminium, dan mangan, sebagai hasil proses pelapukan alami tanah tropis. Perbedaan komposisi tersebut menjadi penanda geokimia yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi endapan tsunami secara lebih objektif.
“LIBS tidak hanya memberikan hasil yang cepat, tetapi juga mampu mendeteksi unsur-unsur ringan dan berbagai logam jejak secara bersamaan sehingga informasi geokimia yang diperoleh menjadi jauh lebih lengkap,” kata Rara.
Ke depan, Rara berharap pengembangan perangkat LIBS portabel bisa memungkinkan identifikasi endapan tsunami dilakukan langsung di lapangan tanpa harus membawa seluruh sampel ke laboratorium. Hal ini akan mempercepat survei geokimia untuk mendukung penelitian kebencanaan di berbagai wilayah Indonesia.
Rara menekankan teknologi laser dapat dimanfaatkan untuk membaca arsip alam yang tersimpan di dalam tanah. “Jejak tsunami yang selama ini tersembunyi kini dapat diungkap secara ilmiah sebagai bekal untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana serupa di masa depan,” ujarnya.















































