Rumahsakit hingga Hindia Warnai Sunset di Kebun 2026

3 hours ago 6

HAMPARAN tikar piknik menutupi area rumput Kebun Raya Bogor pada hari kedua Sunset di Kebun, Ahad, 10 Mei 2026. Sejak siang, ribuan penonton sudah memadati area festival sambil duduk santai di bawah rindangnya pepohonan.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Berbeda dari festival musik pada umumnya, tak terlihat kerumunan moshing maupun penonton yang saling berdesakan di depan panggung. Namun atmosfer festival tetap terasa hidup. Nyanyian penonton terus terdengar sejak siang hingga menjelang sore.

Area festival terlihat lebih padat dibanding hari pertama, terutama menjelang penampilan Rumahsakit, .Feast, Barasuara, hingga Hindia yang tampil bergantian sepanjang hari.

Rumahsakit Membuka Hari dengan Nuansa Nostalgia


Atmosfer festival mulai terasa hangat ketika Rumahsakit naik ke atas panggung pada siang hari. Lagu-lagu seperti “Duniawi”, “Panasea”, dan “Kuning” langsung membuat penonton ikut bernyanyi bersama sejak awal penampilan.

Beberapa penonton tampak duduk santai di bean bag, sementara sebagian lain menggelar tikar sambil menikmati teduhnya area Kebun Raya Bogor. Meski konsep festival dibuat lebih tertib dengan area duduk, energi penonton tetap terasa sepanjang penampilan.

Tak sedikit pula penggemar Rumahsakit yang datang dari luar kota demi menyaksikan penampilan band tersebut di Sunset di Kebun.

Bagi Rumahsakit sendiri, suasana festival kali ini terasa berbeda dibanding panggung-panggung yang biasa mereka jalani. “Biasanya penonton lebih aktif, loncat-loncat, angkat-angkatan. Kalau hari ini lebih santai, duduk di bean bag. Jadi vibes-nya beda banget, lebih kalem,” ujar bassist Rumahsakit, Shandy Adam atau kerap disapa Sadam, seusai penampilan.

Menurut mereka, festival ini juga terasa menarik karena tak hanya menawarkan konser musik. “Tadi habis manggung kita dikasih hadiah yang berkaitan sama penghijauan dan ekosistem. Itu jarang banget terjadi. Jadi acara seperti ini bukan cuma soal konser dan hura-hura aja, tapi ada pesan ‘for the earth’-nya juga,” ujar drummer Rumahsakit, Fadhli Wardana.

.Feast Buat Area Duduk Tetap Bergemuruh


Memasuki sore hari, area festival berubah semakin riuh ketika .Feast naik ke atas panggung. Meski sebagian besar penonton tetap duduk di atas tikar piknik, koor massal langsung memenuhi area festival sejak lagu pertama dimainkan. Beberapa penonton mulai berdiri di area pinggir sambil bernyanyi dan menggerakkan badan mengikuti irama lagu.

Interaksi para personel .Feast menjadi salah satu momen yang paling mencuri perhatian sore itu. Gitaris Adnan Denan beberapa kali turun menghampiri penonton, sementara bassist Fikriawan dan gitaris Diki Renanda ikut memancing sorakan lewat aksi mereka di atas panggung.

Area duduk yang semula tenang perlahan berubah menjadi lautan nyanyian massal. Di tengah konsep festival yang santai dan tertib, penampilan .Feast tetap menghadirkan energi yang terasa meledak.

Barasuara Buat Penonton Larut Bernyanyi


Menjelang sore, Barasuara mengambil alih panggung dan kembali menghidupkan atmosfer festival lewat lagu-lagu mereka. Momen paling terasa ketika lagu “Terbuang Dalam Waktu” dimainkan. Lagu yang sempat menjadi soundtrack film Sore: Istri dari Masa Depan itu membuat penonton ikut bernyanyi bersama hampir di seluruh area festival.

Beberapa orang terlihat mengangkat tangan sambil mengikuti lirik lagu dari awal hingga akhir. Di tengah udara sore yang mulai terasa dingin, ribuan suara penonton justru membuat suasana semakin hangat.

Menunggu Hindia di Tengah Langit Mendung


Langit Kebun Raya Bogor mulai berubah mendung ketika penampilan Hindia semakin dekat. Sebagian penonton mulai mengenakan jas hujan, sementara sebagian lain memilih tetap duduk sambil menatap panggung yang mulai diselimuti awan gelap.

“Ini udah mau hujan, udah mendung, tapi aku tetep nungguin Hindia tampil,” ujar Risma, 23 tahun, penonton asal Jakarta. Tak lama setelah itu, hujan benar-benar turun.

Namun, tak banyak penonton yang beranjak pergi. Sebagian tetap duduk di atas tikar piknik yang mulai basah. Sebagian lain justru berdiri di pinggir area festival sambil bernyanyi di bawah hujan.

Ketika lagu-lagu Hindia mulai dimainkan, suasana berubah semakin emosional. Lampu panggung yang menyala samar di tengah hujan, ditambah suara penonton yang ikut bernyanyi bersama, membuat suasana tetap hangat meski udara sore mulai terasa dingin.

Momen itu semakin berkesan ketika Baskara Putra, sosok di balik Hindia, ikut hujan-hujanan bersama para penonton yang bertahan hingga akhir penampilannya.

Hujan yang turun menjelang penutupan acara tak membuat penonton beranjak. Mereka tetap bertahan bernyanyi bersama hingga akhir, menjadikan hari kedua Sunset di Kebun bukan sekadar konser musik, melainkan pengalaman bersama yang dipenuhi lagu, hujan, dan orang-orang yang memilih menikmati momen itu hingga selesai.
 
GHAEIZA KAY RASUFFI

Read Entire Article
Parenting |