SENIMAN Vincent Rumahloine menghelat pameran tunggal berjudul Tercerabut di Tjap Sahabat Cultural Hub & Gallery, Bandung yang berlangsung sejak 23 April hingga 17 Mei 2026. Pada pameran itu, ia menampilkan empat karya berupa lukisan, video, dan instalasi yang menyoroti isu lingkungan, budaya, serta politik.
“Narasi pada semua karya ini saling terangkai,” katanya saat ditemui Tempo di galeri, Ahad 3 Mei 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Alurnya dimulai dari karya instalasi media elektronik berupa tulisan berjalan yang ditampilkan menggunakan lampu LED (Light Emitting Diode). Judulnya sama seperti teks yang lewat berulang-ulang pada kotak elektronik berbentuk balok panjang dengan ukuran 200x11x20 sentimeter, yaitu; Apakah saudara setuju dengan rezim yang baru?
Menurut Vincent karya itu bagian dari proyek artistik jangka panjangnya dengan judul "Don't Call Me Hero" yang mendokumentasikan hidup keseharian para eksil asal Indonesia di Jerman dan Republik Ceko. Narasi di balik karya itu terinspirasi dari wawancaranya dengan seorang eksil di Praha sekitar 2018-2019.
“Dia cerita bagaimana jawaban dari sebuah pertanyaan tunggal itu dapat mencabut kewarganegaraan, keluarga, dan Tanah Air seseorang secara paksa,” ujarnya
Pada karya kedua, Vincent memajang lukisan berukuran jumbo yakni 3x6 meter berjudul Arsip Antroposen. Dia sengaja memesan gambar itu ke para pelukis di Kampung Jelekong, Kabupaten Bandung, yang terbiasa melukis bergaya mooi indie atau pemandangan elok Indonesia. Detil karya seperti campuran warna kuning dipertahankan sesuai kekhasan lukisan Jelekong. Narasinya menggambarkan keindahan alam yang dirusak oleh manusia.
“Dengan ukuran yang mendominasi ruang, saya ingin setiap orang yang berdiri di depannya tidak hanya menjadi penonton atau audiens, tetapi menjadi bagian dari karya itu sendiri,” ungkap Vincent.
Dua karya lainnya berupa video berjudul Kemasukan Kuda terangkai dengan instalasi kuda lumping. Menurutnya karya itu terinspirasi dari kesenian tradisional di lingkungan tempat tinggalnya selama tiga tahun terakhir. Pada kuda lumping dia mengamati soal ritual yang seperti bisa memindahkan para pemain dari alam nyata sementara waktu. Ada pun pada karya terakhirnya yang berjudul mencari Oei Kiok Nio dalam format video, Vincent berupaya merangkai sejarah sang tokoh yang menulis buku resep lawas makanan Eropa dan Nusantara dalam bahasa Belanda.
ANWAR SISWADI

















































