SUKOHARJO selama lebih dari satu dekade menjadi salah satu basis kuat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Jawa Tengah. Di balik stabilnya kekuasaan politik itu, ada nama Wardoyo Wijaya yang selama dua periode memimpin kabupaten Sukoharjo.
Setelah masa kepemimpinan Wardoyo Wijaya berakhir, panggung politik Sukoharjo tidak benar-benar lepas dari lingkaran kekuasaannya. Etik Suryani, istrinya, muncul sebagai penerus yang kemudian menduduki kursi bupati.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Etik tidak datang dari jalur politik partai sejak awal. Sebelum terjun ke pemerintahan, ia dikenal sebagai pekerja perbankan. Ia menghabiskan hingga puluhan tahun berkarier di sektor keuangan sebelum namanya lebih dikenal publik Sukoharjo saat mendampingi aktivitas sosial pemerintahan sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Sukoharjo ketika Wardoyo menjabat bupati.
Berdasarkan laman resmi Pemkab Sukoharjo, Etik lahir di Surakarta, 15 Maret 1963. Etik merupakan lulusan sarjana ekonomi di Universitas Surakarta pada 2010 dan melanjutkan karir pendidikannya di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Adi Unggul Bhirawa Surakarta dengan memperoleh gelar magister manajemen pada 2018.
Sebelum menjajal karir di politik, Etik pernah bekerja di Bank Bumi Arta Tbk selama 27 tahun sejak 1983-2010. Dalam periode tersebut, Etik juga mengikuti pendidikan dan pelatihan lokakarya kepemimpinan supervisor bagian A dan B pada 1995.
Posisi sebagai pendamping kepala daerah membuat Etik memiliki ruang untuk membangun jaringan sosial. Ia terlibat dalam berbagai program pemberdayaan keluarga, kesehatan masyarakat, serta kegiatan perempuan. Peran tersebut menjadi modal sosial ketika ia kemudian masuk dalam kontestasi politik lokal.
Pada Pilkada Sukoharjo 2020, Etik maju sebagai calon bupati dengan dukungan PDIP. Ia berpasangan dengan Agus Santosa yang berlatar belakang aparatur sipil negara (ASN) dan pernah menjabat sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Sukoharjo.
Etik-Agus memenangkan pemilihan setelah mengungguli rival mereka, yaitu pasangan Joko Santosa-Wiwaha Aji. Kemenangan itu membuat Etik menjadi perempuan pertama yang menjabat sebagai Bupati Sukoharjo.
Kepemimpinan Etik tidak bisa dilepaskan dari pengaruh politik Wardoyo Wijaya. Selama menjabat bupati pada 2010-2021, Wardoyo yang juga merupakan Ketua DPC PDIP Kabupaten Sukoharjo membangun basis politik yang kuat melalui mesin partai dan jaringan pemerintahan. Ketika masa jabatannya berakhir, Etik menjadi figur yang meneruskan pengaruh politik tersebut.
Pada Pilkada Sukoharjo 2024, Etik kembali maju untuk periode kedua. Kali ini ia berpasangan dengan Eko Sapto Purnomo yang merupakan kader Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Pasangan tersebut menjadi satu-satunya peserta setelah tidak memiliki lawan sehingga harus menghadapi kotak kosong. Hasil pemungutan suara kembali mengantarkan Etik memimpin Sukoharjo untuk periode 2025-2030.
Selama memimpin Sukoharjo, Etik membawa sejumlah agenda pemerintahan yang berfokus pada pelayanan publik, pembangunan infrastruktur, pengentasan kemiskinan, hingga penguatan sektor ekonomi masyarakat. Ia juga beberapa kali tampil dalam kegiatan pemerintahan bersama jajaran organisasi perangkat daerah dan berbagai kelompok masyarakat.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan operasi tangkap tangan di Sukoharjo pada Kamis, 9 Juli 2026. Dalam operasi tersebut, Etik turut terjaring bersama sejumlah pihak yang kemudian diamankan dan menjalani pemeriksaan.
Juru Bicara KPK Budi Prasetyo mengkonfirmasi bahwa KPK melakukan kegiatan penyelidikan tertutup dan terjadi peristiwa tertangkap tangkap di wilayah Soloraya, Jawa Tengah.
Melalui pesan WhatsApp yang dikirimkan kepada Tempo, Jumat, 10 Juli 2026, Budi menyampaikan bahwa dalam peristiwa tertangkap tangan ini, tim mengamankan sejumlah lima orang, salah satunya Bupati Sukoharjo.
Para pihak kemudian dilakukan pemeriksaan awal di Polresta Surakarta, dan pagi ini akan dibawa ke Jakarta untuk pemeriksaan lebih lanjut. "Adapun perkara ini terkait dugaan pemerasan oleh bupati kepada para perangkat daerah di Kabupaten Sukoharjo," kata Budi.
Sementara itu, seusai terjaring dalam OTT KPK, Etik menjalani pemeriksaan di Kepolisian Resor Kota (Polresta) Surakarta pada Kamis malam. Saat selesai, Etik tidak memberikan tanggapan atau menjawab pertanyaan yang diajukan awak media yang menunggu selama proses pemeriksaan. Etik juga sempat menghindari dan bergegas menuju sebuah bus di depan gedung 1 Mapolresta Surakarta.
Etik bersama sejumlah pejabat lainnya itu kemudian naik ke dalam bus tersebut dengan pengawalan aparat. Rombongan meninggalkan Mapolresta Surakarta sekitar pukul 05.50 WIB menuju Jakarta untuk menjalani pemeriksaan lanjutan.















































