PENJAGAAN ketat masih terlihat di depan Gedung Direktorat Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya atau Polda Metro Jaya pada Jumat, 10 Juli 2026. Pengondisian itu dilakukan setelah satuan tersebut melakukan penggeledahan di belasan lokasi terkait tiga kasus korupsi berbeda.
Berdasarkan pantauan Tempo, tampak sekitar lima hingga sepuluh personel Korps Brigade Mobil atau Brimob dengan seragam lengkap berjaga di depan gedung. Beberapa dari mereka juga terlihat hilir-mudik dengan senjata lengkap.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Di lapangan utama dekat pintu masuk, sejumlah kendaraan taktis milik kepolisian juga terlihat diparkir. Sementara itu, sejumlah papan bunga yang bertuliskan dukungan untuk institusi Polri juga terlihat di beberapa titik di Markas Polda Metro Jaya.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Budi Hermanto mengakui ada protokol keamanan yang kini diperketat. "Pasti dilakukan karena barang bukti itu disimpan di Polda Metro Jaya," kata Budi kepada wartawan pada Jumat dini hari, 10 Juli 2026.
Menurut Budi, pihaknya harus memastikan agar seluruh barang bukti hasil penggeledahan terkait tiga perkara korupsi dalam kondisi aman. "Tidak boleh hilang, tidak boleh rusak," ujar Budi.
Budi mengatakan, pengetatan pengamanan juga dilakukan untuk memastikan pemeriksaan saksi dalam perkara itu lancar. Pengamanan baru akan normal kembali setelah semua proses hukum kasus tersebut dinyatakan tuntas.
Sebelumnya, puluhan anggota TNI secara tiba-tiba mendatangi Markas Polda Metro Jaya pada Kamis dini hari, 9 Juli 2026. Peristiwa itu terjadi setelah polisi menggeledah sebuah kafe dan rumah mewah yang berkaitan dengan tiga kasus korupsi berbeda pada Rabu, 8 Juli 2026. Tiga kasus tersebut yakni dugaan tindak pidana pencucian uang atau TPPU dan suap di PT Asabri, lalu korupsi pasokan batu bara yang menyebabkan padamnya listrik atau blackout di Sumatera, serta korupsi di PT Krakatau Steel
Sejumlah saksi mata mengaku melihat puluhan anggota TNI berada di dalam kompleks Polda Metro Jaya sekitar pukul 03.40 WIB. Berdasarkan pantauan Tempo pada pukul 09.00 WIB, sejumlah kendaraan dinas TNI berpelat hijau-merah juga terpantau hilir mudik di depan Gedung Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya.
Berdasarkan informasi yang diperoleh Tempo dan dibenarkan dua petinggi Polri, kedatangan puluhan prajurit itu dikomandoi oleh Direktur C Badan Intelijen Strategis atau Bais TNI Brigadir Jenderal Wahyo Yuniartoto. Wahyo pernah menjabat sebagai ajudan Presiden Prabowo Subianto pada 2024.
Selain Wahyo, ada pula nama Brigadir Jenderal Anggiat Napitupulu dari Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) yang dikabarkan juga mendatangi Markas Polda Metro Jaya. Dia datang bersama sepuluh prajurit berseragam dan bersenjata serta lima personel kejaksaan yang mengenakan pakaian sipil.
Kepala Pusat Penerangan TNI Brigadir Jenderal Muhammad Nas membantah informasi terkait dugaan penggerudukan tersebut. "Saya sudah cek, informasi tersebut tidak benar," kata Nas saat dihubungi pada Kamis, 9 Juli 2026.
Nas juga membantah adanya intervensi dari institusinya terhadap proses hukum yang kini sedang berlangsung di Polda Metro Jaya. "TNI menghormati proses hukum dan tidak intervensi terhadap mekanisme yang berlaku," kata dia.















































