IRAN mengancam akan kembali menutup Selat Hormuz jika blokade angkatan laut Amerika Serikat terus berlanjut. Menurut laporan Fars News yang berafiliasi dengan Garda Revolusi Iran (IRGC), ancaman itu muncul karena Teheran menilai blokade tersebut sebagai pelanggaran kesepakatan gencatan senjata.
Seperti dilansir dari media oposisi Iran International, sumber yang dekat dengan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyebutkan Iran semula menyetujui pembukaan terbatas Selat Hormuz. Keputusan ini sebagai bagian dari rencana gencatan senjata yang dimediasi Pakistan.
Dalam skema itu, sejumlah kapal diizinkan melintas setiap hari. Namun kebijakan tersebut dihentikan setelah gencatan senjata tidak diterapkan di Libanon dan tak mencakup Hizbullah serta Israel.
Pembukaan Bersyarat Selat Hormuz
Iran kemudian kembali membuka Selat Hormuz setelah gencatan senjata diberlakukan di Libanon, dengan sejumlah syarat.
Sumber tersebut menyatakan, “Kapal harus bersifat komersial. Kapal militer dilarang melintas, dan kapal ataupun muatannya tidak boleh terkait dengan negara yang bermusuhan. Kapal harus melalui jalur yang ditentukan Iran dan pelayaran harus dikoordinasikan dengan pasukan Iran yang mengatur lalu lintas.”
Pernyataan ini menunjukkan bahwa Iran tetap mempertahankan kendali ketat atas jalur pelayaran strategis tersebut.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan jalur pelayaran itu “sepenuhnya terbuka” bagi kapal komersial.
Pernyataan itu disampaikan setelah gencatan senjata diperluas ke Libanon, wilayah yang menjadi lokasi serangan Israel terhadap sekutu Iran.
Namun sikap tersebut berubah dalam waktu singkat.
Seperti dilansir dari USA Today, pada Jumat, 17 April 2026, Ketua Parlemen Iran Mohammad B. Ghalibaf menyatakan Iran dapat kembali menutup Selat Hormuz jika blokade tetap diberlakukan.
“Dengan berlanjutnya blokade, Selat Hormuz tidak akan tetap terbuka,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Pembukaan dan penutupan selat itu serta ketentuan yang mengaturnya akan ditetapkan di lapangan, bukan oleh media sosial.” Pernyataan itu disampaikan hanya beberapa jam setelah Araghchi menyebutkan jalur tersebut terbuka untuk perdagangan.
Amerika Serikat Pertahankan Blokade
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa blokade terhadap pelabuhan Iran tetap diberlakukan penuh.
Trump juga menyatakan kesepakatan gencatan senjata dengan Iran bisa berakhir pekan depan jika tidak tercapai kesepakatan untuk mengakhiri perang hingga Rabu, 22 April 2026.
Sebelumnya Trump menyambut pembukaan Selat Hormuz.
Namun, beberapa menit kemudian, ia menekankan bahwa blokade Angkatan Laut AS tetap berjalan. “Sampai kesepakatan kami dengan Iran benar-benar selesai 100 persen,” demikian ditulis Trump di akun Truth Social.
















































