ADMINISTRATOR Lembaga Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) Jared Isaacman mengungkap rencana negaranya membangun reaktor nuklir pertama di permukaan bulan. Kehadiran fasilitas ini bertujuan mendukung misi eksplorasi selanjutnya untuk mendirikan pangkalan pesawat antarplanet bertenaga nuklir yang diproyeksikan rampung pada 2028 mendatang.
Isaacman mengatakan pesawat ini bernama Space Reactor-1 Freedom atau disingkat SR-1. “Setelah puluhan tahun penelitian dan miliaran dolar dihabiskan, Amerika akhirnya akan memulai pengembangan tenaga nuklir di luar angkasa,” katanya dikutip dari MIT Technology Review pada 14 April 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Pengumuman untuk membangun reaktor nuklir perdana di bulan tersebut terungkap setelah NASA berhasil menjalankan misi Artemis II yang menerbangkan empat astronot mereka pada 1-10 April 2026. Isaacman mengatakan misi tersebut sebagai babak pembuka untuk eksplorasi ruang angkasa antarplanet yang lebih mumpuni selanjutnya.
Secara tradisional, penerbangan ruang angkasa ditenagai oleh roket berpropulsi kimia, yakni campuran hidrogen cair dan oksigen cair. Gas buang yang sangat panas dari ledakan campuran itu yang kemudian mendorong roket ke angkasa.
Menurut ahli teknologi nuklir dari Analytical Mechanics Associates, Lindsey Holmes, propulsi kimia memang menawarkan daya dorong yang signifikan untuk mendukung misi penerbangan pesawat ruang angkasa. Tapi, kata dia, propulsi nuklir akan memungkinkan wahana antariksa untuk terbang melintasi tata surya jauh lebih lama dan lebih cepat daripada yang saat ini mungkin dilakukan.
Holmes menyatakan bahan bakar nuklir jauh lebih padat energi daripada bahan bakar konvensional dari bahan kimia. “Efisiensinya sangat, sangat, dan sangat tinggi,” katanya.
Terlepas dari perbedaan operasional, prinsip dasar pengoperasian reaktor nuklir di luar angkasa hampir sama dengan di bumi. Pertama, siapkan bahan bakar uranium; kemudian bombardir bahan bakar tersebut dengan neutron. Bombardir itu akan merusak inti atom uranium yang tidak stabil, yang kemudian mengeluarkan sejumlah besar neutron tambahan—dan dengan cepat meningkat menjadi reaksi fisi nuklir yang sangat panas dan berkelanjutan. Panas yang dihasilkan kemudian dapat digunakan untuk menghasilkan listrik.
















































