AKTIVIS perempuan Kalis Mardiasih mengaku mengalami intimidasi setelah vokal mengkritik pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG). Bentuk tekanan itu, kata dia, tidak hanya menyasar dirinya di media sosial, tetapi juga merembet ke keluarganya.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Intimidasi mulai terjadi setelah Kalis mengunggah kritik soal kasus keracunan massal akibat MBG di sejumlah daerah.
“Saya speak up, saya menulis di Instagram dan Facebook. Yang terjadi, keponakan saya dihubungi gurunya, ditanya ‘kamu keponakannya Kalis Mardiasih ya?’,” kata Kalis dalam diskusi Diskusi Publik: Makan Bergizi Gratis dan Pendidikan dalam rangka Hari Pendidikan Nasional, yang diselenggarakan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) secara daring pada Senin, 4 Mei 2026.
Bagi Kalis, peristiwa itu merupakan bentuk teror. Kalis menilai respons tersebut menunjukkan adanya tekanan terhadap keluarga karena ia menyampaikan kritik di ruang publik. Kalis merasa keluarganya telah ditandai hanya karena Kalis mengkritik program MBG di media sosial.
Padahal, di tengah maraknya kasus keracunan akibat MBG, dia mengharapkan adanya upaya pernyataan keprihatinan atau permintaan maaf dari pemerintah. Dia juga mengharapkan agar ada langkah yang dilakukan agar hal itu tak terjadi lagi.
Kalis dikenal sebagai bagian dari kelompok masyarakat sipil “Suara Ibu Indonesia” di Yogyakarta. Kelompok ini sempat melakukan aksi simbolik “gebrak panci” di kawasan Universitas Gadjah Mada pada pertengahan 2025 sebagai bentuk protes atas kasus keracunan massal di Bandung Barat yang kala itu mencapai hampir 2.000 korban.
Menurut Kalis, hingga hampir setahun berlalu, tidak ada kejelasan mekanisme evaluasi maupun pertanggungjawaban atas kasus-kasus tersebut. “Kami tidak pernah mendengar ada satu nama pun yang dimintai pertanggungjawaban,” kata dia.
Ia juga mengungkapkan, kasus serupa tidak hanya terjadi di Bandung Barat, tetapi juga di sejumlah daerah lain seperti Blora, Pati, Kudus, Grobogan, hingga Yogyakarta. Bahkan, kata dia, keponakannya sendiri sempat menjadi korban dugaan keracunan dan harus dirawat di rumah sakit.
Namun, alih-alih ada pengakuan resmi, Kalis menilai sejumlah pihak justru cenderung menyangkal. “Dibilang bukan keracunan, hanya diare. Padahal itu bagian dari reaksi keracunan makanan,” ujarnya.
Selain soal dugaan intimidasi, Kalis juga mengkritik desain dan tata kelola program MBG. Ia menilai tidak ada mekanisme pengawasan yang jelas, baik dari sisi keamanan pangan maupun distribusi. Hal ini, menurut dia, menimbulkan kekhawatiran di kalangan orang tua.
“Sebagai ibu, harusnya anak berangkat sekolah dengan rasa aman. Tapi sekarang justru ada kekhawatiran karena program ini,” kata dia.
Tempo telah meminta tanggapan dari Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana soal dugaan intimidasi yang dialami oleh Kalis. Namun, hinggga berita ini ditulis, Dadan belum memberikan tanggapan.

















































