Kiprah Detektor Tsunami Pumma di Perairan Indonesia

1 hour ago 6

DETEKTOR tsunami yang dinamakan Perangkat Ukur Murah untuk Muka Air Laut atau Pumma buatan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah beroperasi selama enam tahun di sekitar Selat Sunda.

Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Semeidi Husrin, mengatakan fungsi Pumma untuk mendeteksi anomali gelombang laut seperti entakan akibat tsunami. “Kalau pasang surut itu gelombangnya panjang, sedangkan gelombang tsunami bisa meloncat atau melonjak sendiri,” katanya kepada Tempo seusai paparan webinar terkait Hari Bumi, Rabu 22 April 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Menurut Semeidi, Pumma disebut murah karena harganya berkisar Rp 60-80 juta. “Sangat murah sekali dibandingkan dengan teknologi serupa seperti misalnya off shore buoy yang harganya bisa Rp 6-10 miliar per unit,” ujarnya.

Pumma terdiri dari panel surya, sensor sistem radar, micro controller, Internet of Things, dan dilengkapi kamera pemantau (CCTV) untuk validasi visual. Ketika sensor mendeteksi tsunami, informasinya dikirim ke aplikasi tim peneliti untuk kemudian diteruskan ke pihak yang berwenang. 

Pemasangan Pumma menyusul kejadian tsunami akibat letusan Gunung Anak Krakatau pada akhir 2018. Semeidi mengatakan kini ada tiga unit Pumma alias Inexpensive Device for Sea Level (IDSL) yang aktif dan berjaringan di sekitar Selat Sunda, yaitu di perairan sekitar Pulau Rakata dan Pulau Sebesi daerah Lampung, serta Marina Jambu di Banten.

Selain itu, Pumma juga dipasang di perairan wilayah Pandeglang, Pangandaran, Sukabumi, Sadeng, Malang, dan Teluk Bungus di Padang pada kurun 2020-2021, namun sementara ini dinonaktifkan. 

Semeidi mengatakan Pumma di pesisir selatan sepanjang Pulau Jawa dan pantai barat Sumatera itu diproyeksikan untuk mendukung peringatan dini tsunami dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Sistem peringatan dini Pumma dirancang agar bisa secara otomatis mengaktifkan sirine sebagai langkah cepat agar penduduk menyelamatkan diri. Metode itu dinilai sebagai solusi dari masalah pembunyian sirine peringatan tsunami secara manual oleh orang.

Berdasarkan hasil studi proyek risiko tsunami BRIN dengan Jerman, dari 21 kejadian tsunami sejak 2004, hampir seluruh peringatan dini tsunami di level komunitas pesisir tidak berfungsi dengan baik. “Tapi kendala besarnya, aturan di Indonesia itu tidak boleh sirine menyala secara otomatis,” katanya.

Sebelum dinonaktifkan, menurut Semeidi, Pumma sempat mendeteksi tsunami dangkal yang sampai ke wilayah Indonesia akibat letusan Gunung Hunga Tonga-Hunga Ha'apai di Tonga, negara kepulauan di Pasifik Selatan pada 15 Januari 2022. “Warning terkirim ke BMKG sebanyak 36 kali pada malam hari,” ujarnya.

Berbeda dengan tsunami Selat Sunda yang berasal dari longsoran material ke laut saat erupsi Gunung Anak Krakatau, tsunami Tonga berasal dari atmosfer yang menekan air laut akibat ledakan kuat gunung, kemudian menjalar pesat dengan kecepatannya 300-an kilometer per jam. 

Semeidi mengatakan ada beberapa mekanisme tsunami vulkanik, yaitu dari letusan gunung api di laut, longsoran material gunung api laut dari bagian atas atau di bawah, tekanan atmosfer ke air laut akibat letusan besar gunung api, dan runtuhan kaldera. Pumma, menurutnya, dibuat untuk mengisi kekosongan alat peringatan dini tsunami akibat aktivitas gunung api di laut seperti itu.

Sesuai aturan dan kewenangannya, peringatan kondisi gunung api di Indonesia dikeluarkan oleh Badan Geologi, sementara BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami berdasarkan gempa tektonik. “Sejak dipasang, data yang dihasilkan Pumma dikoordinasikan dan diserahkan ke BMKG,” ujarnya.

Pada tsunami Selat Sunda 22 Desember 2018 yang disebabkan oleh longsoran akibat aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau, BMKG mengakui tidak mampu mendeteksi tsunami yang terjadi.

Karena itu, menurut Pelaksana Tugas Direktur Gempa Bumi dan Tsunami Rahmat Triyono, BMKG mengembangkan sistem peringatan dini tsunami nontektonik (InaTNT) dengan mengintegrasikan data pengukur pasang surut air laut, buoy, HF radar, IDSL, dari berbagai pihak, termasuk pantauan kondisi gunung api laut. “Kejadian Selat Sunda jangan sampai ada tsunami tanpa peringatan,” katanya saat dihubungi, Rabu 23 April 2026. 

Di perairan lain, kata Rahmat, BMKG memasang jaringan sensor tsunami gate pada garis pantai atau pelabuhan. Mekanismenya, jika ada tiga titik sensor yang berjauhan lokasinya mendeteksi perubahan muka air laut, maka sistem akan mengeluarkan alarm.

“Sebetulnya kalau alat mencatat pun kemungkinan tsunami sudah sampai, tapi paling tidak kita mengetahui disebabkan oleh apa,” ujarnya. Rahmat mengatakan sistem peringatan dini tsunami di sekitar Gunung Anak Krakatau merupakan yang pertama di dunia untuk mendeteksi tsunami akibat nontektonik. 

Read Entire Article
Parenting |