Palari Films Bikin Film Bareng 2 Sutradara Singapura

9 hours ago 10

PALARI Films akan menjalin ko-produksi internasional pada Mei 2027 melalui proyek film Strange Root (Keinginan), dengan sutradara sekaligus penulis film asal Singapura Lam Li Shuen dan Mark Chua. Film ini merupakan ko-produksi dengan 13 Little Pictures, Singapura, dengan Indonesia, Jerman, Belanda, dan Filipina.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Li Shuen menuturkan cerita film berlatar di Singapura abad ke-11, dengan genre body horror mitologis. Dunia yang dihadirkan adalah semesta spekulatif di Kepulauan Singapura pada zaman Sriwijaya. “Karena Singapura sangat kecil, kami tidak benar-benar memiliki lokasi yang sesuai. Jadi Indonesia menjadi tempat terbaik bagi kami untuk melakukan syuting film ini,” katanya kepada Tempo di Museum Macan, Jakarta, Selasa, 2 April 2026.

Li Shuen dan Chua bisa bekerjasama dengan Palari Films karena mengenal produser Meiske Taurisia saat mengikuti program untuk penulis naskah, sutradara, dan produser MyLab Film di Jogja-NETPAC Asian Film Festival pada 2023 lalu. Saat itu, Meiske menjadi mentor mereka. “Dari sana, saya rasa kami menjadi teman baik. Itulah awal mula kolaborasi ini terjadi,” ucap Li Shuen.

Produser Meiske Taurisia mengatakan cerita Strange Root ada hubungannya dengan Asia Tenggara secara menyeluruh meski mereka berdua dari Singapura. Apalagi, kedua sutradara itu memutuskan untuk syuting di Indonesia sehingga tepat bekerjasama dengan Palari Films. “Artinya otomatis ada pemain dari Indonesia, bahasa Indonesia, dan kru juga. Karena itu mereka menawarkan filmnya ke Palari Films untuk bisa syuting di Indonesia dan ditayangkan di Indonesia,” ungkapnya.

Proses Pengembangan Film

Li Shuen menuturkan film panjang ini akan mulai proses syuting pada Mei 2027, dengan persiapan yang sudah mulai dikerjakan dari sekarang. “Kami telah mengembangkan proyek ini selama lebih dari dua tahun. Saat ini kami banyak berfokus pada pembangunan dunia dari semesta cerita ini, yang merupakan hal yang sangat penting bagi kami,” ujar Li Shuen.

Hal itu berangkat dari pembangun cerita tentang seorang setengah dewa yang lahir dari umbi keladi. “Ia memiliki benjolan yang tumbuh di lehernya. Orang-orang di pulau tersebut dapat memakan bagian dari lehernya,” kata Li Shuen.

Chua menimpali, dalam proses pengembangan sejauh ini, mereka berfokus pada pembangunan dunia dan membuat semacam uji coba awal, karena berupaya menciptakan sebuah semesta. “Jadi, kami membuat video game, pameran, untuk mengeksplorasi semesta ini. Kami berharap semesta ini bisa berkembang bersama filmnya. Jadi tidak hanya berhenti pada film, mungkin akan ada film berikutnya dan bisa jadi video game,” tuturnya.

Makna Genre Body Horror

Li Shuen menuturkan alasan dirinya dan suaminya memilih genre body horror spekulatif karena semangat menciptakan mitologi baru yang terinspirasi dari mitologi Asia Tenggara. “Jadi, kami memadukan mitologi dan body horror untuk membayangkan ulang sejarah pra-kolonial pulau kami. Dengan begitu, kami bisa menggunakannya untuk memikirkan siklus kekuasaan dan obsesi di kawasan kami,” ucapnya.

Selain itu, kata Chua, pasangan itu kerap bercanda bahwa mereka bertemu secara sinematik di ruang operasi, karena keduanya punya banyak pengalaman berada di ruang operasi. “Hal itu menjadi inspirasi yang agak aneh tentang bagaimana kami mengeksplorasi diri sendiri, dan dari bawah kulit kami,” katanya.

Bagi Li Shuen, body horror juga merupakan cara mereka melihat realitas sekitar. “Dan untuk merefleksikan kengerian dalam kehidupan nyata melalui kengerian dalam sinema,” tuturnya.

Sinopsis Strange Root

Pada Singapura abad ke-11, Akshat, seorang demi-dewa yang lahir dari umbi keladi, selama bertahun-tahun menjadi tubuh yang dipersembahkan, daging sucinya disantap secara ritual oleh para penghuni pulau. Namun ketika seekor makhluk asing yang misterius terdampar di pesisir, para warga meninggalkan Akshat sepenuhnya. Yang tersisa hanyalah Bidu, seorang buangan licik yang tetap memakan tubuh Akshat, sembari mengaduk kekacauan di sekeliling mereka demi kepentingannya sendiri. 

Terperangkap dalam pengkhianatan, rasa sepi, dan hasrat yang membusuk, Akshat perlahan tenggelam ke dalam kegilaan dan kecemburuan-meluncur menuju sebuah konfrontasi yang brutal sekaligus erotik, di mana batas antara dewa dan binatang luluh.

Read Entire Article
Parenting |