COUNTRY Director Indonesia Google Cloud Karim Siregar memperkirakan pemanfaatan akal imitasi (AI) berpotensi menghasilkan nilai ekonomi hingga Rp 200 triliun di Indonesia. Nilai tersebut merupakan kontribusi ekonomi dari penggunaan AI dan bukan pendapatan langsung.
“Di Indonesia kalau kita ketahui bukan hanya membahas lagi untuk impact daripada digital seperti apa, tapi kita lihat di sini ada estimasi nilai ekonomi Rp 200 triliun. Ini jangan dicampurkan dengan revenue, karena economic value itu pada dasarnya adalah kontribusi secara ekonomi dari penggunaan AI,” kata Karim dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu, 15 Juli 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Karim mengatakan nilai ekonomi dari pemanfaatan AI tidak hanya berasal dari peningkatan pendapatan, tapi juga mencakup efisiensi kerja, perbaikan manajemen risiko, hingga pencegahan penipuan. Menurut proyeksi Google Cloud, penggunaan AI juga berpotensi mendukung rata-rata sekitar 246 ribu pekerja setiap tahun.
Ia mengatakan AI dapat membantu meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Google Cloud memperkirakan teknologi tersebut mampu meningkatkan produktivitas pekerja sekitar 4 persen atau menghemat rata-rata 1,1 jam kerja per orang setiap pekan.
“Tapi kalau kita jumlahkan seluruh produktivitas dari pekerja di Indonesia, setahun itu 350 juta jam. Berarti di skala nasional penggunaan AI itu impact-nya sangat besar sekali,” tuturnya.
Di sektor bisnis, Karim menyebut perusahaan yang telah memanfaatkan agen AI dapat merasakan peningkatan kinerja usaha. Menurutnya, penggunaan AI dalam layanan pelanggan dapat meningkatkan return on investment (ROI) hingga 1,2 kali.
Selain itu, pemanfaatan AI untuk pengembangan bisnis berpotensi meningkatkan ROI hingga 1,3 kali. Sementara penggunaan AI dalam fungsi pengelolaan dan analisis data bisnis diperkirakan mampu menghasilkan ROI hingga 1,6 kali.
Karim menilai Indonesia kini memasuki tahap yang lebih menantang dalam adopsi AI, yakni menerapkan teknologi tersebut dalam skala nasional di negara dengan jumlah penduduk besar dan kebutuhan industri yang beragam. Tantangan yang dihadapi perusahaan, antara lain mengintegrasikan AI dengan sistem teknologi yang sudah dimiliki, serta menyesuaikannya dengan tata kelola organisasi
Menurut Karim, fokus perusahaan saat ini bukan lagi mempertanyakan apakah AI dapat digunakan, melainkan mengidentifikasi area yang dapat memperoleh manfaat nyata dari penerapan teknologi tersebut. “Pertanyaannya bukan lagi di mana kita bisa menggunakan AI, tapi bagaimana AI bisa membawa manfaat bisnis yang nyata,” katanya.
Ia menambahkan, penerapan AI saat ini sudah mulai terlihat di berbagai sektor di Indonesia dan Asia Tenggara. “Kita sudah bisa melihat ini khususnya di Indonesia dan juga di Asia Tenggara, bahwa penerapannya ada di bidang media, bidang telekomunikasi, bidang ritel maupun keuangan," ujarnya.
Untuk mendukung adopsi AI di Indonesia, Google Cloud memperluas tim Forward-Deployed Engineer (FDE). Karim mengatakan para spesialis AI tersebut akan ditempatkan langsung di lingkungan kerja pelanggan sebagai perpanjangan dari tim engineering internal perusahaan guna membantu pemanfaatan inovasi AI full-stack dan mempercepat transformasi bisnis berbasis agentic AI.

















































