PERISTIWA gempa tektonik dengan magnitudo 2,7 yang mengguncang wilayah Kabupaten Bandung Barat pada Kamis, 9 Juli 2026, tidak berdampak terhadap aktivitas Gunung Tangkuban Parahu. Hasil evaluasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi menunjukkan tidak ada indikasi peningkatan aktivitas vulkanik gunung yang berlokasi di persimpangan Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Subang, Jawa Barat, itu.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa terjadi pada pukul 12.10 WIB dengan magnitudo 2,7. Sebelumnya kekuatan gempa sempat diinformasikan bermagnitudo 2,6 sebelum dimutakhirkan menjadi M2,7. Episenter gempa berada di koordinat 6,83 derajat Lintang Selatan dan 107,65 derajat Bujur Timur.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Berdasarkan hasil pemantauan Badan Geologi, pada hari yang sama tercatat dua kali gempa tektonik yang dirasakan di kawasan gunung. Gempa pertama berkekuatan MMI II terjadi pada pukul 12.11.02 WIB, disusul gempa kedua dengan intensitas MMI I pada pukul 12.22.38 WIB.
Rekaman kegempaan selama periode 1–9 Juli 2026 hanya mencatat satu gempa embusan, 30 gempa low frequency, satu gempa vulkanik dangkal, dan empat gempa tektonik jauh. Sementara itu, hasil pemantauan deformasi melalui tiltmeter dan Electronic Distance Measurement (EDM) juga tidak memperlihatkan adanya perubahan yang mengindikasikan peningkatan aktivitas.
"Gempa bumi tektonik ini tidak memicu peningkatan aktivitas Gunung Tangkuban Parahu," kata Plt. Kepala Badan Geologi Lana Saria dalam keterangannya, Jumat, 10 Juli 2026.
Dia mengatakan dengan mempertimbangkan seluruh data pemantauan, aktivitas Gunung Tangkuban Parahu hingga 9 Juli 2026 masih berada pada Level I atau Normal.
Meski demikian, masyarakat dan wisatawan tetap diminta tidak lengah. Pengunjung yang berada di kawasan puncak, khususnya di sekitar Kawah Ratu dan Kawah Upas, diimbau tidak turun ke dasar kawah serta mewaspadai paparan gas vulkanik berbahaya, terutama saat musim hujan atau cuaca mendung.
Lana juga mengingatkan Gunung Tangkuban Parahu didominasi oleh erupsi freatik yang dapat terjadi secara tiba-tiba dan sulit diprediksi karena berkaitan dengan sistem panas bumi di bawah gunung.
"Evaluasi tingkat aktivitas Gunung Tangkuban Parahu akan dilakukan secara berkala atau sewaktu-waktu apabila terjadi perubahan signifikan. Masyarakat diharapkan tetap tenang, tidak mudah terpengaruh oleh isu-isu yang belum dapat dipertanggungjawabkan, waspada, serta mengikuti arahan dari pihak berwenang demi keselamatan bersama," katanya.















































