Beberapa kutipan kalimat menghias di bidang dinding setinggi satu setengah meteran di ruang pamer di Gedung Oesman Effendi, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Kalimat yang menarik tentang upaya Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta era 1966-1977 tentang pengembangan seni budaya di Jakarta. Kalimat-kalimat ini merupakan bagian dari pameran arsip dalam rangka 100 Tahun Ali Sadikin, yang berlangsung 7-14 Juli 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Beberapa kalimat ini menunjukkan bagaimana Ali Sadikin berusaha membangun Jakarta sebagai kota budaya. Ia mengakui tak banyak mengetahui tentang seni, karenanya ia kemudian mendirikan sejumlah lembaga, menunjuk para seniman, sastrawan mengurus hal ini.
Kalimat-kalimat itu antara lain: “Saya tidak mengerti kesenian, dan oleh karena itu mengharapkan bantuan para seniman menjadikan Jakarta Kota Budaya- Ali Sadikin -Bang Ali: Demi Jakarta 1966-1977. Kalimat-kalimat lainnya yakni, “Saya nyatakan tegas-tegas, pejabat tidak boleh ikut campur. Urusan dinas kebudayaan lain, urusan DKJ lain. Tugas DKJ memberikan nasihat dan pendapat pada gubernur, diminta atau tidak diminta, dalam membina kebudayaan di Jakarta.”
Ada pula nukilan kalimat Bang Ali, “Maka saya mengadakan usaha pemerasan terhadap mereka itu. Dengan menyediakan judi dan sebagainya. “...untuk memberikan subsidi pada sektor- sektor yang harus bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat..”. Begitu policy saya untuk sektor kebudayaan. Konkretnya menghidupkan TIM dnegan DKJ-nya dan Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ)”. Demikianlah sekelumit kata-kata yang dinukil dari buku biografi Ali Sadikin, Bang Ali: Demi Jakarta 1966-1977. Selain pemikiran dari Ali Sadikin juga ada komentar budayawan Umar Kayam dan lainnya.
Di ruang pameran, pengunjung juga akan melihat sejumlah kopian arsip tentang surat keputusan pembentukan Akademi Jakarta, Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ- kini Institut Kesenian Jakarta), kemudian Dewan Kesenian Jakarta. Kopi arsip surat-surat itu dipajang di dinding. Sedangkan kopi kliping berita, teks pidato diletakkan di meja.
Selain itu juga di beberapa meja diletakkan ratusan kopian kliping berita dan foto-foto acara pementasan, pertunjukan, gerakan seniman di era 1970-an. Ketika para seniman, budayawan aktif berkreativitas di Taman Ismail Marzuki yang dibangun di era Gubernur Ali Sadikin. Tak hanya pertunjukan atau pentas dari seniman lokal, tapi juga seniman mancanegara seperti pentas rombongan Teater Royal Lyceum dari Edinburgh dan beberapa penampil lainnya. Memperlihatkan aktivitas seni dan budaya yang sangat hidup dan bersemangat berlangsung di Taman Ismail Marzuki.
Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta menghelat pameran arsip dan dokumentasi ini. “Arsip-arsip, dokumentasi ini merupakan arsip koleksi Dewan Kesenian Jakarta. Aktivitas seni budaya di Taman Ismail Marzuki sejak didirikan oleh Bang Ali,” ujar Muhamad Aidil Usman, anggota Komite Seni Rupa kepada Tempo, 7 Juli 2026.
Pengunjung juga bisa melihat denah dan wujud bangunan-bangunan lama Taman Ismail Marzuki yang dibangun semasa Gubernur Ali Sadikin melalui foto hitam putih yang ditempelkan di dinding. Di dinding tertera keterangan foto ruang gedung untuk para seniman berkreasi yakni Teater Tertutup, Teater Terbuka, Ruang Latihan Tari, Plaza, Teater Arena, Teater Besar, Ruang Pameran dan sanggar. Ada juga puluhan poster-poster kegiatan seni yang berlangsung, seperti pentas tari, teater, musik, pameran seni rupa, pentas musik, pameran foto, festival teater.
Pilihan Editor:
Warga mengunjungi pameran Peringatan 100 Tahun Ali Sadikin di Galeri Oesman Effendi, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, 7 Juli 2026. Tempo/Ilham Balindra
Di ruang pameran bagian belakang, sederetan foto-foto Ali Sadikin dalam berbagai aktivitasnya. Foto yang memperlihatkan sisi lain dari seorang Sedikit foto hasil jepretan Umar Widodo, seorang fotografer lulusan Institut Kesenian Jakarta. Ia selalu menyertai kemanapun Ali Sadikin sejak 1995 hingga akhir hayatnya. “Mengapa memilih Bang Ali, karena saya lahir di Jakarta, dia mantan Gubernur Jakarta dan saya studi di lembaga pendidikan yang didirikannya, IKJ. Itu tiga alasan kenapa saya memilih Bang Ali,” ujar Umar pada pengantar foto-fotonya.
Jika pameran dilangsungkan di Gedung Oesman Effendi, yang posisinya agak di belakang, sejumlah mural wajah dan sosok Ali Sadikin menghiasi dinding di depan Gedung Ali Sadikin, dan di area roof top di bagian depan Taman Ismail Marzuki serta di dinding-dinding di area kantin gedung. Mural-mural berwarna cerah dengan wajah Bang Ali yang sumringah.
Warga mengunjungi pameran Peringatan 100 Tahun Ali Sadikin di Galeri Oesman Effendi, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, 7 Juli 2026. Tempo/Ilham Balindra
Ali Sadikin dan Seni Budaya Jakarta
Peringatan 100 Tahun Ali Sadikin dibuka oleh Gubernur DKI Pramono Anung. Beberapa kegiatan dilaksanakan untuk memeriahkan peringatan seabad lahirnya Bang Ali. Gubernur Ali Sadikin lahir pada 7 Juli 1926, dia wafat pada 20 Mei 2008. Di masa ia menjabat, ia membangun berbagai tempat untuk masyarakat. Selain membangun Taman Ismail Marzuki dan Institut Kesenian Jakarta, ia juga membangun Kebun Binatang Ragunan, Proyek Senen, Taman Impian Jaya Ancol, Taman Ria Monas, Taman Ria Remaja, pelestarian budaya Betawi di kawasan Condet.
Dalam pidato pembukaannya, Pramono Anung mengatakan Ali Sadikin tidak hanya membangun fisik kota Jakarta. Tetapi menurutnya yang paling berharga adalah komitmennya membangun kebudayaan dan ekosistemnya
“Bagi saya pribadi, bukan hanya pembangunan fisik yang menjadi warisan terbesar Bang Ali, tetapi juga keberanian beliau membangun ekosistem seni dan budaya. Siapa pun gubernur Jakarta tidak mungkin tidak melanjutkan apa yang telah diwariskan Bang Ali,” ujar Pramono saat membuka acara di Plaza Teater Besar Taman Ismail Marzuki, 7 Juli 2026
Ia juga menyinggung kecintaan Ali Sadikin terhadap Jakarta seni, budaya termasuk tradisi Betawi yang harus terus dijaga. “Yang paling utama sebenarnya yang ditinggalkan beliau adalah hal yang berkaitan dengan kebudayaan, kesenian, kecintaan beliau akan Jakarta, dan juga tentang tradisi adat Betawi,” ujarnya.
Pilihan Editor:















































