TAK kurang 500 pelajar dari sejumlah sekolah di kawasan Kabupaten Sleman Yogyakarta duduk sembari menghadap kanvas, berlatar Candi Prambanan, Rabu pagi, 22 Juli 2026. Wajah mereka tampak serius memegang alat mirip palu terbuat dari kayu. Alat itu beberapa kali dipukulkan pada motif bergambar flora yang ada di hadapannya hingga warna motif itu perlahan keluar dan objeknya jadi tampak jelas.
Praktik yang dikenal sebagai teknik pounding maupun steam untuk mencetak jejak dedaunan di atas kain itu jadi bagian seni pembuatan batik ecoprint yang diikuti ratusan pelajar ketika mengikuti peringatan Hari Anak Nasional 2026 yang dipusatkan di Candi Prambanan.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
"Seru, pertama bingung, tapi lama-lama asyik membuat batik ini," tutur Dea, salah satu peserta yang mengikuti membatik massal itu.
Aksi membatik massal dengan teknik ecoprint yang dipusatkan di Lapangan Garuda Mandala kawasan Candi Prambanan itu mengajak para siswa mengenal seni membatik yang tak sekadar terbatas pada tulis dan cap.
Seni batik ecoprint merupakan teknik membatik ramah lingkungan yang menggunakan pewarna dan motif alami dari daun, bunga, atau akar tumbuhan. Teknik ini menonjol di desa-desa wisata sekitar Candi Prambanan. Yang salah satunya tumbuh subur di Desa Wisata Bugisan, Prambanan.
"Pelatihan membatik dengan teknik ecoprint ini agar para pelajar juga mengetahui, bahwa di sekitar Candi Prambanan, ada potensi budaya batik ecoprint yang terus hidup dilestarikan warga sekitar," kata pengelola Candi Prambanan, Gistang Panutur, ditemui, Rabu, 22 Juli 2026.
Gistang mengungkapkan, Candi Prambanan bukanlah sekadar bangunan utamanya saja yang merupakan warisan sejarah yang harus dijaga. Namun juga budaya sekitarnya yang perlu dikenal, dipahami, dan dilestarikan.
"Dari membatik bersama inilah, kami ajak para siswa mengenal teknik batik yang pembuatan motif dan pewarnaan kainnya bisa memanfaatkan bahan-bahan ramah lingkungan," ujarnya.
Berbeda dengan batik konvensional yang menggunakan malam atau lilin serta canting untuk merintangi warna, teknik ecoprint mengandalkan penyerapan langsung pigmen warna dan bentuk jejak visual tumbuhan ke dalam serat kain alami seperti sutra, katun, linen, atau rayon.
Jenis tumbuhan yang digunakan biasanya memiliki kandungan tanin kuat seperti daun jati untuk warna merah keunguan, daun lanang dan ketapang untuk warna hijau, cokelat, atau hitam, daun jarak dan pakis untuk struktur bentuk yang tegas, serta bunga kenikir atau mawar untuk aksen warna kuning dan merah muda.
"Dari teknik itu, siswa belajar ikut menjaga kelestarian alam terutama di sekitar Candi Prambanan," kata dia.
Gistang menuturkan, para peserta aksi itu ada 500 siswa tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dari sekolah-sekolah di sekitar kawasan Candi Prambanan, yang berada di perbatasan Kabupaten Sleman dan Kabupaten Klaten Jawa Tengah. Sebanyak 54 guru pendamping yang berasal dari 27 SMP dan MTs di wilayah Prambanan, Kalasan, dan Berbah juga terlibat.
Tak hanya membatik, para siswa dalam perperingatan tersebut juga diajak memahami Candi Prambanan dengan cara berbeda. Seperti menyusun peta Candi Prambanan kemudian menyusuri dan mempelajari relief Candi Prambanan.
Gistang menuturkan, dari pengenalan Candi Prambanan itu pihaknya ingin ada perubahan cara melihat siswa ketika menyambangi Candi Prambanan.
"Candi Prambanan bukan hanya sebagai bangunan yang berdiri begitu saja, yang terdiri dari tumpukan batu dan hanya dipandangi, tapi banyak yang bisa dipelajari sebagai pengetahuan," kata Gistang.
Gistang mengungkapkan bahwa selama ini mayoritas kunjungan wisatawan hanya dimaknai sebatas plesir tanpa mempelajari makna di balik relief candi, padahal sekitar 20 hingga 25 persen dari total pengunjung berasal dari kalangan pelajar.















































