DI tengah ketidakpastian situasi dan kondisi geopolitik, serta kenaikan biaya global tidak menyurutkan wisatawan untuk bepergian. Namun untuk mensiasatinya, wisatawan mengalihkan tujuan liburan ke destinasi yang lebih dekat, baik di dalam negeri maupun kawasan regional.
Menurut Mordor Intelligence, Southeast Asia Tourism Market Report (2026-2031) nilai industri pariwisata kawasan Asia Tenggara diproyeksikan meningkat dari 35,5 miliar dolar Amerika Serikat pada 2025, menjadi 67,4 dolar Amerika Serikat pada 2031. Selain itu, Asia Tenggara menyumbang 15,4 persen dari permintaan perjalanan global berdasarkan International Travel and Health Insurance Journal (ITIJ).
Pilihan editor: Mengapa Kian Banyak Wisatawan Memilih Vila ketimbang Hotel
Chief Financial Officer Traveloka Yady Guitana mengatakan tren perjalanan ke destinasi yang lebih dekat terlihat sepanjang tahun ini. Menurut dia, masyarakat tetap melakukan perjalanan meski harus menyesuaikan pilihan destinasi dengan kondisi global.
"Yang tadinya mungkin ingin ke Eropa, mereka tidak jadi ke Eropa, tetapi tetap bepergian ke tempat yang lebih dekat, baik di Indonesia, Asia Tenggara, maupun kawasan Asia," kata Yadi dalam acara penandatanganan kemitraan Traveloka dan Marriott International di Jakarta, Kamis, 2 Juli 2026.
Pergeseran tren perjalanan ini menjadi salah satu alasan Traveloka menjalin kemitraan dengan jaringan hotel Marriott International. Selain itu, terdapat peningkatan minat terhadap properti Marriott dalam beberapa bulan terakhir. Peningkatan terlihat dari pencarian hotel dan pemesanan akomodasi Marriott oleh wisatawan Asia Tenggara, termasuk untuk properti di Makassar, Surabaya, Medan, Bandung, serta sejumlah hotel Sheraton dan Marriott Hotels. Lebih dari 10 ribu properti Marriott di 146 negara dan wilayah akan terhubung langsung dengan platform Traveloka.
Chief Commercial Officer Asia Pacific excluding China Marriott International John Toomey mengatakan industri perjalanan di seluruh Asia berkembang pesat. Termasuk Indonesia yang menjadi salah satu pasar paling menjanjikan. Ia melihat peluang besar untuk menghadirkan beragam pengalaman kepada wisatawan yang lebih luas lagi. "Ini akan memperkuat kemampuan kami untuk menjangkau wisatawan di setiap tahap perjalanan mereka," ujarnya.
Sementara untuk membantu wisatawan menemukan akomodasi yang sesuai dengan waktu liburan Traveloka memanfaatkan teknologi AI (artificial intelligence). Dengan begitu, wisatawan dapat mengakses pilihan hotel yang lebih luas dengan harga dan ketersediaan kamar secara langsung. "Kami menggunakan AI (artificial intelligence) untuk meningkatkan rekomendasi kepada Anda," kata Tejveer Singh Bedi Vice President of Traveloka.
Tejveer menambahkan wisatawan yang menggunakan Traveloka memulainya dengan memesan penerbangan. Dari langkah tersebut, dengan teknologi AI memastikan wisatawan mendapatkan rekomendasi hotel yang relevan. Tidak hanya merekomendasikan pilihan hotel, tapi juga kuliner hingga atraksi wisata.
Pilihan editor: Mengapa Gaya Perjalanan Sunyi Kian Dipilih Banyak Pelancong















































