Biarkan atau Arahkan? Begini Cara Bijak Hadapi Anak Remaja yang Sulit Bergaul

3 weeks ago 14

Fimela.com, Jakarta Sahabat Fimela, melihat anak remaja kesulitan bersosialisasi bisa menjadi kekhawatiran tersendiri bagi orangtua—terutama saat mereka terlihat sendirian di sekolah, tidak pernah diundang ke acara teman-teman, atau hanya menghabiskan akhir pekan di kamar tanpa aktivitas sosial.

Pertanyaannya, apakah anak remaja perlu didorong untuk lebih aktif bergaul, atau justru dibiarkan menikmati kesendiriannya? Jawabannya tidak sesederhana "ya" atau "tidak”, yang paling penting adalah memahami alasan di balik perilaku tersebut dan mendampingi anak dengan cara yang tepat. 

Artikel yang dilansir dari understood.org ini akan menjawab mana yang sebaiknya dilakukan orangtua: dibiarkan atau diarahkan untuk bisa bergaul dengan orang lain. Yuk, kita simak bersama!

Tidak Semua Anak Butuh Banyak Teman

Sahabat Fimela, perlu disadari bahwa tidak semua anak harus menjadi pusat perhatian atau punya lingkaran pertemanan yang luas. Namun, memiliki teman—meskipun hanya satu atau dua—tetap penting untuk mendukung pertumbuhan sosial dan emosional mereka, terutama di masa remaja.

Kemampuan menjalin hubungan dengan teman sebaya adalah keterampilan yang akan berguna seumur hidup. Maka, alih-alih memaksa anak untuk “gaul”, lebih baik bantu mereka mengembangkan kepercayaan diri dan keterampilan sosial secara bertahap.

Meskipun sebagai orangtua kita ingin yang terbaik bagi anak, perlu diingat bahwa membangun pertemanan adalah proses yang sangat personal. Kita tidak bisa “membuatkan” teman untuk anak, tapi bisa menyediakan ruang yang aman untuknya belajar berteman.

Jika anak hanya memiliki satu atau dua teman dekat, itu sudah cukup, yaang penting, mereka merasa diterima, dihargai, dan mampu menjalani hubungan sosial yang sehat—tanpa harus menjadi anak paling populer di sekolah.

Pahami Alasan Anak Sulit Bergaul

Sebelum mendorong anak untuk berteman dan bergaul dengan orang baru, cobalah cari tahu lebih dulu apa penyebab kesulitannya. Tanyakan secara terbuka pertanyaan seperti ‘apakah anak merasa lebih nyaman sendirian? Gugup dan cemas saat berada di sekitar teman sebaya? Atau mungkin anak pernah mengalami penolakan atau perundungan di sekolah?’. 

Jika anak tidak terbuka, ada baiknya untuk berkonsultasi dengan guru atau konselor sekolah untuk mendapatkan perspektif yang lebih lengkap. Waspadai juga jika perubahan ini terjadi tiba-tiba, karena bisa jadi ada faktor emosional yang mendalam, seperti kecemasan sosial atau bahkan depresi.

Dalam kondisi seperti ini, penting untuk membangun kepercayaan anak dan memastikan bahwa ia merasa diterima serta didukung. Jika diperlukan, jangan ragu untuk meminta bantuan profesional, seperti psikolog anak atau remaja.

Apa yang Bisa Dilakukan Orangtua?

1. Jangan paksa anak: Tekanan hanya akan membuat mereka menutup diri. Sebaiknya biarkan mereka memilih aktivitas yang mereka sukai.

2. Ajak anak diskusi: Tanyakan pendapat anak mengenai apa yang menurutnya sulit dalam pergaulan.

3. Latih keterampilan sosial secara bertahap: Coba role-playing untuk membangun kepercayaan diri saat bertemu teman baru.

4. Dorong ikut kegiatan baru: Ajak anak untuk mengikuti klub seni, komunitas sosial, atau kelas di luar sekolah agar mereka bisa bertemu teman baru dengan minat yang sama.

5. Jalin koneksi dengan orangtua lain: Terkadang, pertemanan bisa terbentuk melalui interaksi antarkeluarga.

6. Fasilitasi dengan hal praktis: Antar anak ke kegiatan sosial atau izinkan ia mengundang teman ke rumah.

7. Hormati ruang pribadinya: Tugas orangtua adalah mendampingi, bukan mengendalikan. Cukup satu aktivitas sosial yang disukai anak bisa membawa dampak positif.

Semoga informasi di atas bermanfaat, ya, sahabat Fimela! Ingat, kebahagiaan dan kenyamanan anak adalah hal yang paling penting di atas segalanya.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

  • Amelia Salsabila Aswandi

    Author

    Amelia Salsabila Aswandi
  • Nabila Mecadinisa
Mereka tetap mendengarkan meski tampak acuh. (Foto/Dok: pexels.com/cottonbro studio)

Parenting5 Cara Efektif Mengatasi Perdebatan dengan Anak Remaja

Sering keras kepala, ini lima cara efektis mengatasi perdebatan dengan anak remaja.

Konsumsi makanan bergizi untuk anak./Copyright depositphotos.com/tonefotografia

ParentingRasa Lokal, Gizi Global: Lele, Gabus, dan Teri Ternyata Superfood Hebat dari Negeri Sendiri

Lele, gabus, dan teri bukan sekadar ikan kampung. Ketiganya adalah superfood lokal yang sarat gizi, murah, dan mudah diolah. Saatnya para orang tua melirik kembali kekayaan protein lokal untuk masa depan anak yang lebih sehat.

 Freepik/jcomp).

ParentingPadel: Rahasia Seru Membangun Bonding Ibu dan Anak, Ternyata Wajib Dimainkan Berdua!

Temukan cara seru mempererat bonding ibu dan anak dengan padel, olahraga raket yang kini makin digemari. Siapkah Anda merasakan keseruannya?

Nada bicara orang tua punya pengaruh besar terhadap perkembangan psikologis anak. (Foto/Dok: Freepik)

ParentingNada Bicara Orangtua Bisa Pengaruhi Psikologi Anak, Ini Penjelasannya

Tak hanya kata-kata, nada bicara orang tua punya pengaruh besar terhadap perkembangan psikologis anak.

Ilustrasi Ibu Hamil/copyright pexels
Read Entire Article
Parenting |