Daftar Lengkap 51 Saham Konsentrasi Kepemilikan Tinggi

3 hours ago 7

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan daftar berisi 51 saham yang masuk kriteria high shareholding concentration (HSC) atau saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi.

Saham-saham kategori HSC tersebut otomatis akan dikeluarkan oleh BEI dari indeks-indeks utama, di antaranya indeks LQ45, IDX30, hingga IDX80.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

"Kami akan segera mengumumkan ada 37 saham baru masuk dalam kriteria high shareholding concentration. Sehingga total saham yang ada di dalam high shareholding concentration akan menjadi 51 saham," ujar Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik, dalam keterangannya, dikutip dari Antara, di Jakarta pada Rabu, 15 Juli 2026.

Berikut daftar lengkap 51 saham masuk kriteria HSC:

1. PT Samator Indo Gas Tbk (AGII)

2. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)

3. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)

4. PT Ifishdeco Tbk (IFSH)

5. PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV)

6. PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO)

7. PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK)

8. PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS)

9. PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA)

10. PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI)

11. PT Mahkota Group Tbk (MGRO)

12. PT Kota Satu Properti Tbk (SATU)

13. PT Delta Giri Wacana Tbk (DGWG)

14. PT Habco Trans Maritima Tbk (HATM)

15. PT DCI Indonesia Tbk (DCII)

16. PT Bayan Resources Tbk (BYAN)

17. PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET)

18. PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA)

19. PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ)

20. PT Bank Permata Tbk (BNLI)

21. PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA)

22. PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN)

23. PT Soho Global Health Tbk (SOHO)

24. PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE)

25. PT FAP Agri Tbk (FAPA)

26. PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO)

27. PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI)

28. PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN)

29. PT Siantar Top Tbk (STTP)

30. PT Multipolar Technology Tbk (MLPT)

31. PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS)

32. PT Global Digital Niaga Tbk (BELI)

33. PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO)

34. PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk (PRAY)

35. PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR)

36. PT Cemindo Gemilang Tbk (CMNT)

37. PT Metropolitan Kentjana Tbk (MKPI)

38. PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI)

39. PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI)

40. PT Hotel Fitra International Tbk (FITT)

41. PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII)

42. PT Hoffmen Cleanindo Tbk (KING)

43. PT MD Entertainment Tbk (FILM)

44. PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI)

45. PT Golden Flower Tbk (POLU)

46. PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk (LIFE)

47. PT Prima Andalan Mandiri Tbk (MCOL)

48. PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII)

49. PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI)

50. PT Bank Mega Tbk (MEGA)

51. PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP)

Sebanyak 51 saham HSC tersebut merupakan hasil tambahan dari sebanyak 37 saham HSC baru, dari sebelumnya telah dirilis sebanyak 14 saham HSC. Adanya tambahan 37 saham HSC itu setelah ditetapkannya kriteria baru yaitu Price Impact Ratio untuk menetapkan saham-saham berkapitalisasi pasar di atas Rp 10 triliun dapat masuk kategori HSC.

Jeffrey menyatakan, Price Impact Ratio yaitu memperhitungkan perubahan harga saham tersebut terhadap velocity-nya, yang mana velocity dihitung dari rata-rata volume transaksi terhadap jumlah saham yang ada di publik (free float).

Artinya, saham-saham yang aktivitas volume transaksinya rendah tentu akan menghasilkan velocity yang rendah, dan dengan velocity yang rendah namun perubahan harganya yang besar, tentu akan menghasilkan Price Impact Ratio yang tinggi.

Lebih lanjut, Jeffrey menjelaskan, BEI akan mengevaluasi saham-saham yang masuk kategori HSC secara periodik tiga bulanan (kuartalan), atau mengikuti siklus evaluasi indeks utama di BEI.

"Atas saham-saham inilah kami akan melakukan screening terhadap potensi ada atau tidaknya high shareholding concentration. Tentu trigger factors lain yang terkait dengan kegiatan pengawasan itu akan tetap dilakukan," kata Jeffrey.

Saham HSC atau saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi yaitu kondisi yang mana mayoritas saham suatu perusahaan hanya dikuasai oleh segelintir pihak, kelompok tertentu, atau afiliasinya. Dengan begitu, jumlah saham beredar secara bebas di publik (free float) yang sebenarnya menjadi sangat sedikit atau tipis.

Read Entire Article
Parenting |