KETUA Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi mengunjungi kantor Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto pada Selasa, 14 Juli 2026. Salah satu poin yang dibahas adalah permohonan insentif fiskal untuk transaksi Exchange Traded Fund (ETF) berbasis emas di Bursa Efek Indonesia.
Rencana itu diungkap Friderica seusai pertemuan. “Kami minta beberapa insentif untuk produk-produk baru di pasar sektor jasa keuangan seperti ETF emas dan lain-lain,” ucapnya.
Meski demikian, Friderica tak menjelasan dengan rinci bentuk insentif yang akan diberikan. Adapun ETF emas adalah produk yang dikembangkan OJK untuk pendalaman pasar di industri bank emas atau bullion bank. Produk ini diperdagangkan di pasar modal Indonesia.
Pembahasan ihwal insentif ETF emas dibenarkan oleh Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto. Perluasan instrumen keuangan di pasar modal merupakan mandat OJK dalam Undang-undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK). Termasuk perdagangan ETF emas di bursa yang bersifat nondelivery atau tanpa penyerahan fisik. “Itu mungkin membutuhkan insentif fiskal, tadi kami pelajari juga,” ucap Airlangga di kantornya, Selasa, 14 Juli 2026.
Rencana tersebut bakal memberi kemudahan khusus bagi instrumen investasi ini. Airlangga menjelaskan perdagangan ETF emas berbeda karena tanpa bentuk fisik atau goods. “Kalau misalnya perdagangan ETF emas kan nondelivery goods, goods-nya enggak ada. Jadi salah satunya, dari segi perpajakannya untuk dipermudah,” ucapnya.
OJK menargetkan produk ETF emas diluncurkan pada kuartal II 2026. Basis kebijakan juga sudah disiapkan lewat Peraturan OJK Nomor 2 Tahun 2026 tentang Reksa Dana Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif yang Unit Penyertaannya Diperdagangkan di Bursa Efek dengan Aset yang Mendasari Berupa Emas.
Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan ada beberapa aspek teknis yang masih diselaraskan, khususnya menyangkut perlakuan perpajakan atas underlying emas.
“Hal ini tentu penting untuk memastikan bahwa produk yang diluncurkan tidak hanya menarik dari sisi investasi, tetapi juga tetap efisien dan kompetitif secara struktural,” ujarnya pada 6 April 2026 lalu.

















































