Disabilitas Enggan Berolahraga karena Minim Akses dan Fasilitas

7 hours ago 10

MINIMNYA aksesibilitas dan fasilitas olahraga membuat banyak penyandang disabilitas enggan berolahraga. Lantaran itu, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) membuat program yang dapat memperluas ekosistem olahraga inklusif bagi disabilitas dengan menyelenggarakan Training of Trainers (ToT) Penggerak Olahraga Disabilitas bertajuk BERDAYA, di Bandung,17-18 Juli 2026.

"Rendahnya akses, minimnya fasilitas, serta langkanya dukungan tenaga pelatih membuat kelompok disabilitas masih enggan berolahraga. Oleh karena itu, melalui program BERDAYA, Kemenpora menargetkan lahirnya 2.000 pelatih bersertifikat. Mereka inilah yang kelak akan menjadi agen perubahan bagi sesamanya di komunitas," kata Tenaga Ahli Menpora, Heru Komarudin, seperti yang dikutip Tempo dari situs resmi Kemenpora, Selasa 21 Juli 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Heru memaparkan, angka partisipasi olahraga penyandang disabilitas di Indonesia sangat rendah. Yaitu hanya 11,6 persen. Pembekalan pelatih olahraga yang mengerti cara berinteraksi dan melatih disabilitas diharapkan dapat lebih menyehatkan komunitas ini.

Atlet Tenis Meja Tunanetra (Show Down) DKI Jakarta, Oki Kurnia, 31 tahun, mengatakan, pelatih olahraga bagi disabilitas sebaiknya juga paham teknik permainan untuk olahraga yang dipertandingkan. Oki mencontohkan, pemahaman tentang teknik khusus untuk atlet tenis meja tunanetra, seperti pukulan push atau dorong, yaitu Memukul bola secara menyusur meja menggunakan bagian depan atau belakang bet.

“Utamanya karena Show Down menggunakan meja khusus berdinding, bola berbunyi (gemerincing), dan net berupa papan. Fokus utamanya adalah pendengaran dan refleks,” kata Oki saat dihubungi melalui telepon.

Selain itu, meja untuk Show Down juga tidak boleh dibongkar pasang agar letak papan meja tetap presisi dan tidak mempengaruhi guliran bola di atas meja. Musababnya, tambah Oki, letak papan yang tidak presisi dapat mempengaruhi performa atlet atau penyandang disabilitas yang berolahraga.

“Salah satunya atlet tunanetra kan menilai letak bola dari arah gulirannya, bila papan meja tidak presisi bola dapat memantul dan hilang dari radar navigasi pemain tenis meja tunanetra,” kata Oki.

Penggiat olah raga juga harus tahu berbagai ragam disabilitas dengan baik. Misalnya untuk sebuah jenis olah raga tertentu biasanya melibatkan beberapa kategori yang berbeda. Tentu hal ini mempengaruhi cara atau teknik disabilitas berolahraga.

Oki mencontohkan, tunanetra terbagi dalam beberapa ragam seperti tunanetra total, low vision jarak dekat, maupun low vision jarak jauh. Lantaran itu terdapat klasifikasi cabang dalam pertandingan Show Down, seperti P 10, P 11. “Dia harus tahu itu semua, ,” kata Oki.

Selain pengetahuan pelatih atau penggiat olahraga, tempat penyesuaian latihan juga perlu ditingkatkan. Hingga saat ini masih banyak tempat latihan olah raga bagi disabilitas tidak dapat digunakan secara maksimal oleh penyandang disabilitas.

Oki Kembali mencontohkan, tidak ada meja Show Down yang dipasang permanen. Akibatnya, banyak disabilitas netra yang tidak dapat menggunakan meja Show Down yang disediakan. “Karena mejanya tidak presisi, bolanya jadi memantul atau loncat,” kata Oki.

Read Entire Article
Parenting |