Keluhan Penyakit Jantung yang Sering Dianggap Biasa

2 hours ago 5

DOKTER Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Bethsaida Hospital Gading Serpong Putri Reno Indrisia mengatakan ada beberapa ciri pasien yang salah mengartikan gejala penyakit jantung. "Banyak pasien datang dalam kondisi terlambat karena gejala awal sering disalahartikan sebagai keluhan biasa," katanya dalam keterangan pers yang diterima Tempo pada awal Juni 2026.

Beberapa ciri keluhan pasien penyakit jantung yang sering diabaikan pasien, seperti cepat lelah meski aktivitas ringan. Ada pula keluhan sesak napas saat berjalan atau naik tangga. Ciri lain lagi adalah nyeri dada yang terasa seperti tekanan atau tertahan. Ciri lainnya yang kerap dianggap angin lalu adalah jantung berdebar tidak teratur.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Keluhan lain seperti pusing mendadak, keringat dingin tanpa sebab jelas, hingga pembengkakan pada kaki juga bisa menjadi indikasi adanya masalah pada jantung maupun pembuluh darah. "Beragam gejala yang kerap muncul secara samar inilah yang menjadi alasan pentingnya pemeriksaan rutin sejak dini sebagai bagian dari langkah pencegahan, terutama bagi masyarakat dengan faktor risiko,” kata Putri menjelaskan.

Bahkan beberapa orang menganggap hanya masuk angin, padahal sebenarnya dalam beberapa kasus adalah tanda awal penyakit jantung. Banyak orang baru sadar kondisi jantungnya bermasalah setelah gejala memburuk. "Padahal, mengenali sinyal tubuh sejak dini bisa menjadi langkah penting untuk mencegah komplikasi yang lebih berat," katanya.

Putri mengatakan tidak sedikit masyarakat yang baru memeriksakan diri ketika keluhan sudah mengganggu aktivitas atau bahkan memasuki fase darurat. "Inilah yang membuat penyakit jantung kerap terlambat ditangani, meskipun gejala awal sebenarnya bisa dikenali lebih cepat," katanya menambahkan.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pencegahan penyakit jantung dan pembuluh darah, sekaligus menyoroti bahwa beban penyakit jantung di Indonesia masih tinggi, salah satunya tercermin dari meningkatnya klaim pembiayaan penyakit jantung. Karena itu, deteksi dini gejala dan pengendalian faktor risiko menjadi langkah penting yang tidak boleh ditunda.

Ketika gejala mulai muncul atau faktor risiko sudah dimiliki, langkah paling bijak adalah melakukan pemeriksaan menyeluruh, Menurut Putri, ada beberapa pemeriksaan yang bisa dilakukan dari mulai pemeriksaan dengan CT Scan 512 Slice untuk pencitraan detail jantung, MRI 3 Tesla untuk pemeriksaan lanjutan, serta Ekokardiografi dan Treadmill test untuk menilai fungsi jantung secara menyeluruh. Selain itu, tersedia juga Cath Lab untuk angiografi koroner guna memvisualisasikan pembuluh darah jantung dan mendeteksi adanya penyempitan maupun sumbatan.

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya penyempitan atau sumbatan pembuluh darah, penanganan lanjutan perlu dilakukan secara tepat dan terukur agar risiko serangan jantung bisa dicegah sejak dini. Menurut Putri, di Heart & Vascular Center Bethsaida Hospital, tersedia berbagai tindakan jantung mulai dari Percutaneous Coronary Intervention (PCI) atau yang sering disebut dengan tindakan pemasangan ring jantung, Coronary Artery Bypass Grafting (CABG) atau operasi bypass jantung, penggunaan Drug Coated Balloon (DCB) atau balon berlapis obat, Minimally Invasive Cardiac Surgery (MICS) atau operasi jantung dengan sayatan kecil, hingga Endovenous Laser Ablation (EVLA) untuk kasus pembuluh darah tertentu.

Meski pilihan tindakan yang tersedia beragam, penanganan penyakit jantung tetap sangat bergantung pada kompleksitas kasus yang dialami pasien. Menurut Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Intervensi Bethsaida Hospital Serang Fani Suslina Hasibuan, kondisi pembuluh darah koroner pada pasien bisa sangat bervariasi. Pada kondisi tertentu, penyumbatan yang dialami pasien bisa lebih kompleks, seperti bifurkasi, yaitu sumbatan di area percabangan pembuluh darah, Chronic Total Occlusion (CTO), penyempitan yang menyebar di sepanjang pembuluh darah (diffuse disease), hingga sumbatan pada lebih dari satu pembuluh darah (multivessel disease).

Fani menjelaskan, pada kasus penyumbatan yang sudah mengeras atau berkapur (kalsifikasi berat), tindakan aterektomi, yaitu prosedur untuk membantu mengatasi plak atau sumbatan berkapur di pembuluh darah, sering diperlukan. Beberapa opsi penanganan yang dapat dilakukan seperti Rotablator (alat pengikis sumbatan kapur keras), Intravascular Lithotripsy (gelombang kejut pemecah kerak kapur), maupun Orbital Atherectomy System (alat putar pengikis plak keras) bisa digunakan sesuai dengan kondisi plak berdasarkan hasil imaging intrakoroner/pencitraan pembuluh darah jantung seperti IVUS (USG melihat dalam pembuluh darah) atau OCT (kamera laser detail dalam pembuluh).

"Selain itu, pada kasus multivessel disease, pemilihan area sumbatan mana yang perlu ditangani juga memerlukan pemeriksaan fisiologi seperti Fractional Flow Reserve (FFR), Resting Full-cycle Ratio (RFR), atau Diastolic Pressure Ratio (DFR) agar tindakan pemasangan stent jantung dilakukan tepat sasaran, sekaligus memastikan prosedur berjalan lebih presisi dan aman,” kata Fani.

Read Entire Article
Parenting |