Menteri Iftitah Tugaskan Patriot Muda Jadi Problem Solver di Kawasan Transmigrasi

3 hours ago 8

INFO TEMPO - Indonesia membutuhkan lebih banyak anak muda yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga mampu memecahkan persoalan nyata di tengah masyarakat. Berangkat dari semangat tersebut, Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menugaskan 1.476 peserta Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 untuk menjadi problem solver di 53 kawasan transmigrasi di seluruh Indonesia.

“Indonesia membutuhkan SDM yang tidak lagi menunggu perintah, tetapi mampu melihat masalah, menganalisisnya, lalu menghadirkan solusi. Itulah yang kami sebut sebagai Disiplin Inisiatif,” kata Iftitah saat membuka Pembekalan Tim Ekspedisi Patriot 2026 di Bogor, Jawa Barat, Sabtu, 25 Juli 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Menurut dia, disiplin inisiatif merupakan karakter yang dibangun dari rasa ingin tahu, keberanian mengambil inisiatif, kreativitas, serta kemampuan berinovasi. Karakter tersebut penting untuk melahirkan sumber daya manusia unggul sekaligus calon-calon pemimpin Indonesia di masa depan.

“Saya ingin meniru prinsip disiplin Jerman, yaitu Disiplin Inisiatif. Dibangun dari rasa ingin tahu yang tinggi. SDM unggul tidak lagi menunggu perintah, tetapi memiliki daya kreatif dan inovatif,” ujarnya.

Iftitah menegaskan tantangan pembangunan Indonesia tidak cukup dijawab dengan teori di ruang kuliah. Karena itu, peserta TEP akan turun langsung ke lapangan untuk mengidentifikasi persoalan, memetakan potensi, melakukan analisis secara ilmiah, serta merumuskan solusi yang dapat diterapkan bersama masyarakat dan pemerintah daerah.

“Kalau adik-adik membuat skripsi dengan mengamati satu masalah, nah itulah ilmu. Ilmu itu harus ada metodologi, sistematika, analitika, dan keobjektifan. Tidak bisa hanya berdasarkan kasatmata atau informasi saja,” ucapnya.

Menurut Iftitah, kehadiran para Patriot muda di kawasan transmigrasi juga menjadi bagian dari investasi negara dalam mendistribusikan sumber daya manusia unggul ke berbagai penjuru Indonesia. “Kalau adik-adik tidak hadir di setiap sudut Indonesia, orang lain yang akan hadir. Karena itu, negara memfasilitasi kehadiran kalian untuk melihat langsung persoalan di lapangan. Kalau belum ada solusinya, tidak apa-apa. Kita cari bersama,” kata dia.

Dia mengingatkan para Patriot akan berhadapan dengan persoalan yang kompleks, bahkan sebagian telah berlangsung selama puluhan tahun. Karena itu, mereka tidak dituntut menyelesaikan seluruh persoalan dalam waktu singkat, tetapi diharapkan mampu menjadi bagian dari mata rantai penyelesaian yang berkelanjutan.

“Di transmigrasi ada persoalan lahan yang belum selesai selama 23 tahun. Jangan berharap semua selesai dalam satu atau dua hari. Yang penting kita terus melanjutkan. Siapa pun menterinya, siapa pun presidennya, pembangunan transmigrasi harus terus berjalan,” ujarnya.

Bagi Iftitah, keberhasilan pembangunan pada akhirnya sangat ditentukan oleh kualitas manusia yang menjalankannya. Dia mengutip filosofi yang dipegangnya sejak bertugas di militer, the man behind the gun.

“Sehebat apa pun alatnya, yang menentukan adalah manusianya. Semua harus dimulai dari niat yang baik."

Iftitah mengatakan, niat yang baik harus disertai kehendak yang kuat untuk menghasilkan perubahan.

“Will adalah kehendak yang kuat. Tetapi niatnya harus baik. Kalau niatnya baik, kehendak yang kuat akan menemukan jalannya,” ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Iftitah juga mendorong para peserta untuk mendokumentasikan pengalaman, gagasan, dan pembelajaran selama menjalankan ekspedisi. Dokumentasi tersebut diharapkan dapat dihimpun menjadi sebuah buku bertajuk Filosofi dan Pemikiran Patriot sebagai rekam jejak pemikiran generasi muda bagi pembangunan Indonesia.

Tim Ekspedisi Patriot 2026 terdiri atas 1.476 peserta yang terbagi dalam 246 tim dan akan bertugas di 53 kawasan transmigrasi. Kawasan tersebut meliputi 41 Kawasan Transmigrasi Prioritas Nasional, dua kawasan prioritas Kementerian Transmigrasi, serta 10 kawasan transmigrasi di Papua.

Program Tim Ekspedisi Patriot merupakan bagian dari Transmigrasi Patriot, salah satu program unggulan dalam agenda 5T Kementerian Transmigrasi. Program ini dirancang untuk mempertemukan ilmu pengetahuan dengan persoalan nyata di lapangan, sekaligus menghadirkan generasi muda sebagai agen perubahan di kawasan transmigrasi.

Melalui kehadiran para Patriot, Kementerian Transmigrasi berharap berbagai potensi daerah dapat ditemukan dan dikembangkan, persoalan masyarakat dapat dicarikan solusi secara ilmiah, serta lahir inovasi, kebijakan, dan kegiatan ekonomi baru yang mampu membuka lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan. Dari kawasan transmigrasi, para Patriot muda diharapkan membuktikan bahwa ilmu pengetahuan tidak berhenti menjadi teori, tetapi hadir sebagai solusi nyata bagi Indonesia. (*)

Read Entire Article
Parenting |