HASIL survei Kadin Indonesia Business Pulse Kuartal IImengungkap 65,2 persen pelaku usaha menganggap pelemahan nilai tukar rupiah berdampak negatif terhadap prospek bisnis dalam 12 bulan ke depan.
Direktur Insights Kadin Indonesia Institute Fahrul Flufian menyampaikan bahwa survei ini mengungkap berbagai situasi berdasarkan sentimen dan persepsi pelaku usaha.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Ini menjadi hal yang harus diperhatikan oleh pemerintah karena ini menjadi hal pemberat dunia usaha,” katanya saat konferensi pers di Menara Kadin, Jakarta, Rabu, 15 Juli 2026.
Survei ini melibatkan 276 anggota Kamar Dagang dan Industri (Kadin) dari 27 provinsi. Komposisi responden laki-laki 76,1 persen dan 23,9 persen perempuan, wilayah asal paling banyak dari Jakarta 31 persen, Jawa Timur 10,9 persen, dan Jawa Barat 10,1 persen.
Metodologi yang dilakukan adalah random sampling dengan menyebar kuesioner melalui WhatsApp dan formulir survei daring. Survei tersebut memiliki margin of error 5,9 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.
Dalam survei itu, kata Fahrul, sebanyak 35,1 persen responden merasa pelemahan rupiah berdampak cukup negatif, 30,1 persen merasa sangat negatif, dan 26,4 persen menjawab netral. Selain itu hanya 8,3 persen yang menganggap berdampak positif.
Selanjutnya, 23,1 persen responden mengatakan pelemahan rupiah berdampak pada biaya operasional. Kemudian 17,9 persen merasa margin keuntungan tertekan, serta 14,2 persen terdampak kenaikan biaya bahan baku impor.
Dalam survei ini juga terungkap bahwa tantangan utama pelaku usaha adalah birokrasi sebesar 16,4 persen dan kebijakan dan program pemerintah sebesar 14,8 persen.“Namun tetap optimistis untuk kondisi bisnis akan membaik kalau ada perbaikan dari kebijakan pemerintah pusat dan pulihnya pasar internasional,” ujar Fahrul.
Lalu, bagi 26,1 persen responden, stabilisasi nilai tukar rupiah menjadi yang paling utama untuk memulihkan kepercayaan pelaku usaha dan investor terhadap perekonomian Indonesia.Kedua, 19 persen menganggap perlunya kepastian regulasi dan investasi, ketiga, 18,8 persen responden butuh kejelasan arah kebijakan fiskal pemerintah.
“Di bawahnya baru perbaikan daya beli masyarakat, stabilitas politik, penyesuaian proyek strategis, dan menariknya, yang paling bawah itu penurunan suku bunga,” tutur Fahrul.
Kadin Indonesia Institute menyarankan pemerintah perlu memprioritaskan stabilisasi nilai tukar rupiah serta kepastian arah kebijakan dan penyederhanaan birokrasi. Keduanya menjadi sumber tekanan sekaligus harapan utama pelakuusaha di tengah pelemahan bisnis yang terus berlanjut.
Kesimpulan dari survei ini adalah persepsi pelaku usaha terhadap kondisi bisnis pada kuartal II 2026 masih terus melemah, yang diikuti dengan sikap hati-hati melalui penurunan rencana investasi untuk 6 bulan ke depan.

















































