Alasan Anak Muntah, Kenali Penyebab dan Kapan Harus Khawatir

2 weeks ago 16

ringkasan

  • Muntah pada anak adalah gejala umum yang disebabkan oleh berbagai kondisi, mulai dari infeksi viral seperti gastroenteritis hingga alergi makanan dan kondisi medis serius.
  • Penting untuk membedakan muntah dari gumoh normal pada bayi dan mewaspadai tanda-tanda dehidrasi serta komplikasi lain yang mungkin terjadi.
  • Segera cari bantuan medis jika anak muntah pada usia di bawah 6 bulan, muntah darah, demam tinggi, atau menunjukkan tanda dehidrasi parah seperti mata cekung dan lesu.

Fimela.com, Jakarta Muntah adalah gejala umum yang sering dialami oleh anak-anak, bisa disebabkan oleh berbagai kondisi. Penting bagi Sahabat Fimela untuk memahami alasan anak muntah agar penanganan yang diberikan tepat sasaran.

Dari infeksi viral ringan hingga masalah kesehatan yang lebih serius, mengenali penyebabnya sangat krusial. Ini membantu mencegah komplikasi yang tidak diinginkan, seperti dehidrasi, yang dapat membahayakan buah hati Anda.

Artikel ini akan mengulas berbagai alasan anak muntah, gejala yang menyertainya, serta kapan waktu yang tepat untuk mencari bantuan medis. Mari kita selami lebih dalam untuk memastikan kesehatan dan kenyamanan si kecil.

Penyebab Umum Muntah pada Anak: Infeksi dan Pencernaan

Salah satu alasan anak muntah yang paling sering terjadi adalah gastroenteritis viral, atau yang dikenal sebagai flu perut. Kondisi ini disebabkan oleh infeksi pada sistem pencernaan, umumnya oleh virus, meskipun kadang juga bakteri. Gejala lain yang sering menyertai meliputi diare, demam, dan nyeri perut. Rotavirus dan Norovirus adalah penyebab umum kondisi ini pada anak-anak.

Selain gastroenteritis, keracunan makanan juga bisa menjadi pemicu muntah pada anak. Kondisi ini terjadi akibat mengonsumsi makanan yang terkontaminasi kuman karena persiapan atau penyimpanan yang tidak tepat. Gejala keracunan makanan mirip dengan gastroenteritis, namun seringkali muncul lebih cepat dan bisa lebih parah.

Pada bayi, refluks gastroesofageal (GERD) dan gumoh adalah hal yang umum. Gumoh adalah kondisi normal di mana bayi mengeluarkan sedikit makanan setelah menyusu tanpa usaha. Ini berbeda dengan muntah yang melibatkan kontraksi otot perut yang kuat. Namun, jika gumoh semakin parah dan disertai gejala lain, bisa jadi itu adalah tanda GERD.

Alergi makanan juga dapat menyebabkan muntah pada anak. Muntah bisa menjadi satu-satunya gejala reaksi alergi dan biasanya terjadi dengan cepat setelah mengonsumsi makanan pemicu. Beberapa makanan umum yang bisa menyebabkan reaksi ini termasuk kacang tanah, kacang pohon, ikan, dan kerang.

Faktor Lain Pemicu Muntah: Dari Batuk hingga Infeksi Lain

Tidak hanya masalah pencernaan, batuk parah juga bisa menjadi alasan anak muntah. Batuk yang keras, terutama pada anak-anak yang memiliki riwayat refluks, dapat memicu refleks muntah. Ini seringkali terjadi karena tekanan yang dihasilkan saat batuk.

Bagi sebagian anak, mabuk perjalanan (motion sickness) adalah pemicu muntah. Kondisi ini terjadi ketika gerakan, seperti saat berada di dalam mobil atau kereta, mengganggu keseimbangan tubuh dan memicu rasa pusing serta muntah. Gejala ini biasanya mereda setelah perjalanan berakhir.

Muntah juga bisa menjadi indikasi infeksi lain yang tidak langsung berhubungan dengan sistem pencernaan. Misalnya, Infeksi Saluran Kemih (ISK) dapat menyebabkan muntah pada anak, terutama pada anak kecil, meskipun gejalanya seringkali tidak spesifik. Selain itu, infeksi non-gastrointestinal seperti pilek atau infeksi telinga juga bisa menyebabkan beberapa episode muntah.

Kondisi Langka dan Tanda Bahaya yang Perlu Diwaspadai

Selain penyebab umum, ada beberapa alasan anak muntah yang lebih jarang terjadi namun memerlukan perhatian serius. Salah satunya adalah Pyloric Stenosis, kondisi di mana saluran antara lambung dan usus menjadi sempit, menyebabkan muntah proyektil pada bayi usia 2 minggu hingga 2 bulan. Kondisi serius lain termasuk cedera kepala atau trauma otak, apendisitis, dan obstruksi usus, yang semuanya membutuhkan penanganan medis segera.

Muntah juga bisa disebabkan oleh faktor lain seperti migrain, di mana sakit kepala parah disertai muntah, atau reaksi terhadap obat-obatan tertentu dan zat beracun. Bahkan, makan berlebihan atau stres emosional yang ekstrem juga bisa memicu muntah pada anak.

Komplikasi utama dari muntah pada anak adalah dehidrasi, yang sangat berisiko pada bayi dan anak kecil. Sahabat Fimela perlu mengenali tanda-tanda dehidrasi dan kapan harus mencari pertolongan medis darurat. Jangan tunda untuk membawa si kecil ke dokter jika ada kekhawatiran.

Tanda-tanda dehidrasi parah meliputi:

  • Popok basah kurang dari empat kali sehari pada bayi.
  • Mulut, lidah, dan bibir kering.
  • Mata cekung.
  • Lesu atau mudah tersinggung.
  • Sedikit air mata saat menangis.
  • Kulit pucat atau berbintik-bintik.
  • Tangan dan kaki dingin.
  • Kantuk atau sulit dibangunkan.

Segera cari pertolongan medis jika anak Anda mengalami:

  • Muntah pada bayi di bawah 6 bulan.
  • Muntah selama lebih dari 12 jam pada anak di bawah 3 tahun, lebih dari 24 jam pada anak di bawah 6 tahun, atau lebih dari 48 jam pada anak di atas 6 tahun.
  • Muntah darah, empedu (cairan hijau), atau sesuatu yang terlihat seperti bubuk kopi.
  • Nyeri perut parah.
  • Kesulitan bernapas.
  • Sakit kepala parah atau leher kaku.
  • Demam tinggi (38°C untuk bayi di bawah 3 bulan, atau 39°C untuk bayi di atas 3 bulan).
  • Tanda-tanda dehidrasi parah.
  • Muntah setelah cedera kepala.
  • Muntah proyektil (menyembur kuat).
  • Perut kembung atau nyeri tekan.
  • Kulit dingin atau tidak berwarna seperti biasa.
  • Anak terlihat atau bertindak sangat sakit.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

  • Anisha Saktian Putri

    Author

    Anisha Saktian Putri
Read Entire Article
Parenting |