Bukan Dimarahi, Begini Cara Bijak Menyikapi Anak Saat Mereka Melakukan Kesalahan

3 months ago 52

Fimela.com, Jakarta Sahabat Fimela, setiap anak tentu pernah melakukan kesalahan—baik yang kecil seperti menjatuhkan barang, maupun yang lebih serius seperti berbohong atau melanggar aturan. Bagi orangtua, momen seperti ini bisa memicu berbagai reaksi, mulai dari rasa kecewa, marah, hingga bingung harus bersikap seperti apa. Tak jarang, kemarahan menjadi reaksi spontan yang muncul lebih dulu—meskipun niatnya untuk mendidik.

Namun, penting untuk disadari bahwa cara orangtua merespons kesalahan anak akan memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri, memahami kegagalan, dan belajar memperbaiki diri. Reaksi yang terlalu keras bisa membuat anak takut untuk terbuka atau malah merasa dirinya tidak cukup baik. Sebaliknya, pendekatan yang tenang dan bijak justru bisa jadi momen berharga untuk membentuk karakter anak yang lebih kuat dan bertanggung jawab.

Maka dari itu, dilansir dari stpetersprep.co.uk, berikut adalah enam cara bijak yang bisa dilakukan orangtua saat anak melakukan kesalahan.

1. Ciptakan Ruang Aman untuk Bercerita

Langkah pertama yang penting adalah menciptakan suasana di mana anak merasa aman untuk bercerita. Saat anak tahu mereka tidak akan langsung dimarahi atau dihakimi, mereka akan lebih terbuka untuk menjelaskan apa yang terjadi. Dengarkan dengan tenang, tanpa memotong atau memberi komentar yang menyudutkan, biarkan mereka menyampaikan perasaan dan pemikirannya dengan jujur.

Ruang aman ini bisa dimulai dari kebiasaan sehari-hari. Misalnya, selalu beri waktu untuk ngobrol santai sebelum tidur atau saat makan bersama. Lewat kebiasaan kecil seperti ini, anak akan terbiasa berbicara dengan orangtuanya saat mereka menghadapi masalah—bukan malah menyembunyikannya karena takut dimarahi.

2. Ajarkan Tanggung Jawab, Bukan Menyalahkan

Kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Namun, penting juga bagi anak untuk menyadari bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensinya. Daripada memarahi, lebih baik ajak anak berdiskusi tentang dampak dari perbuatannya. Ini akan membantu mereka memahami bahwa pilihan yang mereka ambil bisa membawa akibat tertentu.

Saat anak merasa didampingi—bukan disalahkan, mereka akan lebih mudah menerima tanggung jawab. Misalnya, jika anak memecahkan barang, jangan langsung berkata, “Kamu ceroboh!” Tapi tanyakan, “Apa yang bisa kita lakukan supaya ini tidak terjadi lagi?” Dengan cara ini, anak belajar memperbaiki sikapnya dengan kesadaran, bukan karena takut dihukum.

3. Bantu Anak Melihat dari Sudut Pandang yang Lebih Luas

Anak-anak cenderung melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya sendiri, dan satu kesalahan kecil bisa terasa seperti bencana besar. Di sinilah peran orangtua sangat penting untuk membantu mereka melihat bahwa kegagalan itu normal dan bisa dilewati. Ceritakan pengalaman pribadimu saat pernah melakukan kesalahan dan bagaimana kamu menghadapinya. 

Dengan memberi sudut pandang yang lebih luas, anak akan lebih tenang dan tidak terjebak dalam perasaan bersalah. Mereka jadi tahu bahwa semua orang pernah gagal, dan justru dari sanalah kita belajar jadi lebih baik. Sikap ini juga akan membantu anak menghadapi tekanan di sekolah atau pergaulan dengan lebih bijak.

4. Validasi Perasaan Mereka

Setelah anak berbuat salah, bisa jadi mereka merasa malu, marah, atau kecewa pada dirinya sendiri. Tugas orangtua adalah membantu anak mengenali dan memahami perasaannya itu. Katakan bahwa tidak apa-apa merasa sedih atau kesal, dan perasaan itu wajar terjadi saat kita menghadapi sesuatu yang tidak berjalan sesuai harapan.

Dengan mengakui perasaan anak, kita mengajarkan mereka untuk tidak menekan emosi. Anak belajar bahwa emosi bukan sesuatu yang harus disembunyikan, tapi bisa dipahami dan dikelola. Ini adalah fondasi penting dalam membangun kecerdasan emosional mereka sejak dini.

5. Beri Dukungan, Bukan Rasa Kasihan

Kalimat seperti, “Kasihan ya kamu gagal,” terdengar baik, tapi bisa membuat anak merasa lemah atau tidak mampu. Tanpa disadari, rasa kasihan bisa merusak kepercayaan diri mereka. Lebih baik fokus pada usaha dan proses yang telah dilakukan anak, serta dorong mereka untuk mencoba lagi. 

Misalnya, daripada berkata, “Sayang banget ya kamu kalah,” lebih baik katakan, “Usahamu tadi luar biasa, ayo kita lihat cara lain supaya bisa lebih baik di percobaan berikutnya.” Sikap ini menumbuhkan keyakinan dalam diri anak bahwa mereka mampu berkembang dan memperbaiki diri dari kesalahan.

6. Ajak Anak Menyelesaikan Masalahnya Sendiri

Ketika anak berbuat salah, orangtua seringkali tergoda untuk langsung turun tangan menyelesaikan masalah. Tapi justru di momen seperti ini, anak bisa belajar banyak jika diberi kesempatan untuk berpikir dan mencari solusi sendiri. Ajak mereka berdiskusi tentang langkah apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki keadaan.

Memberi ruang bagi anak untuk menyelesaikan masalah juga melatih kemandirian dan rasa tanggung jawab. Kamu bisa membantu dengan memberikan panduan, bukan jawaban. Misalnya, “Menurut kamu, apa yang bisa dilakukan sekarang?” atau “Mau dicoba bareng-bareng langkahnya?” Pendekatan ini membantu anak merasa mampu dan percaya diri dalam menghadapi tantangan.

Sahabat Fimela, yuk, lebih bijak lagi dalam menyikapi anak saat melakukan kesalahan dengan beberapa cara di atas! Semoga bermanfaat, ya.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

  • Amelia Salsabila Aswandi

    Author

    Amelia Salsabila Aswandi
  • Nabila Mecadinisa
Read Entire Article
Parenting |