Fimela.com, Jakarta Setiap orang tua tentu ingin melihat anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, berani mencoba hal baru, dan tidak mudah menyerah. Salah satu karakter penting yang bisa membentuk hal tersebut adalah jiwa kompetitif. Tapi, penting untuk diingat bahwa semangat bersaing yang sehat tidak selalu soal menjadi juara—melainkan soal bagaimana anak bisa belajar, berkembang, dan tetap menghargai orang lain.
Dilansir dari Breaking Muscle, mengikuti kompetisi sejak usia dini bisa memberikan banyak manfaat, seperti meningkatkan rasa percaya diri, melatih sportivitas, hingga menumbuhkan minat anak terhadap aktivitas yang ia sukai. Meski begitu, jika tidak diarahkan dengan bijak, kompetisi bisa berubah menjadi tekanan yang justru berdampak negatif bagi anak.
Agar anak dapat tumbuh dengan semangat bersaing yang sehat dan positif, berikut lima cara sederhana yang bisa diterapkan orang tua sejak dini.
1. Berikan Struktur
Sama seperti tanaman yang butuh tanah subur untuk tumbuh, anak juga perlu lingkungan yang sehat agar siap bersaing. Orang tua bisa mulai dengan membangun rasa aman melalui komunikasi terbuka.
Tingkatkan rasa percaya diri anak dengan memberinya tanggung jawab kecil, seperti menyiapkan perlengkapan lomba bersama. Tak kalah penting, kehadiran guru atau pelatih yang suportif juga bisa memberikan motivasi besar bagi anak. Anak yang merasa didukung akan lebih berani tampil dan berusaha maksimal.
2. Beri Ruang untuk Jadi Diri Sendiri
Terkadang, kita tanpa sadar membatasi potensi anak dengan ekspektasi tertentu. Padahal, setiap anak punya cara sendiri dalam menghadapi kompetisi. Misalnya, ada anak yang percaya diri di atas panggung, sementara yang lain cenderung pemalu dan butuh pendekatan berbeda.
Sebagai orang tua, penting untuk memberi ruang agar anak bisa mengekspresikan dirinya tanpa tekanan. Hindari membandingkan anak dengan peserta lain atau bahkan dengan saudaranya sendiri. Ketika anak diberi kesempatan menjadi diri sendiri, proses belajar dan pengalaman kompetisinya akan terasa lebih menyenangkan.
3. Selingi dengan Aktivitas Pendamping
Mengikuti kompetisi tidak harus menjadi satu-satunya kegiatan anak. Justru, waktu bermain bebas adalah “teman tumbuh” terbaik bagi anak yang sedang belajar bersaing. Menurut Breaking Muscle, proporsi ideal untuk anak usia di bawah tujuh tahun adalah sekitar 70% bermain bebas dan 30% aktivitas terstruktur.
Terlalu fokus pada latihan intensif bisa membuat anak cepat jenuh, bahkan mengalami kelelahan emosional. Pastikan anak tetap punya cukup waktu untuk bermain, bersantai, dan menjelajahi dunia dengan cara mereka sendiri.
4. Pahami Apa yang Mereka Butuhkan
Ada anak yang butuh banyak afirmasi, ada yang lebih nyaman dalam tim, dan ada juga yang lebih suka lomba individu. Kenali karakter anak dan sesuaikan pendekatan orang tua dalam mendampingi mereka. Dengan memahami apa yang anak butuhkan, orang tua bisa memberikan dukungan yang lebih tepat sasaran.
5. Lakukan Secara Bertahap
Melatih anak untuk siap bersaing tak harus dilakukan secara terburu-buru. Ada baiknya orang tua memberi anak kesempatan mencoba pengalaman yang mirip dengan suasana lomba terlebih dahulu, seperti tampil dalam pertunjukan sekolah atau mengikuti kegiatan kecil yang lebih santai.
Selain itu, hindari menjadwalkan terlalu banyak kompetisi dalam waktu singkat. Anak usia dini hanya perlu mengikuti lomba beberapa kali dalam setahun. Sisanya, fokus saja pada latihan ringan dan aktivitas yang menyenangkan. Dengan cara ini, anak bisa belajar bersaing tanpa kehilangan kesenangan dalam prosesnya.
Penulis: Siti Nur Arisha
Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.