Fimela.com, Jakarta Perpisahan orangtua bukan berarti harus mengorbankan anak. Justru anak harus mendapatkan perhatian lebih agar tidak menjadi trauma bagi anak.
Acha Septriasa pun menunjukkan sikap dewasa yang ia tunjukkan dalam mengurus buah hatinya setelah bercerai. Melalui unggahan di Instagram, Acha membagikan momen kebersamaannya dengan sang putri, disertai tagar #coparenting dan #parentsdutyneverends.
Dua tagar Acha Septriasa seolah menjadi pesan jelas bahwa meski hubungan rumah tangganya telah berakhir, perannya sebagai orangtua tetap berjalan penuh tanggung jawab.
Lalu sebenarnya apa itu Co-parenting? Melansir verywellmind.com? Co-parenting merupakan pengaturan di mana kedua orangtua bekerja sama dan berbagi tanggung jawab dalam membesarkan anak, meskipun mereka tidak lagi menikah atau berada dalam hubungan romantis.
“Anak-anak sering kesulitan menghadapi perubahan pada unit keluarga mereka, dan penambahan, pengurangan, atau transisi figur orang tua dapat menjadi hal yang sangat berat bagi mereka,”kata Sabrina Romanoff, PsyD, seorang psikolog klinis dan profesor di Yeshiva University.
Menunjukkan hubungan yang kooperatif dan saling menghormati di hadapan mereka dapat membantu meningkatkan perkembangan jangka panjang anak.
Para peneliti telah mengidentifikasi tiga jenis utama hubungan co-parenting pasca perceraian:
1. Conflicted Co-Parenting (Co-Parenting dengan Konflik)
Dalam pengaturan ini, orangtua sering terlibat dalam konflik dan memiliki komunikasi yang buruk satu sama lain. Mereka mungkin memiliki jadwal, gaya pengasuhan, aturan, dan prioritas yang berbeda, serta kesulitan mencapai kesepakatan mengenai kebutuhan atau rutinitas harian anak.
Co-parenting konflik dapat berdampak berat pada anak, karena mereka mungkin merasa terjebak di tengah perselisihan orangtua. Penelitian menunjukkan bahwa co-parenting jenis ini dapat meningkatkan risiko anak mengalami masalah perilaku, serta gangguan kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, dan tekanan psikologis.
2. Cooperative Co-Parenting (Co-Parenting yang Kooperatif)
Dalam pengaturan ini, kedua orangtua bekerja sama untuk membuat keputusan terkait pengasuhan anak. Pengaturan ini melibatkan komunikasi secara rutin, berbagi informasi tentang kebutuhan dan perkembangan anak, serta mengoordinasikan jadwal agar anak dapat menghabiskan waktu berkualitas bersama kedua orang tua.
Co-parenting yang kooperatif dapat memberikan manfaat besar bagi anak karena menghadirkan lingkungan yang stabil, konsisten, dan penuh dukungan. Penelitian menunjukkan bahwa co-parenting yang kooperatif berkaitan dengan peningkatan harga diri, prestasi akademik yang lebih baik, dan kesehatan mental yang lebih baik secara keseluruhan pada anak.
3. Parallel Co-Parenting (Co-Parenting Paralel)
Co-parenting paralel berarti kedua orang tua menjalankan pengasuhan secara mandiri, dengan sedikit komunikasi, keterlibatan, kerja sama, atau konflik satu sama lain.
Rutinitas rumah tangga dan aturan pengasuhan mereka sering berbeda, yang dapat menyebabkan kurangnya konsistensi dalam kehidupan anak. Kesamaan aturan atau rutinitas yang ada biasanya tidak direncanakan atau dilakukan secara sengaja.
Penting untuk dicatat bahwa pengaturan co-parenting dapat bersifat fleksibel dan dapat berubah seiring waktu, sejalan dengan perkembangan dinamika dan situasi kedua orang tua.
Seperti Apa Bentuk Co-Parenting yang Sehat?
Co-parenting yang sehat melibatkan penyusunan rencana dan menyelaraskan diri dengan co-parent anak Anda dalam hal-hal seperti:
Jadwal kunjungan:
Kedua orang tua perlu menyusun jadwal kunjungan yang memastikan bahwa masing-masing mendapatkan waktu berkualitas bersama anak. Jadwal tersebut harus mempertimbangkan hari kerja, akhir pekan, hari libur, ulang tahun, dan acara khusus lainnya. Orangtua juga perlu membicarakan kapan dan bagaimana mereka dapat menghubungi anak saat anak bersama orangtua yang lain.
Rutinitas harian:
Untuk menjaga konsistensi di kedua rumah, akan bermanfaat jika kedua orang tua membicarakan hal-hal seperti pola makan anak, kegiatan ekstrakurikuler, waktu tidur, waktu bangun, dan waktu penggunaan gawai (screen time), serta hal lainnya.
Pendidikan:
Kedua orang tua harus selaras mengenai di mana dan bagaimana anak akan menempuh pendidikan. Penting juga untuk menyepakati pembagian tanggung jawab seperti membayar biaya sekolah, menandatangani surat izin, mengawasi pekerjaan rumah, menghadiri pertemuan orangtua-guru, dan berpartisipasi dalam kegiatan sekolah lainnya.
Kebutuhan medis:
Penting bagi kedua orangtua untuk menentukan siapa yang akan menemani anak ke dokter dan bagaimana mengkoordinasikan persetujuan untuk perawatan medis. Kedua orangtua juga harus mengetahui masalah kesehatan yang dimiliki anak serta mampu menangani keadaan darurat medis.
Keuangan:
Kedua orangtua perlu mendiskusikan dan mencapai kesepakatan finansial yang mengutamakan kepentingan terbaik anak. Jika orangtua telah menjalani proses perceraian, pengadilan mungkin mewajibkan salah satu pihak untuk membayar child support (tunjangan anak).
Tips untuk Sukses dalam Co-Parenting
Berikut beberapa tips yang dapat membantu dan mantan pasangan berhasil membesarkan anak secara bersama:
Jaga komunikasi secara rutin:
Penting untuk menjaga komunikasi yang teratur dengan anak, co-parent, serta pihak lain seperti orangtua tiri, kakek-nenek, atau pengasuh lain yang terlibat dalam kehidupan anak. Akan bermanfaat untuk berbagi berita penting dan pembaruan terkait perkembangan anak, sekolah, kegiatan, masalah medis, dan rutinitas dengan semua pihak yang berkepentingan.
Susun rencana co-parenting:
Buat rencana bersama yang mencakup faktor-faktor yang telah dibahas sebelumnya, seperti jadwal kunjungan, rutinitas harian, pendidikan, keuangan, kebutuhan medis, dan lainnya.
Ciptakan pengaturan yang sesuai untuk keduanya:
Rancang pengaturan co-parenting yang sesuai bagi dan mantan pasangan. Jika tinggal berdekatan, anak dapat menghabiskan hari atau minggu bergantian bersama masing-masing orangtua. Jika jadwal kerja berbeda, anak bisa menghabiskan pagi bersama salah satu orang tua dan sore bersama yang lain. Jika tinggal di kota yang berbeda, anak mungkin perlu tinggal bersama satu orang tua saat hari sekolah dan bersama yang lain saat liburan.
Diskusikan perubahan pada rencana:
Rencana co-parenting dapat berubah seiring kebutuhan anak dan situasi orang tua. Bahas setiap perubahan atau pembaruan rencana dengan semua pihak yang terlibat agar semua berada pada pemahaman yang sama.
Bersikap fleksibel:
Ada kalanya rencana tidak berjalan sesuai harapan meskipun sudah diatur sebaik mungkin. Sisakan ruang untuk fleksibilitas jika orang tua lain terlambat atau tidak bisa menjemput anak, pengasuh tidak datang tepat waktu, sekolah pulang lebih awal, atau terjadi keadaan darurat yang tak terduga. Bekerja sama dengan mantan pasangan saat Anda mampu dapat membantu mendapatkan kerja sama mereka ketika Anda membutuhkan bantuan.
Hargai perbedaan gaya pengasuhan:
Pahami bahwa setiap orang memiliki gaya pengasuhan yang berbeda. Kecuali gaya pengasuhan mantan pasangan membahayakan anak, hargailah mereka dan biarkan mereka menjalin ikatan dengan anak dengan cara mereka sendiri. Paparan terhadap berbagai pendekatan pengasuhan dapat membantu anak belajar beradaptasi dengan situasi dan hubungan yang berbeda.
Berikan ruang untuk orangtua tiri:
Anda atau mantan pasangan mungkin akan menjalin hubungan baru. Ketika pasangan baru diperkenalkan kepada anak, mereka mungkin mengambil peran sebagai orangtua tiri. Selama mereka peduli pada anak dan menghormati hubungan dengan anak, usahakan memberi ruang bagi mereka dalam kehidupan anak, bukan membenci, memusuhi, atau merendahkan keberadaan mereka.
Jaga interaksi tetap sopan:
Ada kalanya harus bertemu atau berinteraksi dengan mantan pasangan atau orang-orang dalam hidup mereka, seperti anggota keluarga atau pasangan mereka saat ini—misalnya saat mengantar atau menjemput anak, di pesta ulang tahun anak, atau acara sekolah. Usahakan agar interaksi tetap sopan dan saling menghormati.
Manfaatkan waktu bersama anak sebaik mungkin:
Pastikan untuk menghabiskan waktu berkualitas bersama anak ketika mereka bersamamu, terutama jika waktu tersebut terbatas. Kurangi komitmen atau gangguan lain, dan rencanakan kegiatan menyenangkan untuk dilakukan bersama. Ciptakan ritual khusus yang unik bagi hubunganmu dan anak.
Persiapkan diri saat anak tidak bersamamu
Wajar jika merasa kehilangan atau kesepian ketika anak tidak bersamamu. Perasaan ini mungkin lebih terasa di akhir pekan atau hari libur. Cobalah untuk mengubah cara pandang dari rasa kehilangan menjadi kesempatan untuk beristirahat dan bersantai. Rencanakan kegiatan yang dinikmati tetapi mungkin jarang dilakukan saat anak bersama, seperti bertemu teman, menonton film, merencanakan perjalanan, atau melakukan hal-hal untuk diri sendiri.
Artis-artis yang juga menerapkan co-parenting
Selain Acha, berikut ini beberapa artis yang memilih menerapkan co parenting.
Gading Marten dan Gisella Anastasia resmi bercerai pada 2019, namun keduanya tetap menjaga hubungan baik demi putri mereka, Gempita “Gempi” Nora Marten. Sejak awal, Gading dan Gisel sepakat untuk mengutamakan kebahagiaan dan perkembangan Gempi di atas kepentingan pribadi mereka.
Bahkan, di saat masing-masing sudah memiliki pasangan baru namun mengurus Gempita bersama masih menjadi fokus. Terlihat ketiga masih sering berlibur bersama. Gading dan Gisel pun masih hadir berdua di acara sekolah Gempita.
Co-parenting yang mereka jalankan sering mendapat pujian publik, karena menjadi contoh bahwa perpisahan orangtua tidak harus berdampak negatif pada anak jika dikelola dengan dewasa, saling menghormati, dan fokus pada kepentingan anak.
Nafa Urbach dan Zack Lee resmi bercerai pada 2017, setelah 9 tahun menikah. Meski berpisah, keduanya sepakat untuk tetap kompak membesarkan putri mereka, Mikhaela Lee Jowono.
Natasha Rizky dan Deddy Mahendra Desta resmi bercerai pada Juni 2023, setelah 10 tahun menikah. Dari pernikahan tersebut, mereka memiliki tiga anak: Mikhael Moeis, Megumi Arrawda Syarma, dan Miguel Arrawsya Janne.
Dalam menjalani co-parenting, Natasha dan Desta menunjukkan sikap yang dewasa dan kompak demi anak-anak mereka. Terbaru keduanya hadir di acara wisuda anak sulung mereka.
Gwyneth Paltrow dan Chris Martin dikenal sebagai pelopor istilah “conscious uncoupling”, yang berarti berpisah dengan cara sadar dan penuh kesadaran emosional. Meskipun bercerai pada 2016, keduanya berhasil membuktikan bahwa hubungan pasca-perpisahan tetap bisa harmonis.
Mereka selalu menempatkan anak-anak mereka, Apple dan Moses, sebagai prioritas utama dalam hidup. Gwyneth dan Chris masih sering menghabiskan waktu bersama di acara keluarga, liburan, maupun momen penting anak.
Nick Cannon dan Mariah Carey, yang bercerai pada 2016, menjalani co-parenting dengan menekankan kepentingan anak kembar mereka, Moroccan dan Monroe, di atas segalanya.
Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.