Fakta: 80% Ibu Bekerja Rentan Burnout, Kenali Penyebabnya

1 month ago 22

ringkasan

  • Burnout pada ibu bekerja adalah kondisi kelelahan fisik, mental, dan emosional akibat tekanan peran ganda yang berkepanjangan, memengaruhi kualitas hidup dan keharmonisan keluarga.
  • Gejala burnout meliputi kelelahan fisik, kesulitan kognitif, perubahan emosi seperti mudah marah atau sedih, serta kecenderungan untuk mengisolasi diri.
  • Mengatasi burnout memerlukan manajemen waktu, prioritas, self-care, dukungan sosial, komunikasi efektif, serta kemampuan mengelola ekspektasi dan melepaskan perasaan bersalah.

Fimela.com, Jakarta Sahabat Fimela, menjadi seorang ibu bekerja seringkali dihadapkan pada tantangan besar dalam menjalankan peran ganda. Kondisi ini rentan memicu kelelahan fisik, mental, dan emosional yang berkepanjangan, dikenal sebagai burnout.

Dilansir dari berbagai sumber, burnout pada ibu bekerja adalah masalah serius yang dapat memengaruhi kualitas hidup secara signifikan. Keharmonisan keluarga juga bisa terganggu jika kondisi ini tidak segera diatasi dengan tepat.

Oleh karena itu, penting bagi setiap ibu bekerja untuk memahami gejala dan menemukan strategi efektif. Mengenali tanda-tanda awal adalah langkah pertama menuju pemulihan dan keseimbangan hidup yang lebih baik.

Mengapa Ibu Bekerja Rentan Mengalami Burnout?

Burnout pada ibu pekerja tidak terjadi begitu saja, melainkan akumulasi dari berbagai tekanan. Salah satu penyebab utamanya adalah beban kerja berlebihan, baik di kantor maupun di rumah, tanpa istirahat yang memadai. Tuntutan pekerjaan yang tinggi seringkali berlanjut dengan tanggung jawab rumah tangga yang tak kalah berat.

Selain itu, tekanan ekspektasi sosial yang tinggi juga turut berkontribusi besar. Banyak ibu merasa harus selalu tampil sempurna dalam setiap aspek kehidupan, mulai dari karier hingga mengurus anak dan rumah. Hal ini menciptakan beban psikologis yang luar biasa, seolah tidak ada ruang untuk kesalahan.

Kurangnya waktu untuk istirahat dan "me time" menjadi pemicu lain yang signifikan. Ibu yang terlalu sibuk seringkali kesulitan meluangkan waktu untuk merawat dirinya sendiri, sehingga kelelahan emosional terus menumpuk. Tanpa jeda yang cukup, energi fisik dan mental akan terkuras habis.

Dukungan yang minim dari pasangan atau keluarga besar juga memperparah kondisi. Tanpa bantuan yang berarti, ibu harus menjalankan semuanya sendiri, meningkatkan risiko kelelahan. Perasaan bersalah karena perhatian yang terbagi antara pekerjaan dan keluarga juga sering menghantui, menambah beban pikiran.

Kenali Gejala Burnout yang Perlu Diwaspadai

Penting bagi Sahabat Fimela untuk mengenali tanda-tanda burnout agar dapat segera mengambil tindakan. Gejala fisik yang sering muncul meliputi kelelahan sepanjang waktu, sakit kepala, nyeri leher, dan nyeri otot yang berkepanjangan. Perubahan nafsu makan dan pola tidur juga menjadi indikator penting.

Secara mental, ibu yang mengalami burnout mungkin merasa tidak berdaya atau putus asa. Mereka mulai meragukan kemampuan diri sendiri dan kehilangan motivasi untuk melakukan berbagai hal. Sulit berpikir jernih dan mudah lupa menjadi keluhan umum yang mengganggu produktivitas.

Gejala emosional juga sangat terasa, seperti menjadi lebih cepat marah atau mudah tersinggung. Perasaan sendirian di dunia ini, bahkan di tengah keluarga, bisa muncul. Tidak jarang ibu tiba-tiba merasa sedih dan menangisi hal-hal sepele, serta cenderung mengisolasi diri dari lingkungan sosial.

Kecenderungan untuk overthinking juga merupakan tanda burnout yang umum. Pikiran terus berputar pada masalah dan kekhawatiran, menyebabkan stres kronis. Jika beberapa gejala ini dirasakan secara terus-menerus, ini adalah sinyal untuk segera mencari bantuan dan solusi.

Solusi Efektif untuk Mencapai Keseimbangan Hidup

Mengatasi burnout membutuhkan langkah konkret dan perubahan bertahap. Salah satu kunci utamanya adalah manajemen waktu dan prioritas yang bijak. Sahabat Fimela dapat memulai dengan membuat daftar pekerjaan dan menggunakan metode "time blocking" untuk mengalokasikan waktu secara efektif. Hindari multitasking yang justru memecah fokus dan meningkatkan stres.

Aspek penting lainnya adalah self-care dan kesehatan mental. Luangkan waktu khusus untuk diri sendiri atau "me time", meskipun hanya 1-2 jam. Aktivitas seperti pilates, spa, atau sekadar menikmati kopi di kafe dapat mengisi ulang energi. Pastikan juga untuk mencukupi waktu beristirahat dan tidur berkualitas, serta menjaga pola makan sehat dan berolahraga ringan.

Dukungan sosial dan komunikasi yang baik juga sangat krusial. Jangan ragu untuk mengomunikasikan perasaan Anda kepada pasangan atau orang terdekat. Meminta bantuan dari keluarga atau asisten rumah tangga untuk mengurus anak dan pekerjaan rumah bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah cerdas untuk mengurangi beban.

Terakhir, penting untuk mengelola ekspektasi dan melepaskan perasaan bersalah. Tinggalkan perfeksionisme dan sesuaikan standar yang realistis. Ingatlah bahwa ibu bekerja untuk membantu keluarga, dan anak akan tumbuh lebih optimal ketika diasuh oleh ibu yang bahagia. Jika gejala burnout berlanjut, jangan ragu mencari bantuan profesional dari psikolog atau psikiater.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

  • Adinda Tri Wardhani

    Author

    Adinda Tri Wardhani
Read Entire Article
Parenting |