INDEKS harga saham gabungan (IHSG) pada Selasa pagi, 14 Juli 2026 dibuka menguat 0,33 persen ke posisi 6.057,76 dan berada di level 6.074 hingga Selasa siang. IHSG hari ini bertahan di atas level 6.000 setelah Lembaga pemeringkat internasional, S&P Global Ratings, merilis penilaian terkini peringkat utang negara atau sovereign credit rating Indonesia pada 13 Juli 2026.
S&P mempertahankan peringkat utang negara di level BBB alias layak investasi (investment-grade) dengan prospek tetap stabil. Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha Badan Usaha Milik Negara Kementerian Perekonomian Ferry Irawan, menyatakan penilaian jadi momentum yang perlu terus dorong dan merupakan aspek positif dari perekonomian.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Indeks saham mulai berbaik ke level 6.000 pada penutupan Senin kemarin setelah sempat berada di level 5.000. “Kalau kita lihat, IHSG sudah kembali ke 6 ribuan per kemarin sore, mudah-mudahan masih tetap di 6 ribuan,” ucap Ferry dalam agenda Risk and Governance Summit (RGS) 2026 di Jakarta, Selasa, 14 Juli 2026
Analis pasar modal sekaligus pendiri Republik Investor Hendra Wardana menyatakan berita positif dari S&P Global Ratings menjadi katalis utama yang mendorong IHSG menguat hingga kembali menembus level psikologis 6.000. Keputusan tersebut memberikan sinyal bahwa lembaga pemeringkat internasional masih menilai fundamental ekonomi Indonesia cukup kuat, mulai dari kemampuan menjaga stabilitas fiskal, ketahanan sektor keuangan, hingga prospek pertumbuhan ekonomi jangka menengah.
“Bagi pelaku pasar, kepastian bahwa tidak terjadi penurunan peringkat maupun perubahan outlook menjadi kabar yang melegakan karena sebelumnya sempat muncul kekhawatiran adanya revisi negatif di tengah meningkatnya ketidakpastian global,” ucap Hendra lewat pernyataan resmi.
Namun, menurut dia penguatan IHSG belum sepenuhnya mencerminkan masuknya dana asing secara agresif. Tercatat investor asing masih membukukan penjualan bersih atau net sell sekitar Rp 412 miliar. Menunjukkan bahwa sebagian investor global masih memilih bersikap hati-hati.
Hendra memaparkan aksi jual terjadi karena sentimen eksternal masih dibayangi meningkatnya konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi yang memicu lonjakan harga minyak dunia setelah muncul isu penutupan Selat Hormuz.
Di satu sisi pelemahan nilai tukar rupiah hingga kisaran Rp 18.100 per dolar AS juga menjadi faktor yang membuat investor asing belum sepenuhnya meningkatkan eksposur pada aset domestik. “Dengan kata lain, sentimen positif dari dalam negeri masih harus berhadapan dengan tekanan global yang belum mereda,” ucapnya.














































