Jadi Game Online Hits, Kecanduan Roblox Dianggap Berisiko Bagi Kecerdasan Anak? Ini Penjelasannya

3 weeks ago 13

Fimela.com, Jakarta Roblox adalah salah satu platform permainan daring yang sangat populer di kalangan anak-anak dan remaja. Dengan desain yang menarik serta fitur sosial yang memungkinkan para pemain untuk menciptakan dan memainkan game yang dibuat oleh pengguna lain, Roblox sering kali dianggap sebagai media yang edukatif dan kreatif. Namun, di balik kesenangan tersebut, banyak orang tua mulai merasa khawatir mengenai kemungkinan kecanduan dan dampaknya terhadap perkembangan anak-anak mereka.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa bermain game secara berlebihan, termasuk Roblox, dapat menyebabkan masalah psikologis dan neurologis pada anak-anak. Anak-anak yang menghabiskan waktu terlalu lama bermain bisa mengalami gangguan perhatian, perubahan suasana hati, serta penurunan prestasi akademik. Kondisi ini bahkan telah diakui sebagai gaming disorder oleh World Health Organization (WHO).

Kecanduan permainan juga memiliki konsekuensi terhadap perkembangan otak anak, terutama pada area yang bertanggung jawab untuk mengatur fokus, pengambilan keputusan, dan pengendalian emosi. Efek ini mirip dengan yang terjadi pada kecanduan terhadap zat adiktif. Jika tidak ditangani dengan baik sejak awal, anak-anak berisiko mengalami gangguan perilaku dan sosial dalam jangka panjang.

Artikel ini akan mengupas tuntas mengenai dampak kecanduan Roblox terhadap kecerdasan dan perkembangan anak, dilengkapi dengan referensi dari jurnal ilmiah, pendapat para ahli, serta tips bijak bagi orang tua dalam mengatur penggunaan game digital di rumah. Dengan pemahaman yang lebih baik, diharapkan orang tua dapat mengambil langkah yang tepat untuk mendukung perkembangan anak mereka.

Apa Itu Roblox dan Kenapa Anak Mudah Kecanduan?

Roblox merupakan sebuah platform permainan daring yang memungkinkan para penggunanya untuk menciptakan serta memainkan game yang dibuat oleh pengguna lain. Dengan jumlah pengguna aktif harian yang mencapai lebih dari 50 juta, Roblox telah menjadi fenomena di seluruh dunia, terutama di kalangan anak-anak berusia 7 hingga 14 tahun. Fitur sosial yang ada, seperti obrolan dalam permainan, sistem reward, dan desain permainan yang cepat, membuat anak-anak mudah terlibat dan membangun keterikatan emosional terhadap karakter serta kemajuan mereka dalam game.

Secara psikologis, Roblox dirancang untuk menjaga perhatian penggunanya selama mungkin. Game yang tersedia di platform ini dilengkapi dengan sistem pencapaian, misi berkelanjutan, dan elemen kompetisi yang dapat memicu pelepasan dopamin di otak. "Dopamin adalah zat kimia yang membuat seseorang merasa senang atau puas," dan inilah yang menjadikan pengalaman bermain Roblox sangat menarik bagi otak anak-anak yang sedang dalam tahap perkembangan. Tanpa adanya pengaturan waktu yang jelas, anak-anak berisiko menghabiskan berjam-jam untuk bermain tanpa menyadari bahwa mereka telah melampaui batas waktu yang sehat.

Menurut penelitian dari Games Learning Society dan The Jed Foundation, anak-anak yang menghabiskan lebih dari dua jam sehari untuk bermain Roblox cenderung menunjukkan tanda-tanda ketergantungan. Mereka mengalami kesulitan dalam mengendalikan emosi, sering kali menjadi mudah marah ketika dilarang bermain, dan mulai mengabaikan aktivitas penting lainnya seperti belajar atau bersosialisasi secara langsung. Oleh karena itu, sangat penting bagi orang tua untuk memahami cara kerja platform ini serta dampaknya terhadap psikologi anak.

Dampak Kognitif Kecanduan Roblox pada Otak Anak

Kecanduan terhadap permainan seperti Roblox dapat berdampak serius pada fungsi eksekutif otak, yang meliputi konsentrasi, memori kerja, pengambilan keputusan, dan kontrol impuls. Dalam sebuah studi yang dipublikasikan oleh Child and Adolescent Psychiatry and Mental Health pada tahun 2020, ditemukan bahwa paparan berlebihan terhadap permainan dapat mengakibatkan penurunan kemampuan akademik serta kesulitan dalam menyelesaikan tugas-tugas yang kompleks.

Anak-anak yang menghabiskan waktu bermain game lebih dari tiga jam setiap harinya dilaporkan memiliki rentang perhatian yang lebih pendek dan kemampuan pemecahan masalah yang lebih rendah. Bagian otak yang paling terpengaruh adalah prefrontal cortex, yang merupakan area yang berkembang paling akhir selama masa pertumbuhan. Kegiatan berulang dan intens seperti bermain Roblox akan membentuk kebiasaan otak untuk terus mencari stimulasi instan, sehingga anak-anak menjadi kesulitan untuk menikmati aktivitas yang lebih lambat dan membutuhkan konsentrasi yang lebih lama, seperti membaca buku atau menyelesaikan pekerjaan sekolah. Dampak jangka panjang dari kondisi ini dapat mengurangi kapasitas belajar dan fleksibilitas berpikir anak.

Lebih jauh lagi, pemindaian otak menggunakan neuroimaging menunjukkan bahwa anak-anak yang mengalami kecanduan game menunjukkan aktivitas abnormal di area otak yang mengatur impuls dan pengendalian diri. Sebuah studi yang dilakukan oleh NIH (National Institutes of Health) mengungkapkan bahwa anak-anak yang bermain game dalam waktu yang lama cenderung memiliki pola aktivitas otak yang serupa dengan mereka yang kecanduan zat terlarang seperti alkohol atau narkoba, meskipun dalam konteks digital. Ini merupakan isu yang serius, mengingat otak anak yang sedang dalam fase pertumbuhan sangat rentan terhadap rangsangan berlebihan yang ditawarkan oleh permainan online.

Efek Sosial dan Emosional: dari Gangguan Tidur hingga Isolasi Sosial

Ketergantungan pada permainan tidak hanya memengaruhi aspek kognitif anak, tetapi juga berdampak pada sisi sosial dan emosional mereka. Banyak anak mengalami perubahan perilaku akibat terlalu sering terlibat dalam permainan seperti Roblox. Salah satu dampak yang paling terlihat adalah gangguan tidur. Anak-anak sering kali terjaga larut malam untuk menyelesaikan misi dalam permainan atau tetap terhubung dengan teman-temannya secara online. Kondisi kurang tidur yang berkepanjangan ini dapat berpengaruh besar terhadap suasana hati, prestasi akademik, dan bahkan daya tahan tubuh mereka.

Di samping itu, terlalu sering menghabiskan waktu di dunia maya dapat menyebabkan anak menjauh dari interaksi sosial di kehidupan nyata. Mereka cenderung lebih nyaman berkomunikasi melalui avatar dan pesan teks dibandingkan berbicara langsung dengan teman sebaya atau anggota keluarga. Dalam jangka panjang, situasi ini bisa mengganggu kemampuan sosial mereka, termasuk empati, kerja sama, dan penyelesaian konflik. Anak yang seharusnya belajar membaca ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan konteks sosial berisiko kehilangan kesempatan berharga dalam perkembangan sosialnya.

Menurut penelitian dari Neurotherapy Victoria, kecanduan Roblox berhubungan dengan meningkatnya gejala depresi ringan, rasa kesepian, dan penarikan diri dari lingkungan sosial. Beberapa anak bahkan dapat menunjukkan tanda-tanda kehilangan minat terhadap hobi lain yang sebelumnya mereka nikmati, karena seluruh perhatian dan energi mental mereka tersedot oleh aktivitas bermain game. Jika perilaku ini tidak ditangani dengan baik, hal tersebut dapat membuka jalan menuju gangguan mental yang lebih serius di masa depan.

Rekomendasi Ahli: Batasi Waktu dan Jadikan Game sebagai Alat Edukasi

Organisasi kesehatan internasional seperti WHO dan AAP (American Academy of Pediatrics) merekomendasikan agar anak-anak yang berada dalam usia sekolah tidak terpapar layar lebih dari dua jam dalam sehari, di luar waktu belajar. Hal ini mencakup aktivitas seperti bermain game, menonton video, atau bersosialisasi di media sosial. Oleh karena itu, membatasi waktu bermain Roblox bukanlah larangan total, tetapi lebih kepada bimbingan untuk membantu anak menyeimbangkan antara kehidupan digital dan dunia nyata.

Para ahli psikologi perkembangan anak juga merekomendasikan penggunaan pendekatan yang berbasis pada pemantauan perilaku. Dalam hal ini, orang tua perlu tidak hanya mengatur durasi bermain, tetapi juga memahami jenis permainan yang dipilih oleh anak. Disarankan untuk memilih game yang bersifat edukatif, kolaboratif, dan dapat merangsang kreativitas. Beberapa fitur dalam Roblox, jika digunakan dengan tepat, dapat dimanfaatkan untuk belajar tentang desain grafis, pemrograman dasar, dan pengembangan pola pikir logis.

Selain itu, penting untuk menerapkan rutinitas sehat yang mencakup penggunaan chart waktu layar, bermain bersama keluarga, serta melakukan aktivitas fisik dan kreatif seperti menggambar, membaca, atau berolahraga. Jika anak menunjukkan tanda-tanda kecanduan serius, seperti perilaku agresif ketika dilarang bermain, penarikan diri yang ekstrem, atau gangguan dalam tidur dan pola makan, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan psikolog atau terapis anak. Pendekatan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) telah terbukti efektif dalam menangani masalah kecanduan digital pada anak-anak dan remaja.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

  • Miranti
Read Entire Article
Parenting |