Fimela.com, Jakarta Sahabat Fimela, sebagai orangtua, kita tentu ingin memberikan yang terbaik untuk anak—termasuk dalam hal komunikasi sehari-hari. Namun, kadang tanpa disadari, kita membicarakan hal-hal yang sebenarnya kurang pantas didengar oleh anak-anak. Padahal, topik-topik yang terdengar “dewasa” ini bisa berdampak besar pada tumbuh kembang emosional mereka, sebab anak-anak adalah peniru ulung.
Dalam arti, mereka menyerap apa yang mereka lihat dan dengar, bahkan dari obrolan yang menurut kita sepele. Ketika mereka terlalu sering mendengar hal-hal yang membuat cemas, bingung, atau bahkan merasa bersalah, hal ini bisa membentuk pola pikir dan kepribadian mereka dalam jangka panjang. Itulah mengapa penting bagi orangtua untuk lebih sadar terhadap isi percakapan di rumah. Tidak semua hal layak dibagikan di depan anak, apalagi jika itu bersifat pribadi, sensitif, atau memicu emosi negatif.
Dilansir dari yourtango.com, berikut ini enam hal yang sebaiknya tidak dibicarakan di depan anak agar mereka bisa tumbuh dengan rasa aman.
1. Masalah Keuangan
Hindari membahas masalah keuangan di depan anak, apalagi dengan nada panik atau frustrasi. Penelitian menunjukkan bahwa stres itu menular, bahkan pada anak-anak. Ketika mereka mendengar orangtuanya membicarakan soal tagihan, hutang, atau kekurangan uang, mereka bisa merasa cemas dan tidak aman. Anak-anak seharusnya tumbuh tanpa merasa seperti beban finansial bagi orangtuanya.
2. Mengkritik Penampilan Orang Lain
Jika orangtua sering mengomentari bentuk tubuh, warna kulit, atau penampilan orang lain, anak bisa menyerap pesan bahwa penampilan adalah hal terpenting. Ini bisa memengaruhi cara mereka menilai orang lain, bahkan diri mereka sendiri. Daripada mengkritik, lebih baik tunjukkan sikap positif dan apresiatif terhadap keberagaman bentuk tubuh dan penampilan.
3. Pertengkaran dalam Hubungan
Bertengkar di depan anak, meski hanya adu pendapat kecil, bisa meninggalkan bekas dalam pikiran mereka. Konflik antara orangtua bisa membuat anak merasa tidak aman secara emosional. Penelitian menyebutkan bahwa pertengkaran orangtua berpengaruh pada perkembangan emosional anak, terutama bagi yang cenderung sensitif. Usahakan menyelesaikan konflik jauh dari jangkauan telinga anak.
4. Curhat tentang Stres Pekerjaan
Anak belum siap memahami tekanan dunia kerja. Kalau orangtua terlalu sering mengeluhkan atasan, deadline, atau kolega, anak bisa merasa bingung dan terbebani. Alih-alih bercerita ke anak, lebih baik cari teman dewasa atau komunitas yang bisa jadi tempat berbagi. Anak membutuhkan rumah yang terasa aman dan nyaman, bukan ruang penuh tekanan.
5. Konflik Keluarga Besar
Membawa drama keluarga ke dalam obrolan dengan anak bukan ide yang baik. Misalnya menceritakan pertengkaran dengan saudara kandung atau mertua—hal ini bisa membuat anak merasa terjebak di antara dua pihak, atau membentuk pandangan negatif terhadap keluarga sendiri. Biarkan anak mengenal anggota keluarganya tanpa prasangka.
6. Membandingkan Anak dengan Anak Lain
“Lihat tuh, kakak bisa kok belajar sendiri. Kamu kenapa enggak?” Kalimat seperti ini mungkin terdengar sepele, tapi efeknya sangat dalam. Membandingkan anak dengan saudara atau temannya hanya akan merusak rasa percaya diri. Setiap anak punya keunikannya sendiri. Lebih baik bantu mereka memahami proses belajar, dan dorong mereka untuk terus berkembang sesuai kemampuannya.
Sahabat Fimela ingin jadi pendengar dan pembicara yang lebih baik untuk anak? Mulailah dari menjaga suasana di rumah tetap aman dan positif, ya!
Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.