Fimela.com, Jakarta Sahabat Fimela, setiap orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Melindungi buah hati dari bahaya, rasa sakit, atau kegagalan adalah naluri alami. Namun, saat proteksi itu berubah menjadi overprotektif, justru banyak dampak negatif yang dapat mempengaruhi perkembangan anak, bahkan hingga mereka dewasa.
Pola asuh overprotektif, atau yang kerap disebut sebagai “helicopter parenting”, adalah ketika orang tua terlalu mengatur, mengawasi, dan membatasi setiap aspek kehidupan anak. Tujuannya memang baik: memastikan anak aman dan terhindar dari hal-hal buruk. Namun, tanpa disadari, anak yang tumbuh di bawah kontrol berlebihan ini justru kehilangan kesempatan untuk belajar menghadapi dunia nyata.
Bayangkan, Sahabat Fimela, seperti burung yang dibesarkan di dalam sangkar emas, terlihat aman dan nyaman, tetapi tidak pernah belajar terbang. Begitulah kondisi anak yang tumbuh dengan orang tua overprotektif.
Dampak Buruk Overprotektif pada Anak
Pola asuh ini tidak hanya memengaruhi masa kecil, tetapi juga menimbulkan efek panjang ketika anak tumbuh dewasa. Berikut beberapa dampak yang sering muncul:
1. Anak Memiliki Rasa Percaya Diri yang Rendah
Anak yang selalu “dibantu” dan jarang diberi kesempatan untuk mencoba sendiri, tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka tidak cukup mampu. Akibatnya, rasa percaya diri dan kemandiriannya menjadi sulit berkembang. Hal ini dapat membuat anak menjadi kesulitan dalam membuat suatu keputusan.
2. Rentan Mengalami Kecemasan dan Depresi
Rasa takut yang ditanamkan sejak kecil membuat anak sulit menghadapi situasi baru. Dalam banyak kasus, mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang mudah cemas, selalu khawatir, bahkan mengalami depresi.
3. Perasaan Malu dan Ragu
Selalu diatur dan diputuskan orang tua membuat anak tidak terbiasa mengambil keputusan sendiri. Ketika dewasa, mereka sering merasa ragu, takut salah, dan terus-menerus mempertanyakan kemampuan diri.
4. Selalu Mencari Persetujuan Orang Lain
Anak yang terbiasa hidup dengan kontrol ketat sering tumbuh menjadi pribadi yang selalu ingin menyenangkan orang lain, bahkan mengorbankan diri sendiri. Mereka takut menolak, takut mengecewakan, dan sulit menetapkan batasan dalam hubungan.
5. Kesulitan Menjadi Diri Sendiri
Saat fokus hidup hanya untuk mencari persetujuan orang lain, keaslian diri sering terabaikan. Mereka kesulitan mengekspresikan perasaan dan pikiran sebenarnya, sehingga sering merasa terjebak, lelah, bahkan kesepian.
Menjadi Orang Tua yang Seimbang
Proteksi adalah wujud cinta, tetapi membiarkan anak belajar dan mengalami hidup juga merupakan bentuk kasih sayang yang sama pentingnya. Anak yang selalu berada dalam "zona aman" mungkin merasa terlindungi, tetapi mereka juga bisa kehilangan kesempatan untuk belajar mengatasi tantangan dan mengambil keputusan sendiri.
Ajarkanlah anak untuk berani menghadapi rintangan, merasakan kegagalan, dan belajar bangkit dari keterpurukan. Dengan begitu, mereka tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, percaya diri, dan siap menghadapi dunia nyata dengan kepala tegak.
Sahabat Fimela, menjadi orang tua bukan hanya tentang selalu berada di sisi anak untuk melindungi, tetapi juga tentang memberikan ruang yang cukup bagi mereka untuk bertumbuh, mengeksplorasi dunia, dan menemukan kekuatan dalam dirinya. Seimbangkan antara rasa sayang yang mengayomi dan kepercayaan yang membebaskan. Dengan keseimbangan inilah, anak akan memahami arti tanggung jawab, kebebasan, dan kemandirian, sambil tetap merasakan hangatnya dukungan keluarga di setiap langkah perjalanan mereka.
Penulis : Annisa Kharisma Dewi
Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.