Peta Jaring Kosmik Paling Detail dari Teleskop James Webb

1 day ago 20

PARA astronom berhasil menyusun peta jaring kosmik (cosmic web) paling rinci yang pernah dibuat menggunakan Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST). Peta terbesar yang dihasilkan dari survei JWST ini mengungkap bagaimana galaksi berevolusi sejak alam semesta masih berusia sekitar beberapa ratus juta tahun hingga membentuk struktur raksasa yang menjadi kerangka kosmos saat ini.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal The Astrophysical Journal pada 6 Mei 2026. Tim astronom internasional yang dipimpin peneliti dari University of California, Riverside (UCR) memanfaatkan data dari survei COSMOS-Web untuk merekonstruksi struktur berskala besar alam semesta dengan ketelitian yang belum pernah dicapai sebelumnya. Jaring kosmik sendiri merupakan jaringan filamen gas, materi gelap, gugus galaksi, dan ruang hampa yang membentuk struktur terbesar di alam semesta.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Penelitian ini menunjukkan bahwa lingkungan kosmik berperan penting dalam pembentukan maupun penghentian pembentukan bintang selama miliaran tahun sejarah alam semesta. Hasil tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana pertumbuhan galaksi berubah dari masa ketika pembentukan bintang berada pada puncaknya hingga periode setelahnya.

“Kami menunjukkan bagaimana jaring kosmik membantu membentuk pertumbuhan galaksi sebelum, selama, dan setelah era puncak tersebut,” kata salah satu penulis studi sekaligus astronom UCR, Hossein Hatamnia, dikutip dari laporan Live Science, 6 Juli 2026.

“Pada masa-masa awal, wilayah yang padat tampak menjadi lokasi pertumbuhan galaksi yang sangat cepat, sementara pada masa yang lebih akhir, lingkungan yang padat justru berkaitan dengan berhentinya pembentukan bintang.”

Survei COSMOS-Web dilakukan selama 255 jam dengan cakupan area langit seluas sekitar tiga kali ukuran purnama jika dilihat dari Bumi. Dibandingkan survei COSMOS2020 yang dilakukan menggunakan Teleskop Luar Angkasa Hubble dan sejumlah observatorium lain, peta baru dari JWST memiliki ketelitian pengukuran redshift yang lebih baik serta mampu mendeteksi lebih banyak galaksi, termasuk objek yang lebih redup, bermassa lebih kecil, dan berada pada jarak yang lebih jauh.

Para peneliti juga menemukan bahwa galaksi masif di wilayah yang padat lebih cenderung berhenti membentuk bintang. Menurut tim, fenomena tersebut dapat dipicu oleh halo materi gelap yang sangat besar maupun aktivitas lubang hitam supermasif yang memanaskan gas sehingga tidak lagi dapat membentuk bintang baru. Pada alam semesta yang lebih baru, faktor lingkungan di sekitar galaksi juga berkontribusi menghentikan proses pembentukan bintang.

“Lompatan dalam hal kedalaman dan resolusi benar-benar sangat signifikan. Kini kami dapat melihat jaring kosmik pada masa ketika alam semesta baru berusia beberapa ratus juta tahun, sebuah era yang pada dasarnya tidak dapat dijangkau sebelum hadirnya JWST,” ujar salah satu penulis studi, Bahram Mobasher. Katalog berisi sekitar 164.000 galaksi yang digunakan untuk menyusun peta jaring kosmik tersebut kini telah tersedia untuk publik.

Read Entire Article
Parenting |