CANTIKA.COM, Jakarta - Punya beragam circle, tapi tetap merasa kesepian? Bisa jadi kamu tipe floater friend atau teman pengembara. Istilah psikologi ini menggambarkan kondisi seseorang yang nyaman berpindah antar kelompok sosial, namun jarang merasa benar-benar terhubung atau menjadi figur sentral di dalamnya.
Yuk, kita bedah dinamika psikologis di balik fenomena floater friend menurut para ahli.
Ciri-ciri Floater Friend
Gagasan tentang "floater friend" menantang banyak asumsi kita tentang seperti apa seharusnya persahabatan. Budaya populer sering menggambarkan persahabatan seperti kelompok yang erat, peran yang jelas, dan sahabat yang selalu ada. Namun, tidak semua orang memilih cara berteman yang sama, menurut Lauren Mahoney, PsyD, psikolog di Authentically Living Psychological Services dan asisten profesor psikologi di City University of New York.
“Floater friend adalah seseorang yang dengan nyaman berpindah-pindah di antara beberapa lingkaran sosial alias circle, mempertahankan hubungan di berbagai kelompok, dan tidak secara eksklusif tergabung dalam satu jaringan pertemanan," jelasnya dikutip dari Real Simple.
Ada juga perbedaan antara seseorang yang merupakan teman pengembara dan seseorang yang hanya memiliki jaringan sosial yang luas.
“Seseorang dengan jaringan yang luas memiliki basis tetap, orang-orang yang akan bertanya-tanya di mana mereka berada jika tidak muncul,” ucap Megan Goldberg, pekerja sosial klinis berlisensi di Megan Goldberg Therapy.
Sementara floater friend memiliki jangkauan yang luas, tetapi tidak mendalam dalam pertemanan. “Jika kamu pernah menjadi teman pengembara, kamu tahu rasa sakit yang spesifik saat menyadari semua orang memiliki core memory bersama, lelucon internal, hingga acara yang belum pernah kamu dengar. Intinya, kamu berada di luar circle itu,” jelasnya.
Apa yang Mendorong Fenomena Floating Friend?
Meskipun ciri-ciri kepribadian tertentu dapat membuat seseorang lebih nyaman berpindah-pindah di antara lingkaran sosial yang berbeda, Goldberg percaya bahwa kondisi hidup seringkali menjadi faktor yang lebih besar di balik fenomena floating friend.
“Beberapa orang telah belajar bahwa tetap berada di pinggiran terasa lebih aman daripada kerentanan dalam circle yang mendalam,” ujarnya.
“Faktor pindah rumah, putus hubungan, pekerjaan yang menuntut, atau periode di mana keluarga menyita segala perhatian dapat membuat seseorang memilih floating friend.”
Kadang-kadang, status sebagai floater friend ini terbentuk akibat kebiasaan kita sehari-hari. Tanpa disadari, sikap kita bisa mengirimkan sinyal keliru bahwa kita hanya ingin berteman biasa, padahal di dalam hati kita ingin hubungan yang lebih dekat.
Sinyal ini biasanya terlihat saat kita cenderung menjaga obrolan tetap di permukaan saja, atau enggan berinteraksi di luar agenda kelompok besar.
“Jika kamu hanya mengatakan ya pada rencana kelompok dan tidak pernah mencoba memulai apa pun dengan mereka secara individual, mereka mungkin hanya berasumsi bahwa kamu senang menjaga pertemanan tetap santai,” kata Christie Ferrari, psikolog klinis dan ahli persahabatan.
Selain faktor kebiasaan pribadi, para ahli menilai pergeseran budaya di era digital saat ini juga ikut memperkuat fenomena ini.
Sekadar mengetahui kabar liburan, promosi kerja, atau ulang tahun seseorang lewat Instagram Stories dan TikTok jelas sangat berbeda dengan meluangkan waktu untuk deep talk berdua secara langsung.
“Itu bagus dalam satu hal karena memungkinkan kita terhubung dengan lebih banyak orang daripada sebelumnya,” kata Ferrari. “But the problem is, waktu dan perhatian kamu menjadi terlalu tersebar di semua hubungan ini karena kamu tidak berinvestasi pada satu pun hubungan untuk memperdalamnya.”
Ilustrasi liburan bareng teman ke pantai. Foto: Freepik.com
Plus Minus Floating Friend
Sebenarnya, menjadi orang yang bisa masuk ke berbagai kelompok pertemanan bukanlah hal yang buruk. Karakter ini justru punya banyak kelebihan terpendam.
“Menjadi teman antar kelompok sosial justru bisa menjadi kekuatan. Individu-individu ini seringkali cerdas secara sosial, peka secara emosional, mudah beradaptasi, ingin tahu, dan mampu terhubung dengan orang-orang dari latar belakang yang sangat berbeda,” kata Mahoney.
“Mereka sering menjadi jembatan antara kelompok sosial karena mereka mudah didekati, fleksibel, dan benar-benar tertarik pada orang lain," tambahnya.
Namun di sisi lain, jika posisi kamu selalu berada di pinggiran atau cuma jadi "tamu" di berbagai circle, ada harga emosional yang harus dibayar. Rasa sepi yang muncul biasanya terasa sangat berbeda.
“Banyak teman antar kelompok sosial menggambarkan bentuk kesepian yang unik,” ucap Mahoney. “Mereka sering diundang ke pertemuan, dilibatkan dalam percakapan, dan umumnya disukai.”
Meski punya jadwal nongkrong yang super padat, mereka diam-diam sering memendam pertanyaan menohok:
- Siapa yang bakal tulus merayakan kesuksesanku tanpa perlu diingatkan?
- Siapa yang bakal sadar kalau aku lagi struggling dan butuh bantuan?
- Ada enggak yang bakal chat aku duluan cuma karena kangen?
Rasa bimbang ini muncul karena pada dasarnya manusia butuh ikatan yang lebih kuat daripada sekadar basa-basi sosial agar bisa merasakan rasa memiliki yang sejati.
“Kita perlu merasa diingat, diprioritaskan, aman secara emosional, dipahami, dan dihargai apa adanya, bukan karena peran yang kita mainkan,” ungkap Mahoney.
Dampak buruk lainnya, kebiasaan berpindah circle tanpa punya ikatan mendalam bisa mengikis rasa percaya diri dan bikin kamu krisis identitas.
Meski begitu, jika kamu merasa termasuk tipe teman pengembara ini, kamu tidak perlu berkecil hati atau langsung memaksa diri untuk berubah total.
“Pertanyaan yang lebih baik adalah apakah gaya berhubungan ini memenuhi kebutuhan emosional. Jika seseorang benar-benar menikmati memiliki banyak lingkaran sosial dan merasa terpenuhi, tidak ada yang perlu diperbaiki,” ujar Mahoney.
Cara Mudah Membangun Pertemanan yang Lebih Mendalam
Kalau kamu mulai merasa lelah dengan hubungan kasual yang melelahkan dan ingin punya ikatan yang lebih deep, ada beberapa langkah nyata yang bisa kamu coba:
Mulai Investasi Waktu: Fokuskan energi kamu untuk satu atau dua orang teman saja secara personal, lalu ajak mereka untuk jalan atau hangout berdua secara tatap muka.
Ungkapkan Keinginanmu: Langkah awal yang paling sederhana adalah dengan berterus terang.
“Beri tahu seseorang di salah satu grup bahwa kamu ingin lebih sering berkunjung. Niat itu, yang diucapkan dengan lantang, mengubah dinamika,” ujar Goldberg.
Jaga Konsistensi: Ikatan yang kuat tidak terbentuk dalam semalam. Rutin hadir dan menjaga komunikasi berkala adalah kunci utamanya.
“Kehadiran berulang kali, bahkan secara kasual, adalah hal yang membangun keakraban dari waktu ke waktu,” kata Goldberg.
Cara lainnya seperti mengajukan pertanyaan yang lebih pribadi, berbagi sedikit lebih banyak tentang kehidupan diri sendiri, atau menindaklanjuti sesuatu yang disebutkan seseorang sebelumnya, seperti menanyakan kabar tentang bagaimana suatu acara berjalan.
So, mau jadi floater friend atau tidak, semuanya kembali ke kebutuhan emosional kamu.
Pilihan Editor: 5 Tanda Pertemanan Menguras Emosi, Tidak Menghormati Batasan Salah Satunya
REAL SIMPLE | SILVY RIANA PUTRI
Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.
















































