MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan perekonomian global sepanjang 2025 menghadapi tantangan berat akibat fragmentasi perdagangan dan meningkatnya ketegangan geopolitik. Kondisi tersebut mengganggu arus logistik, mengubah pola kerja sama ekonomi multilateral, serta meningkatkan risiko terhadap stabilitas ekonomi, pasar keuangan, investasi, dan rantai pasok global.
“Namun kita patut bersyukur di tengah gejolak global tersebut, stabilitas ekonomi Indonesia tetap terjaga yang tercermin dalam beberapa indikator utama. Ekonomi pada tahun 2025 tumbuh 5,11 persen,” kata Purbaya dalam Rapat Paripurna DPR ke-25 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026 di Gedung Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, pada Selasa, 14 Juli 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Menurut Purbaya, ekonomi yang tumbuh 5,11 persen mencerminkan fundamental ekonomi yang resilien dalam menghadapi dinamika global. Pertumbuhan ekonomi 2025 ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh 4,98 persen dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) sebesar 5,09 persen. Capaian tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi domestik tetap bergerak positif di tengah tekanan eksternal.
Di sisi lain, kata dia, laju inflasi tercatat sebesar 2,92 persen atau masih berada dalam rentang sasaran pemerintah. Angka itu mencerminkan efektivitas bauran kebijakan fiskal dan moneter dalam menjaga stabilitas harga, kelancaran pasokan dan distribusi, serta koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan otoritas moneter.
Purbaya menyebut ketahanan ekonomi domestik tidak terlepas dari peran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai peredam gejolak (shock absorber). Kebijakan fiskal pada 2025 dirancang secara ekspansif untuk melindungi masyarakat, menjaga stabilitas ekonomi, dan mendukung agenda pembangunan, dengan tetap mempertahankan defisit dalam batas yang aman.
Defisit APBN 2025 tercatat sebesar 2,8 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) atau setara Rp 670,34 triliun. Untuk membiayai defisit tersebut, pemerintah menerapkan strategi pembiayaan yang pruden dengan memanfaatkan kondisi pasar yang membaik. Realisasi pembiayaan neto sepanjang 2025 mencapai Rp 742,73 triliun atau 20,54 persen di atas target APBN.
Purbaya berujar bahwa pemerintah juga menyalurkan paket stimulus ekonomi secara bertahap pada setiap kuartal sepanjang 2025 dengan total nilai Rp 110,7 triliun. Stimulus tersebut difokuskan untuk menjaga daya beli masyarakat, mendorong konsumsi domestik, serta memperkuat sektor riil melalui dukungan kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), industri padat karya, sektor perumahan, program magang, pemberian diskon tiket transportasi selama masa liburan, serta pemberdayaan generasi muda.
Menurut Purbaya, efektivitas kebijakan fiskal juga tercermin pada membaiknya indikator kesejahteraan masyarakat. Tingkat pengangguran turun menjadi 4,85 persen pada Agustus 2025 dari 4,91 persen pada Agustus 2024. Sementara itu, tingkat kemiskinan menurun dari 8,57 persen pada September 2024 menjadi 8,25 persen pada September 2025.














































