Fimela.com, Jakarta Parenting yang dikenal sebagai parenting VOC ini, terkadang tidak semuanya cocok pada generasi anak masa kini. Cara asuh yang mengandalkan nada tinggi, ancaman, bahkan bentakan, mungkin dulu memang dianggap wajar. Namun, seiring berkembangnya ilmu psikologi dan tumbuhnya kesadaran akan hak anak, pola asuh semacam ini mulai dipertanyakan efektivitasnya. Apakah memang ini yang harus dilakukan atau memang ini yang harus dihentikan?
Nyatanya, membentak anak bisa menanamkan luka emosional yang tidak langsung terlihat, namun membekas dalam jangka panjang. Membentak terkadang muncul karena lelah atau emosi yang memuncak, tapi penting untuk diingat: anak bukan tempat pelampiasan. Mereka menyerap emosi orang tua dengan sangat kuat, bahkan lebih dari yang kita bayangkan. Memang, mengasuh anak bukanlah pekerjaan yang mudah, tapi ilmu yang cukup dan pola komunikasi yang sehat adalah kunci untuk membentuk anak yang penuh kasih terhadap sesama.
Daripada membentak, ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mendidik anak dengan tegar atau menegur anak agar sadar akan kesalahan yang telah diperbuatnya. Yuk kenali dulu efek jangka panjang yang akan terjadi apabila kebiasaan kamu membentak anak.
1. Membuat Anak Selalu Memendam Masalah
Dengan terlalu sering membentak, hal itu akan membuat sang anak menjadi menutup diri. Mereka akan merasa ketika mereka bersuara justru akan membuat mereka semakin dimarahi. Lama-lama, mereka tumbuh menjadi pribadi yang sulit terbuka, bahkan kepada orang tua sendiri.
2. Rendahnya Rasa Percaya Diri
Perkataan tidak pantas yang keluar dari mulut orang tuanya bisa membuat anak merasa tidak cukup baik atau selalu salah di mata orang tua. Hal ini perlahan mengikis rasa percaya dirinya. Anak akan menjadi ragu, takut mencoba, dan mudah menyerah karena merasa tidak berdaya.
3. Gangguan Perilaku
Bukannya membuat anak menjadi tangguh dan disiplin, justru membentak anak bisa memicu perilaku negatif. Anak bisa jadi lebih agresif, membangkang, atau mencari perhatian dengan cara yang salah baik di rumah maupun di lingkungan luar. Hal ini disebabkan karena anak terbiasa menerima kekerasan verbal dari orang tuanya.
4. Menjadi Beban Emosional
Bentakan yang terjadi terus-menerus dapat memicu kecemasan, stres berlebihan, bahkan depresi pada anak. Anak menjadi lebih mudah panik, menarik diri, atau sebaliknya mudah marah dan meledak-ledak. Hal ini bisa terbawa hingga remaja atau dewasa dan mempengaruhi kestabilan emosi mereka.
5. Meniru Pola yang Sama
Fakta bahwa sekolah pertama anak adalah rumah, menjadikan orang tua sebagai guru pertama dalam kehidupan mereka sebelum di sekolah formal. Oleh karena itu, orang tua yang mendidik anaknya dengan cara membentak akan otomatis ditiru olehnya, karena seorang anak akan belajar dari apa yang ia lihat dan dengar.
Berikut adalah 5 dampak yang akan terjadi apabila kamu menerapkan parenting keras seperti membentak dan memarahi anak dengan nada tinggi.
Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.