Tidur Anak Tak Lagi Nyenyak? Kenali Sinyal Gangguan Tidur yang Sering Terlewatkan

2 months ago 42

Fimela.com, Jakarta Malam yang tenang sering kali menjadi waktu istirahat bagi seluruh keluarga. Namun, bagi sebagian orangtua, malam justru menjadi saat yang penuh tanda tanya. Ketika si kecil terus-menerus terbangun, gelisah, atau menangis tanpa sebab yang jelas, rasa khawatir pun perlahan menyusup. Mungkin awalnya dianggap wajar, namanya juga anak-anak, pikir sebagian orangtua. Namun, jika pola ini terus berulang, tidakkah ada sesuatu yang perlu dicermati lebih dalam?

Tidur bukan sekadar waktu istirahat. Bagi anak-anak, tidur adalah fondasi penting bagi tumbuh kembang fisik, emosional, dan kognitif mereka. Dalam tidur yang nyenyak, tubuh mereka bekerja memperbaiki sel, memperkuat daya tahan tubuh, hingga memproses berbagai pengalaman hari itu. Maka, ketika waktu tidur terganggu, bisa jadi ada hal-hal yang secara halus sedang memberi sinyal bahwa anak membutuhkan perhatian lebih.

Banyak orangtua belum menyadari bahwa gangguan tidur pada anak bisa hadir dalam berbagai bentuk, tak selalu dalam rupa terjaga semalaman. Kadang, tanda-tandanya samar dan tak mudah dikenali. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk lebih peka dan memahami isyarat-isyarat kecil yang bisa menjadi cermin kondisi kesehatan anak secara keseluruhan. Melansir sleepfoundation.org, berikut adalah tanda-tanda bahwa anak mengalami gangguan tidur.

1. Sulit Tidur atau Sering Terbangun di Malam Hari

Jika anak tampak berguling-guling tanpa bisa terlelap dalam waktu lama atau sering terbangun di tengah malam tanpa alasan jelas, bisa jadi ia mengalami insomnia. Gangguan ini bisa disebabkan oleh banyak faktor, mulai dari stres, ketakutan, kebiasaan tidur yang tidak teratur, hingga paparan layar gadget sebelum tidur.

Anak dengan insomnia mungkin tidak bisa menjelaskan perasaannya dengan jelas, tetapi gejalanya bisa terlihat dari kantuk berlebih di pagi hari, kesulitan berkonsentrasi di sekolah, atau emosi yang mudah meledak. Memastikan rutinitas tidur yang konsisten dan lingkungan tidur yang nyaman adalah langkah awal penting.

2. Mendengkur atau Bernapas Tidak Teratur Saat Tidur

Mendengkur mungkin terdengar lucu bagi sebagian orangtua, tetapi jika disertai jeda napas yang panjang, ini bisa menjadi tanda obstructive sleep apnea (OSA). Gangguan ini terjadi ketika saluran napas bagian atas anak menyempit atau tersumbat saat tidur, sehingga menyebabkan jeda napas sejenak sebelum tubuh terpaksa “terbangun” untuk bernapas kembali.

OSA dapat menyebabkan tidur yang tidak nyenyak dan tidak restoratif, sehingga anak merasa lelah meskipun tidur cukup lama. Jika mendengkur disertai dengan napas megap-megap, posisi tidur aneh, atau sering berkeringat di malam hari, penting untuk segera berkonsultasi ke dokter.

3. Tidur Berjalan atau Mengigau

Pernahkah Sahabat Fimela melihat anak bangun dan berjalan dalam keadaan mata tertutup? Atau tiba-tiba mengigau dan berbicara tanpa sadar? Ini adalah bentuk dari parasomnia, yaitu gangguan tidur yang mencakup tidur berjalan (sleepwalking), mengigau (sleep talking), bahkan mimpi buruk ekstrem (night terrors).

Meskipun umumnya tidak berbahaya dan bisa berkurang seiring bertambahnya usia, parasomnia bisa menjadi masalah jika sering terjadi atau menyebabkan anak membahayakan diri sendiri. Kondisi ini sering dipicu oleh kelelahan, demam, atau stres, dan biasanya terjadi pada tahap tidur non-REM.

4. Gerakan Kaki yang Tidak Terkendali Saat Tidur

Jika anak terlihat gelisah, sering menggeliat, atau mengeluhkan rasa tidak nyaman di kaki saat tidur, ia mungkin mengalami Restless Legs Syndrome (RLS). Ini adalah gangguan neurologis yang membuat anak merasa seperti ada sensasi menjalar atau gatal di kaki yang hanya bisa hilang jika digerakkan.

Selain RLS, ada juga Periodic Limb Movement Disorder (PLMD), di mana anggota tubuh terutama kaki bergerak berulang tanpa sadar selama tidur. Kedua kondisi ini membuat tidur menjadi tidak nyenyak, dan dapat menyebabkan kelelahan serta kesulitan fokus di siang hari.

5. Ngompol di Malam Hari (Enuresis)

Meskipun umum pada anak-anak kecil, enuresis atau ngompol yang terus berlanjut setelah usia lima tahun bisa menjadi tanda adanya gangguan tidur. Ini bisa terkait dengan faktor genetik, stres, atau keterlambatan perkembangan sistem saraf yang mengontrol kandung kemih.

Ngompol juga bisa menjadi gejala dari gangguan tidur yang lebih besar, seperti OSA. Jika ngompol terjadi bersamaan dengan gejala lain seperti mendengkur atau gangguan pernapasan, penting untuk mengevaluasi kondisi tidur anak secara menyeluruh, bukan sekadar melatih kontrol kandung kemih.

6. Mengantuk Berlebihan di Siang Hari

Anak yang mendapatkan tidur berkualitas seharusnya merasa segar dan aktif di pagi hingga sore hari. Jika sebaliknya—anak mudah mengantuk, kurang semangat, dan tampak lesu sepanjang hari—maka excessive daytime sleepiness (EDS) patut dicurigai.

EDS bisa menjadi tanda bahwa anak tidak cukup tidur di malam hari atau kualitas tidurnya terganggu oleh kondisi seperti insomnia, OSA, atau parasomnia. Dalam beberapa kasus, EDS juga berkaitan dengan kondisi neurologis seperti narkolepsi, meski ini lebih jarang terjadi pada anak-anak.

Jangan Abaikan Isyarat Kecil dari Tidur Anak

Gangguan tidur pada anak bukan hanya soal rewel atau bangun malam. Ini adalah sinyal bahwa ada sesuatu dalam tubuh atau pikirannya yang sedang tidak seimbang. Jika dibiarkan, dampaknya bisa merambat ke prestasi belajar, kesehatan mental, hingga interaksi sosial anak.

Sahabat Fimela, sebagai orangtua atau pengasuh, kita punya peran penting dalam menciptakan kebiasaan tidur sehat dan mengenali perubahan pola tidur sejak dini. Bila ada tanda-tanda mencurigakan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter anak atau spesialis tidur. Langkah kecil hari ini bisa jadi investasi besar untuk masa depan anak yang lebih sehat, bahagia, dan seimbang.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Read Entire Article
Parenting |