ringkasan
- Membangun toleransi frustrasi pada anak sejak dini dengan membiarkan mereka menghadapi dan mengatasi kesulitan sendiri adalah kunci untuk menumbuhkan pola pikir berkembang.
- Merayakan proses dan usaha anak, bukan hanya hasil akhir, mengajarkan mereka bahwa ketekunan dan dedikasi adalah faktor utama dalam mencapai kemajuan.
- Memuji strategi dan tindakan spesifik yang digunakan anak, daripada sifat bawaan, mendorong mereka untuk merefleksikan metode belajar dan pemecahan masalah mereka sendiri.
Fimela.com, Jakarta Membantu anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan adaptif adalah dambaan setiap orangtua. Di tengah berbagai tantangan hidup, memiliki pola pikir berkembang atau membangun growth mindset pada anak menjadi kunci utama. Pola pikir ini memungkinkan anak melihat hambatan sebagai kesempatan belajar, bukan sebagai akhir dari segalanya.
Sahabat Fimela, peran Anda sangat krusial dalam membentuk cara pandang si kecil terhadap tantangan dan kegagalan. Dengan pendekatan yang tepat, Anda bisa membimbing mereka untuk memahami bahwa usaha dan ketekunan adalah jalan menuju kemajuan. Ini bukan hanya tentang kecerdasan, tetapi tentang bagaimana mereka merespons setiap situasi.
Dilansir dari berbagai sumber, untuk mencapai tujuan mulia ini, ada tiga strategi utama yang dapat Anda terapkan. Strategi-strategi ini akan mengubah cara anak memandang kesulitan, merayakan setiap langkah kecil, dan mendorong mereka untuk terus berusaha tanpa takut gagal. Mari kita selami lebih dalam bagaimana Anda bisa menumbuhkan ketahanan pada buah hati.
Membangun Toleransi Frustrasi Sejak Usia Dini
Salah satu fondasi penting dalam membangun growth mindset pada anak adalah kemampuan mereka untuk menoleransi frustrasi. Ketika anak diizinkan menghadapi dan mengatasi kesulitan sendiri, mereka belajar bahwa perjuangan adalah bagian dari proses pembelajaran. Ini membantu mereka menyadari bahwa usaha keras akan membuahkan hasil.
Sebagai contoh, saat bayi melakukan tummy time dan mulai menangis karena merasa tidak nyaman, respons Anda sangat menentukan. Alih-alih langsung mengangkatnya, Anda bisa mencoba menggosok punggungnya atau mengubah posisi sedikit. Ini memberikan kesempatan bagi bayi untuk berjuang dan menemukan bahwa usaha mereka dapat menghasilkan kenyamanan atau pembelajaran baru.
Penting untuk tidak selalu langsung membantu anak ketika mereka kesulitan. Biarkan mereka mencoba mencari solusi sendiri terlebih dahulu. Seperti yang disebutkan, "Mampu mengalami frustrasi dan memiliki kesempatan untuk menyelesaikannya sendiri adalah salah satu kesempatan paling awal yang dimiliki bayi untuk belajar pola pikir berkembang; untuk melihat bahwa perjuangan dan usaha mereka mengarah pada pembelajaran." Ini adalah pelajaran berharga tentang ketahanan.
Merayakan Proses dan Usaha, Bukan Sekadar Hasil Akhir
Dalam upaya membangun growth mindset pada anak fokus pujian Anda harus bergeser dari hasil akhir atau bakat bawaan menuju proses dan usaha. Ketika Anda memuji kerja keras, dedikasi, dan ketahanan anak dalam menghadapi tantangan, Anda memperkuat keyakinan bahwa ketekunan adalah kunci kemajuan. Ini akan membantu mereka memahami bahwa peningkatan datang dari dedikasi.
Daripada mengatakan, "Kamu sangat pintar karena berhasil," lebih efektif jika Anda mengatakan, "Kamu bekerja sangat keras untuk itu, dan usahamu membuahkan hasil!" Pujian semacam ini mengajarkan anak bahwa ketekunan dan strategi yang baik adalah hal yang perlu dihargai. Ini juga membantu mereka melihat kegagalan sebagai kesempatan untuk belajar dan mencoba lagi dengan pendekatan yang berbeda.
Merayakan pencapaian kecil dan kemajuan bertahap juga sangat penting. Misalnya, saat anak belajar berenang dan berhasil memasukkan kepala ke dalam air untuk pertama kalinya, itu adalah momen yang patut dirayakan. Atau ketika mereka berlatih mantra positif seperti "Saya bisa melakukan hal-hal sulit," berikan apresiasi atas usaha mereka untuk membangun kepercayaan diri. Ini menunjukkan bahwa setiap langkah maju, sekecil apa pun, memiliki nilai.
Memuji Strategi Efektif, Bukan Hanya Sifat Bawaan
Penelitian menunjukkan bahwa pujian yang berfokus pada tindakan dan strategi yang digunakan anak-anak lebih efektif dalam menumbuhkan pola pikir berkembang. Ini jauh lebih baik dibandingkan pujian yang hanya berfokus pada sifat bawaan mereka. Pujian spesifik ini mendorong anak untuk merefleksikan proses berpikir dan tindakan mereka.
Daripada hanya mengatakan "Kerja bagus!" setelah anak menyelesaikan sesuatu, cobalah untuk bertanya, "Kerja bagus! Bagaimana kamu belajar melakukan itu? Ceritakan lebih banyak tentang gambarmu." Pertanyaan ini mendorong anak untuk menganalisis strategi yang mereka gunakan. Ini membantu mereka memahami bahwa keberhasilan mereka berasal dari upaya dan metode yang diterapkan, bukan hanya karena mereka "pintar" atau "berbakat".
Orangtua yang memuji tindakan (misalnya, 'bagus sudah mencoba memasukkan itu kembali,' 'tangkapannya bagus') memiliki anak-anak dengan pola pikir berkembang yang lebih besar daripada orang tua yang memuji sifat (misalnya, 'kamu sangat pintar,' 'kamu pandai dalam hal itu'). Dengan fokus pada strategi, Anda membantu anak mengembangkan kesadaran diri dan kemampuan memecahkan masalah. Ini adalah langkah penting dalam membangun growth mindset pada anak yang kuat dan berkelanjutan.
Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.