TOKOH dari Suku Marind-Anim, Merauke, Papua Selatan, Yasinta Moiwend atau mama Yasinta, menyatakan sudah tidak bergabung lagi dengan lembaga bantuan hukum di Papua yang kerap mengadvokasi perjuangan masyarakat adat. Yasinta menyatakan ia kini sedang mencari pekerjaan di perusahaan untuk memenuhi kebutuhan ekonominya.
"Sekarang saya tidak bergabung lagi dengan LBH mereka, saya sudah ambil keputusan sendiri. Jadi saya mau cari pekerjaan di perusahaan, cari pekerjaan karena rumah saya ingin direhab karena sudah tidak layak lagi," kata Mama Sinta melalui siaran pers dikutip dari Antara, Ahad, 24 Mei 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Selain itu, ia mengatakan ketiga anaknya juga membutuhkan pekerjaan agar dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Terbaru, Yasinta melaporkan Direktur PBH Papua Merauke, Johnny Teddy Wakum, ke Polda Metro Jaya. Ia melaporkan Johnny atas tuduhan pelanggaran data pribadi karena dirinya ditampilkan di film dokumenter Pesta Babi tanpa izin sebelumnya.
"Yang kami laporkan ini adalah perorangan. Ada Ketua LBH Merauke, inisialnya JTW," kata kuasa hukum Yasinta, TS Hamonangan Daulay, kepada awak media di Gedung Direktorat Tindak Pidana Umum Polda Metro Jaya, Jakarta Pusat, Jumat, 29 Mei 2026.
Film Pesta Babi menggambarkan bagaimana masyarakat Papua yang merasa tanah, hutan, dan ruang hidup mereka perlahan diambil alih oleh proyek pemerintah atas nama pembangunan, ketahanan pangan dan energi. Sutradara film, Dhandy Laksono, mengungkapkan pemerintah tengah membuka 2,5 juta hektare hutan untuk dialihfungsikan sebagai sawit, tebu, padi dan peternakan. Proyek strategi nasional lumbung pangan ini disebut dikuasai oleh 10 perusahaan yang dimiliki oleh satu keluarga.
Film ini menampilkan 5 tokoh Papua yang menjawab soal keresahan masyarakat Papua atas proyek tersebut. Salah-satunya Yasinta sebagai perwakilan Suku Marind. Di film itu, Yasinta dan masyarakat Papua lain dinarasikan sebagai pihak yang menolak proyek pemerintah tersebut.
Yasinta pernah mendapat penghargaan S.K. Trimurti Award 2025 dari Aliansi Jurnalis Independen karena memperjuangkan hak masyarakat adat dalam mempertahankan tanah ulayatnya dari proyek food estate.
Dalam sebuah potongan video yang viral, Yasinta terlihat hadir di acara nonton bareng film tersebut dan berpesan kepada para hadirin agar mempertahankan tanah mereka di Papua. Belakangan ia mengaku tidak tahu jika akan diajak untuk nonton bareng film ini.
Namun belakangan, muncul video pengakuan Yasinta yang merasa kecewa atas pembuatan film tersebut. Ia merasa dimanfaatkan karena tidak pernah memberikan izin dirinya ditampilkan dalam film, termasuk di poster promosi.
Di video lain, Yasinta menyatakan mendukung pembangunan yang tengah dilakukan pemerintah. “Pemerintah bisa bantu kami lewat perusahaan yang ada di Wogikal sekarang dan kami menunggu. Kami tidak punya apa-apa di kampung ini. Harapan kami cuma ke pemerintah lewat kerja sama dengan perusahaan dengan masyarakat maka itu kami mau dukung perusahaan boleh lanjut sampai kami bisa menikmati hasil yang perusahaan sudah berikan,” bunyi pernyataan Yasinta dia di video yang beredar di sosial media.
Yasinta tak menanggapi ketika ditanya soal dugaan adanya intimidasi di balik perubahan sikap dan video pengakuannya. Kuasa hukumnya juga hanya menjawab secara normatif, "Kita tunggu proses hukum yang sedang berjalan aja."
Menanggapi kemunculan video pengakuan Yasinta, sutradara film Pesta Babi, Dhandy Laksono, menyatakan ia berhak membuat keputusan apa pun. “Bahkan jika semua yang disampaikan murni atas kehendak sendiri, bukankah setiap orang berhak membuat pilihan,” kata dia lewat unggahan di Instagramnya pada Senin, 25 Mei 2026. Tempo telah diizinkan untuk mengutipnya.















































