Fimela.com, Jakarta Ada satu hal yang sering luput dari perhatian orangtua: anak tidak otomatis belajar bersyukur hanya karena diberikan nasihat. Rasa syukur bukan teori, melainkan kebiasaan yang lahir dari pengalaman sehari-hari. Anak perlu merasakannya lewat rutinitas kecil, bukan sekadar mendengar kata-kata indah dari orang dewasa.
Moms, dunia anak kita semakin cepat bergerak. Gadget, tontonan, dan pergaulan kerap membuat mereka lebih fokus pada apa yang belum dimiliki dibandingkan menghargai yang sudah ada. Justru di tengah arus itu, rasa syukur menjadi fondasi penting agar anak tumbuh lebih tangguh, rendah hati, dan penuh kebahagiaan. Mari kita lihat bagaimana tujuh cara sederhana ini bisa menanamkan syukur lewat aktivitas harian tanpa harus terasa menggurui.
1. Mengajak Anak Menemukan Anugerah Kecil dari Hari-Hari Mereka
Anak sering kali terbiasa menyoroti hal besar: mainan baru, jalan-jalan ke luar kota, atau hadiah ulang tahun. Padahal, rasa syukur justru berakar dari kemampuan menghargai hal-hal kecil. Moms bisa mulai dengan mengajak anak menyebutkan satu hal sederhana yang membuat mereka tersenyum hari itu. Misalnya, hujan sore yang membuat udara sejuk atau pelukan hangat sebelum tidur.
Aktivitas ini tidak hanya mengajarkan anak untuk berhenti sejenak, tetapi juga menuntun mereka melihat kehidupan dengan lensa yang lebih lembut. Anak belajar bahwa kebahagiaan bukan selalu datang dari sesuatu yang spektakuler, melainkan dari detail sehari-hari yang sering terlewat.
Lama-kelamaan, anak akan terbiasa “mencari hadiah” dalam keseharian mereka. Saat sekolah terasa melelahkan, mereka bisa tetap menemukan cahaya kecil yang patut disyukuri, dan itulah pondasi emosi yang lebih stabil.
2. Mengubah Rutinitas Makan Jadi Ruang Apresiasi
Meja makan bukan hanya tempat mengisi perut, tetapi juga ruang refleksi bersama. Moms dapat mengajak anak menyebutkan siapa saja yang terlibat hingga makanan tersaji: petani yang menanam, pedagang yang menjual, atau tangan Moms yang memasak.
Kesadaran semacam ini membentuk pola pikir bahwa makanan bukan sekadar benda mati, melainkan hasil kerja keras banyak pihak. Dengan cara ini, anak bukan hanya bersyukur atas rasa kenyang, tetapi juga menghargai rantai panjang kerja sama manusia.
Tak jarang, anak akan belajar lebih menghargai makanan dan mengurangi kebiasaan membuang. Bagi mereka, rasa syukur bukan lagi ucapan kosong, melainkan penghormatan terhadap proses yang membawa rezeki ke piring mereka.
3. Menjadikan Alam sebagai Guru Pertama tentang Syukur
Alih-alih hanya mengajak anak bermain gadget di rumah, cobalah lebih sering mengajaknya berinteraksi dengan alam. Biarkan mereka merasakan angin, menyentuh tanah, atau melihat kupu-kupu yang hinggap di bunga. Alam punya bahasa syukur yang tidak bisa ditiru oleh layar.
Saat anak berlari di halaman dan menemukan keindahan sederhana, Moms bisa membantu mereka menyadari bahwa semua itu adalah “hadiah” yang tidak perlu dibeli. Dari situ anak belajar bahwa kebahagiaan sejati sering kali datang tanpa harga.
Dengan begitu, anak tidak hanya mengenal syukur sebagai ucapan, tetapi juga pengalaman inderawi. Mereka belajar bahwa dunia ini penuh anugerah jika mau memperhatikan dengan lebih dekat.
4. Mengajak Anak Menulis Catatan Rasa Terima Kasih
Tulisan punya daya simpan emosi yang kuat. Moms bisa menyiapkan buku kecil khusus untuk anak menuliskan hal-hal yang membuat mereka merasa bersyukur setiap hari. Tidak perlu panjang, cukup satu kalimat singkat atau gambar sederhana.
Ketika anak menulis atau menggambar, mereka sedang melatih otak untuk menyimpan memori positif. Setiap kali buku itu dibuka kembali, mereka bisa mengulang rasa bahagia yang pernah dirasakan. Ini menciptakan lingkaran emosional yang sehat.
Lebih dari itu, catatan ini kelak bisa menjadi harta berharga saat mereka dewasa. Mereka akan mengingat betapa kebiasaan kecil ini membentuk cara pandang yang positif terhadap kehidupan.
5. Memberi Ruang Anak untuk Membalas Kebaikan
Syukur sejati bukan hanya tentang menerima, tetapi juga tentang memberi. Moms bisa mengajak anak melakukan aksi kecil seperti membantu teman, memberi salam, atau berbagi camilan. Dengan begitu, mereka merasakan sendiri bagaimana syukur bisa tumbuh saat membuat orang lain bahagia.
Aksi sederhana ini melatih anak untuk memahami bahwa mereka tidak hidup sendiri. Ada orang lain yang juga membutuhkan perhatian dan kebaikan. Dari situ, lahir empati yang tumbuh berdampingan dengan rasa syukur.
Seiring waktu, anak akan belajar bahwa memberi tidak selalu harus besar. Kadang, senyuman tulus atau ucapan terima kasih sederhana sudah cukup untuk membuat dunia lebih hangat.
6. Menghadirkan Ritual Malam sebelum Tidur
Sebelum lampu kamar dimatikan, ajak anak menutup hari dengan merenungkan tiga hal baik yang mereka alami. Ritual ini bisa menjadi momen intim antara Moms dan si kecil, tempat mereka merasa didengar dan dihargai.
Selain membantu anak menutup hari dengan pikiran positif, kebiasaan ini juga menumbuhkan rasa damai sebelum tidur. Anak lebih mudah terlelap karena hati mereka sudah penuh dengan rasa syukur, bukan keluhan atau kecemasan.
Dalam jangka panjang, anak akan terbiasa menutup hari dengan refleksi positif. Mereka tumbuh dengan pola pikir bahwa setiap hari, betapapun beratnya, selalu menyimpan sesuatu yang patut dihargai.
7. Menjadi Contoh Nyata di Hadapan Anak
Anak belajar bukan dari kata-kata, melainkan dari apa yang mereka lihat. Saat Moms menunjukkan sikap syukur lewat tindakan nyata—misalnya tersenyum ketika hujan datang atau mengucapkan terima kasih pada orang yang membantu—anak akan merekamnya jauh lebih dalam daripada sekadar mendengar teori.
Kebiasaan kecil Moms menjadi cermin yang membentuk cara pandang anak terhadap kehidupan. Mereka akan meniru tanpa disuruh, karena contoh nyata lebih kuat daripada seribu nasihat.
Rasa syukur anak tumbuh sebagai bagian alami dari kepribadian mereka, bukan sesuatu yang dipaksakan. Moms sedang mewariskan salah satu warisan emosional paling berharga: kemampuan untuk melihat hidup dengan hati yang penuh terima kasih.
Moms, menanamkan rasa syukur tidak membutuhkan strategi rumit. Justru lewat aktivitas harian sederhana, anak bisa belajar menghargai hidup apa adanya.
Syukur menjadikan mereka lebih bahagia, rendah hati, dan kuat menghadapi tantangan.
Setiap langkah kecil yang Moms lakukan hari ini, kelak akan menjadi fondasi besar yang menguatkan jiwa anak di masa depan.
Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.