BADAN Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkap mayoritas anak yang menjadi korban atau terpapar paham ekstremisme tidak mendalami doktrin ideologi secara komprehensif. Menurut Kepala Biro Perencanaan, Hukum, dan Humas BNPT, Kolonel Sus R. Tjandra Sulistiyono, anak-anak tersebut justru lebih tertarik pada konsep kekerasan yang melekat pada ideologi tersebut.
Pernyataan ini disampaikan Tjandra menyusul langkah pemerintah yang telah melakukan pembinaan dan rehabilitasi terhadap sekitar 250 anak di bawah umur terpapar ekstremisme sepanjang akhir 2024 hingga 2025. Menurutnya, anak-anak yang masuk dalam kategori Terrorism-Connected Children atau TCC pada dasarnya dipengaruhi oleh berbagai spektrum pemikiran yang mengarah pada aksi kekerasan.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Namun, kata dia, ketertarikan mereka umumnya dipicu oleh figurasi atau narasi kekerasan itu sendiri, bukan pemahaman mendalam atas ajaran ideologinya. "Anak-anak TCC umumnya tidak mendalami konteks ideologi yang dimaksud, melainkan mereka lebih fokus atau tertarik pada konsep kekerasan yang lekat pada suatu ideologi," ujar Tjandra saat dihubungi pada Kamis, 30 Juli 2026.
Berdasarkan hasil pendalaman, BNPT mengidentifikasi sejumlah ideologi dan paham yang paling banyak memengaruhi anak-anak tersebut. Di antaranya, jihadisme, anarko, nihilisme, Neo-Nazi, White Supremacy, komunisme, misoginis, serta kultus kekerasan.
Keragaman ideologi yang masuk ke ruang personal anak ini, menurut Tjandra, mempertegas pentingnya pengawasan menyeluruh terhadap dinamika interaksi anak. “Terutama di ruang digital yang rentan menjadi sarana penyebaran berbagai narasi kekerasan lintas spektrum ideologi,” ujar dia.
Dihubungi terpisah, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Aris Adi Leksono, mengatakan hal senada. Pergeseran pola penyebaran paham radikalisme dan ekstremisme kini masif memanfaatkan ruang digital dan media sosial untuk menyasar kelompok usia anak di bawah umur.
Ia menilai, gawai berpotensi menjadi pintu masuk utama skema penyusupan doktrin radikal. Menurutnya, sebagian besar kasus keterpaparan anak terkait paham atau kegiatan ekstremisme berawal dari aktivitas di gawai. “Oleh karena itu, orang tua perlu memperhatikan apa yang diakses oleh anak-anaknya,” ujar Aris saat dihubungi pada Kamis, 30 Juli 2026.


















































