TIM peneliti dari Kelompok Riset Instrumentasi Lingkungan Universitas Pendidikan Indonesia atau UPI Bandung memperkenalkan cara baru kuantifikasi rasa bubuk kopi murni. “Metode ini bukan menyasar pada rasa kopi enak atau tidak tapi untuk mengidentifikasi kopinya,” kata ketua tim riset Selly Feranie kepada Tempo, Selasa 28 Juli 2026.
Tim membuat alat pengukurnya dengan bentuk seperti mesin kopi otomatis. Menurut Selly, kopi yang diuji harus murni dari biji dan telah disangrai serta digiling hingga menjadi bubuk halus. Dalam penelitian yang telah dilakukan sejak tahun lalu itu, tim bermitra dengan petani kopi di Garut yang memproduksi kopi arabika dengan varian asli (orisinal) dan jenis winey hasil fermentasi.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Tahapannya, saat pengujian, sampel kopi murni disiapkan seberat 10 gram kemudian diseduh dengan air panas bersuhu 92 derajat Celsius sebanyak 180 mililiter. Senyawa volatil gas amonia (NH3) yang menguap bersama aroma kopi kemudian segera dideteksi oleh sensor MQ-135 saat suhu air kopi turun pada kisaran 85-90 derajat Celsius. Sementara sensor lain yaitu TCS3200 mendeteksi warna air larutan kopi.
Pengukuran lain berlangsung ketika suhu air kopi turun di bawah 60 derajat Celsius, seperti tingkat keasaman (pH). Kemudian pengukuran Electrical Conductivity (EC) untuk mengetahui jumlah kandungan mineral dan membedakan antar kopi yang diukur, juga Total Dissolved Solids atau TDS atau seberapa banyak partikel bubuk kopi yang mengambang di permukaan air.
Jika banyak partikel yang tidak terlarut, maka tingkat kekentalan air kopinya berkurang. “Kami tidak menjustifikasi bahwa ini kualitas atau mineral dalam kopi lebih baik dan sebagainya, tapi lebih sebagai potret karakteristik suatu kopi,” ujar Selly.
Pada sampel yang diteliti, Selly dan timnya menguji berulang sebanyak 10-20 kali untuk memastikan konsistensi pengukuran dan keandalan perangkat. Hasilnya diketahui bahwa kopi asal Garut itu memiliki pH 4,1 dan beraroma winey saat diukur pada suhu air larutan kopi antara 89 hingga turun ke 50 derajat Celsius. Adapun TDS terukur 678 miligram per liter, EC 1.405 millisiemens per sentimeter (mS/cm), dengan warna kopi tergolong tingkat sangrai menengah atau medium roast.
Pengukuran yang menghasilkan lima parameter utama itu merupakan aspek yang disebut Cup Lens atau identifikasi pada larutan kopi. Pada konsep besar Quantifiable Coffee Identity (QCI) itu, Selly menerangkan, ada tiga aspek lain yang diteliti yaitu kondisi lahan (Soil Lens), karakteristik geografis, iklim, data nutrisi tanah (Cultivation Lens), serta penanganan pascapanen (Post-Harvest Lens).
Dengan parameter-parameter itu, Selly mengatakan, “Nantinya setiap kopi memiliki paspor ilmiah yang dapat memperkuat branding sekaligus meningkatkan kepercayaan pasar."
Dituturkannya, pengembangan paspor kopi (Coffee Passport) itu merupakan kelanjutan dari penelitian UPI di bidang instrumentasi lingkungan. Pada 2025, tim peneliti mengembangkan Smart Farming Coffee Garut, sebuah sistem pemantauan kebun kopi berbasis sensor yang mampu memonitor kondisi lahan dari jarak jauh tanpa jaringan internet dengan memanfaatkan tenaga surya. Teknologi tersebut membantu petani memantau kondisi kebun yang berlokasi hingga beberapa kilometer dari pusat pengelolaan.
Memasuki 2026, fokus penelitian bergeser dari peningkatan produktivitas menuju pembangunan sistem identitas ilmiah produk kopi melalui teknologi Quantifiable Coffee Identity (QCI). Selain Selly, tim terdiri atas E.P. Nugroho, Pupung Ismayadi, Judhistira Aria Utama, Dedi Sasmita, dan Hernawati. Mereka berasal dari Program Studi Fisika, Biologi, Pendidikan Ilmu Komputer di kampus UPI serta Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia. Mereka juga dibantu mahasiswa.
“Inovasi ini lahir dari permasalahan nyata yang dihadapi petani kopi,” kata Selly sambil menambahkan peningkatan produksi belum selalu diikuti dengan peningkatan nilai jual karena belum tersedia sistem identifikasi mutu yang objektif dan mudah dipahami konsumen. "Di sisi lain, penilaian kualitas kopi selama ini masih sangat bergantung pada persepsi masing-masing penikmat kopi," kata dia lagi.
Tim riset melihat perlunya sistem yang mampu mengkuantifikasi identitas kopi secara ilmiah sehingga kualitasnya dapat dijelaskan berdasarkan data, bukan semata-mata opini. Berbeda dengan metode cupping test yang mengandalkan penilaian indera manusia, Coffee Passport memanfaatkan pendekatan berbasis sensor dan analisis data. Kelima parameter tersebut diproses menjadi sidik jari digital yang menjadi identitas unik setiap produk kopi.


















































