Kementrans lepas 1.476 peserta TEP 2026, Dorong Kawasan Transmigrasi Berbasis Keilmuan

3 hours ago 4

INFO TEMPO - Sebanyak 1.476 peserta Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 yang tergabung dalam 246 tim resmi dilepas Kementerian Transmigrasi (Kementrans) untuk bertugas di 53 kawasan transmigrasi di seluruh Indonesia. Pelepasan tersebut digelar di Balai Kartini, Jakarta Selatan, pada Kamis, 30 Juli 2026.

Menteri Transmigrasi (Mentrans) M. Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan, 53 kawasan tersebut merupakan bagian dari 154 kawasan transmigrasi prioritas pemerintah. Lokasi-lokasi tersebut sebelumnya telah dikunjungi dan dipetakan melalui pelaksanaan TEP 2025. “Yang membedakan tahun lalu dengan tahun ini adalah tidak hanya riset dan pemetaan potensi ekonomi, tetapi mereka juga melakukan aksi nyata,” ujarnya.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Ia menegaskan, pembangunan kawasan transmigrasi telah sesuai dengan amanat Peraturan Presiden Nomor 50 Tahun 2018, yakni tidak hanya menjadi tanggung jawab Kementerian Transmigrasi, tetapi membutuhkan sinergi dan kolaborasi seluruh kementerian dan lembaga. Dalam upaya tersebut, pemerintah menggandeng lembaga pendidikan, khususnya perguruan tinggi, untuk berkontribusi melalui ilmu pengetahuan, riset, dan pendampingan di kawasan transmigrasi.

Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui keterlibatan 10 perguruan tinggi mitra dalam pelaksanaan TEP 2026. 10 perguruan tinggi tersebut, yakni Universitas Airlangga, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Institut Teknologi Bandung, IPB University, Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, Universitas Padjadjaran, Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin.

Selain itu, peserta TEP 2026 juga berasal dari lebih dari 140 perguruan tinggi lainnya di seluruh Indonesia. Meski menghadapi keterbatasan anggaran karena kebijakan efisiensi dari pemerintah pusat, Iftitah menegaskan TEP tetap menjadi program prioritas karena berperan penting dalam mendorong transformasi pembangunan kawasan transmigrasi. 

“Kalau tahun depan kena efisiensi lagi, ya, seperti yang tadi saya sampaikan di awal, jangan takut, jangan khawatir. Kalau tahun depan hanya 10 tim, kita tetap berangkatkan 10 tim,” katanya.

Ia pun menegaskan, Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Menurutnya, yang membedakan negara maju dan negara berkembang bukanlah jumlah orang pintar, melainkan seberapa banyak dari mereka yang memilih turun langsung dan hadir di berbagai pelosok Indonesia untuk melihat serta menyelesaikan persoalan masyarakat.

“Itulah sebabnya saudara ada di sini. Saudara bukan dikirim untuk menjadi tamu, bukan pula untuk sekadar menyelesaikan laporan. Saudara dikirim untuk berpikir, bekerja, dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat,” ujarnya.  “Selamat bertugas membantu rakyat Indonesia.”

Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi dalam kegiatan Pelepasan Tim Ekspedisi Patriot 2026 di Balai Kartini, Jakarta Selatan, pada Kamis, 30 Juli 2026. Dok. Kementrans

Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi mengatakan, kegiatan ini merupakan momen bersejarah sekaligus langkah nyata dalam mewujudkan pembangunan kawasan transmigrasi yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Program Tim Ekspedisi Patriot menerjunkan sumber daya manusia unggul ke tengah-tengah masyarakat transmigrasi guna mendorong aktivitas pembangunan melalui aksi nyata dan penciptaan model pengembangan kawasan transmigrasi,” ujarnya.

Pada angkatan kedua ini, ia menjelaskan, Tim Ekspedisi Patriot 2026 terdiri dari 246 tim dengan total 1.476 orang, yang terdiri dari profesor/guru besar, doktor, magister, dan sarjana dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

“Keberagaman komposisi ini menunjukkan bahwa program ini menghadirkan talenta dari berbagai level keahlian, mulai dari akademisi senior hingga sarjana muda yang siap mengaplikasikan diri untuk pembangunan kawasan transmigrasi,” katanya.

Viva menjelaskan, Tim Ekspedisi Patriot 2026 berbeda dari tahun sebelumnya. Jika sebelumnya fokus memetakan masalah, tahun ini para patriot ditugaskan menghasilkan model, prototipe, desain, dan pendampingan yang dapat diterapkan langsung di kawasan transmigrasi, sekaligus menyusun rekomendasi kebijakan berbasis kondisi lapangan.

“Dengan demikian, keberadaan Tim Ekspedisi Patriot 2026 mampu mendorong aktivitas pembangunan yang nyata dan berkelanjutan di kawasan transmigrasi. Jadi, tidak berhenti pada identifikasi persoalan, tetapi bergerak pada penyelesaian masalah melalui implementasi program yang terukur dan berdampak langsung kepada masyarakat,” katanya.

Ia menegaskan, para patriot tidak dibebani untuk menyelesaikan seluruh persoalan dalam waktu singkat, tetapi diharapkan menjadi bagian dari mata rantai perubahan yang berkelanjutan. (*)

Read Entire Article
Parenting |