DAMPAK kelangkaan BBM di Sumatera Utara telah mengganggu angkutan ekspedisi barang dan bus dari Medan ke kota-kota tujuan. Pengusaha jasa ekspedisi mengeluhkan kenaikan biaya operasional rata-rata sebesar 25 persen, antara lain penambahan uang makan supir dan kernet akibat terjebak antre BBM hingga berjam-jam.
Pemilik Ekspedisi dan Bus Persatuan Motor Horas (PMH) di Medan, Rajamin Sirait, mengatakan dampak kelangkaan bahan bakar minyak telah menggangu perekonomian Sumut karena pasokan barang dari dan ke Sumut terlambat. Ia mencontohkan truk PMH yang berangkat dari Medan antara pukul 19.00 hingga 20.00 WIB setiap malam seharusnya tiba di Pekanbaru, Riau, esok harinya sekitar pukul 10.00 WIB, begitu juga sebaliknya. "Namun karena kelangkaan solar, terpaksa antre di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum hingga 4 jam," kata Rajamin kepada Tempo, Kamis 16, Juli 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Pembatasan pembelian solar sebanyak 200 liter sekali pengisian BBM menyebabkan truk dan bus PMH trayek Medan-Pekanbaru harus kembali mengisi BBM di Rantau Prapat, Kabupaten Labuhan Batu.
"Padahal kebutuhan solar Medan-Pekanbaru 450 liter sekali jalan. Karena pembatasan pembelian solar 200 liter dengan barcode, maka truk dan bus terpaksa mengisi solar 1 atau 2 kali lagi di tengah perjalanan. Masalahnya, saat ini SPBU jalan lintas Sumatera banyak yang tutup karena pasokan BBM kosong," katanya.
Rajamin mengatakan, Pertamina harus jujur mengakui pasokan BBM ke Sumut terbatas sehingga banyak SPBU digilir beroperasi. Sistem jatah BBM ke SPBU menyebabkan sejumlah SPBU kadang kala buka dan tutup. "Ini yang menyebabkan satu SPBU didatangi pelanggan sehigga terjadi antrean," ujarnya.
Ia juga menyarankan agar sistem pembelian barcode dihapus seperti di Provinsi Aceh. Sistem pembelian dengan barcode, ujar Rajamin, tidak tepat diterapkan kepada bus dan truk ekspedisi.
Pantauan Tempo, antrean panjang bus, truk, dan sepeda motor masih terjadi di SPBU 14.202. 185 Amplas. Salah satu supir truk mengaku bernama Tony Siregar memarkirkan truknya sejak pukul 06.00 WIB. Ia terpaksa antre 3 jam demi mendapatkan 150 liter solar. "Kalau tidak diisi pagi ini nanti malam tidak bisa berangkat ke Sipirok," katanya kepada Tempo.
Area Manager Communication, Relations, & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Fahrougi Andriani Sumampouw tidak menjawab pesan singkat dan telepon Tempo. Namun pada Rabu kemarin, ia menjelaskan antrean disebabkan dimulainya kembali kegiatan sekolah, meningkatnya aktivitas masyarakat, sehingga kebutuhan BBM di Medan mengalami kenaikan sekitar 5 hingga 10 persen dibandingkan konsumsi rata-rata harian.
"Pertamina Patra Niaga memastikan layanan penyaluran BBM di seluruh SPBU wilayah Medan dan sekitarnya kini telah kembali beroperasi normal. Peningkatan kebutuhan BBM dalam beberapa hari terakhir terjadi seiring meningkatnya aktivitas masyarakat," kata Fahrougi kepada Tempo, Rabu, 15 Juli 2026.
Pertamina Patra Niaga, ujar Fahrougi, meningkatkan kapasitas distribusi melalui penambahan armada mobil tanki, penguatan personel distribusi, serta optimalisasi operasional sehingga layanan di SPBU kembali berjalan normal.
Selain itu, operasional Fuel Terminal Medan dan sejumlah SPBU, ujar Fahrougi, dioptimalkan selama 24 jam untuk mempercepat penyaluran BBM ke masyarakat. Upaya tersebut, diklaim Fahrougi membuahkan hasil sejak Ahad 14 Juli penyaluran BBM meningkat 104 persen dari target harian, dengan pengoperasian 149 unit mobil tangki.















































