Menghela Inovasi Telekomunikasi melalui Kecerdasan Buatan

3 hours ago 6

TEMPO IMPACT - Lanskap telekomunikasi Indonesia sedang mengalami pergeseran strategis, beralih dari fase awal penggunaan AI semata-mata untuk efisiensi operasional menuju pertumbuhan berkelanjutan sebagai bagian dari kerangka kerja strategis AI nasional.

Tingkat adopsi AI di dunia usaha dan masyarakat Indonesia telah menyentuh angka fantastis: 92 persen dan diproyeksikan mendorong pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia hingga 12 persen atau setara USD 366 miliar pada tahun 2030.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Melihat peluang ini, para pemain utama seperti Telkomsel, Indosat, dan XLSMART kini memanfaatkan ekosistem AI untuk membuka sumber pendapatan baru sekaligus meningkatkan layanan pelanggan melalui solusi AI yang berorientasi pada pengguna dan kemitraan strategis.

AI sebagai strategi nasional

Agar roda inovasi ini tidak kehilangan arah, pemerintah bergerak taktis menyiapkan payung hukum yang bersahabat namun tetap mengedepankan keamanan informasi masyarakat.

Bagi Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi), Meutya Hafid, inovasi pelayanan publik semacam ini adalah bukti nyata bahwa teknologi harus membumi. "Angka-angka pertumbuhan ekonomi digital harus tercermin dan berdampak bagi masyarakat. Teknologi harus menjadi alat untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, memperkuat UMKM, dan memastikan transformasi digital benar-benar memberikan manfaat bagi seluruh Indonesia," tegasnya.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, memaparkan perkembangan terkini dari inisiatif regulasi yang akan memastikan pengembangan AI yang berkelanjutan. “Pemerintah saat ini sedang mematangkan dua instrumen kebijakan utama: Peta Jalan AI Nasional dan Peraturan Presiden tentang Etika AI,” jelas Nezar. Regulasi yang dirancang secara progresif ini akan memprioritaskan sepuluh sektor strategis nasional, mulai dari ketahanan pangan, kesehatan, reformasi birokrasi, hingga ekonomi kreatif, sebagai motor penggerak utama.

Pemerintah sadar betul bahwa peta jalan ini tidak bisa dibangun dalam ruang hampa, melainkan harus menyeimbangkan antara ruang inovasi dan pelindungan publik. "Keberhasilan AI tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologinya, tetapi juga oleh kemampuan kita mengelola data secara aman, etis, dan bertanggung jawab," ujar Meutya Hafid menambahkan dimensi etis pada regulasi tersebut.

Infrastruktur AI sebagai langkah pertama

Inovasi regulasi ini menemukan laboratorium terbaiknya pada industri telekomunikasi nasional. Meutya Hafid menggarisbawahi bahwa prasyarat utama untuk memimpin perlombaan teknologi ini adalah kesiapan infrastruktur dasar. “To be a leader in AI, data center harus kuat. Talentanya juga harus siap, harus unggul,” tegas Meutya.

Namun, seluruh arsitektur kecerdasan ini mustahil bekerja tanpa jalan tol digital yang mulus. Di sinilah akselerasi infrastruktur 5G menjadi penentu utama. Di tengah langkah Kementerian Komunikasi dan Digital yang kini menggelar lelang frekuensi emas 700 MHz dan 2,6 GHz, sebuah babak krusial yang dinanti-nanti industri seluler di pertengahan tahun 2026 ini, pandangan optimistis justru datang dari Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel), Sarwoto Atmosutarno. Ia melihat masa penantian panjang Indonesia dalam menggelar 5G secara masif sebagai keuntungan tersendiri (latecomer advantage), di mana operator kini bisa langsung mengadopsi arsitektur teknologi yang matang tanpa harus melewati fase coba-coba yang mahal dan memakan waktu.

"Buat kita yang sampai hari ini belum loncat ke 5G itu juga suatu kesempatan lho. Kita memperoleh teknologi yang sudah lebih matang daripada kita adopsi 5G empat atau lima tahun lalu yang belum matang," tutur Sarwoto. Dengan rampungnya migrasi televisi analog (Analog Switch Off), spektrum frekuensi emas tersebut kini siap dioptimalkan demi mewujudkan jaringan '5G yang sesungguhnya', bukan sekadar '5G rasa 4G', menjadikan fondasi konektivitas bagi implementasi kecerdasan buatan nasional semakin kokoh dan stabil.

Sektor Telekomunikasi Menuju Penerapan AI dalam Skala Besar 

Operator seluler di Indonesia sedang bergeser dari sekadar penyedia konektivitas pipa data (telco) menjadi perusahaan penyedia solusi teknologi yang komprehensif (techco).

Bagi para analis, perluasan layanan ke ranah AI ini adalah pendorong strategis yang sangat menjanjikan untuk menjaga profitabilitas jangka panjang. Analis fundamental dari BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menilai langkah ekspansi ini sebagai strategi yang cerdas bagi stabilitas kinerja operator di tengah pasar yang kompetitif. "Pemanfaatan AI juga berpotensi memperkuat pengalaman pelanggan dan menekan churn rate. Sehingga berdampak positif terhadap stabilitas pendapatan dan profitabilitas jangka menengah," jelas Abida. Dengan mengoptimalkan mahadata yang mengalir di jaringan serta memanfaatkan infrastruktur pusat data yang andal, operator seluler kini memiliki peluang monetisasi baru berbasis solusi data.

Melihat potensi tersebut, Direktur Utama Telkomsel, Nugroho, menegaskan komitmen perusahaannya untuk berada di garda depan transformasi ini. "Telkomsel akan terus memperkuat perannya sebagai digital ecosystem enabler melalui pengembangan konektivitas broadband, layanan digital terintegrasi, serta pemanfaatan teknologi berbasis AI untuk menghadirkan pengalaman pelanggan yang semakin seamless, relevan, dan bernilai," ujarnya memaparkan strategi perusahaan.

Langkah senada diambil oleh XLSMART, entitas telekomunikasi terpadu yang lahir dari penggabungan usaha historis antara XL Axiata dan Smartfren. Bagi Presiden Direktur dan CEO XLSMART, Rajeev Sethi, lahirnya kekuatan baru ini adalah batu pijakan penting untuk menyatukan kekuatan jaringan demi melayani lebih dari 94,5 juta pelanggan mereka. 

"Pembentukan XLSMART adalah langkah penting dalam mewujudkan tujuan kami: menghubungkan setiap orang Indonesia untuk kehidupan yang lebih baik," kata Rajeev mantap. Ia pun meyakini bahwa dalam kompetisi modern, "AI bukan lagi teknologi masa depan, tetapi sudah menjadi bagian dari strategi bisnis saat ini yang harus dimanfaatkan secara optimal".

Solusi AI Telekomunikasi di di Genggaman Pengguna

Di lapis pengguna, teknologi kecerdasan buatan telah menjelma menjadi asisten harian yang tak terpisahkan. Survei nasional menunjukkan angka yang menakjubkan, 97 persen responden mengakui bahwa AI mempermudah aktivitas harian mereka, mulai dari pencarian informasi hingga belanja daring dengan dominasi penggunaan chatbot generatif mencapai 83 persen. Memanfaatkan modal kedekatan harian dengan jutaan pelanggan ini, para operator kini meluncurkan taktik consumer-first AI untuk menghadirkan pengalaman digital yang lebih personal dan intuitif.

Indosat bersama Nokia dan NVIDIA meresmikan AI-RAN Research Center di Surabaya untuk mengembangkan jaringan berbasis AI dan memperkuat ekosistem digital Indonesia pada 2025. Dok. Indosat

Langkah konkret diperlihatkan oleh Indosat Ooredoo Hutchison di bawah kemudi Vikram Sinha. Vikram menyoroti komitmen korporasi dalam mempercepat penerapan teknologi ini secara konsisten demi memberikan dampak yang luas. "Di Indosat, kami percaya bahwa setiap kemajuan harus menghadirkan dampak yang lebih luas and bermakna. Fokus kami jelas, mempercepat eksekusi strategi AI secara disiplin," tegas Vikram.

Komitmen itu dibuktikan lewat peluncuran ekosistem open-source Sahabat-AI berskala 70-miliar parameter, sebuah inovasi berdaulat yang dirancang khusus untuk memahami konteks sosial-budaya serta bahasa daerah di Indonesia. "Platform ini dibangun di atas keyakinan kami, teknologi harus membawa manfaat bagi semua orang. Kami menghadirkan fondasi inovasi yang dapat digunakan oleh individu, startup, pelaku usaha, maupun institusi publik di seluruh penjuru negeri," jelas Vikram mendeskripsikan inklusivitas program tersebut. Ia pun menambahkan, "Sahabat-AI lebih dari sekadar model, ini adalah aset nasional yang didorong oleh kolaborasi dan dibangun untuk seluruh rakyat Indonesia".

Di samping membangun produk lokal berdaulat, Nezar Patria juga mengingatkan pentingnya persaingan yang sehat di tingkat hilir ekosistem digital nasional. “Kita berharap kompetisi yang adil akan tercipta di ranah platform digital,” tegas Nezar, menekankan perlunya iklim kompetitif yang suportif bagi pertumbuhan pemain domestik dan global.

Di kubu XLSMART, integrasi teknologi ini dilakukan untuk meningkatkan efisiensi sekaligus kepuasan pengguna. Rajeev Sethi mengungkapkan bahwa kepercayaan para pemegang saham menjadi bahan bakar utama bagi XLSMART untuk terus melakukan inovasi secara berkelanjutan. "Dukungan dari pemegang saham melalui AGMS ini menjadi pendorong bagi kami untuk terus memberikan layanan yang lebih baik, memperkuat kualitas jaringan, meningkatkan pengalaman pelanggan, dan mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan," paparnya. Henry Wijayanto, Head of External Communications XL Axiata, menambahkan bahwa AI di platform XLSMART bukan sekadar pemanis operasional, melainkan strategi inti perusahaan. "Pengembangan dan penggunaan AI di XLSMART tidak hanya sekadar tren, melainkan menjadi strategi kunci untuk meningkatkan efisiensi, memberikan pengalaman pelanggan yang lebih personal, dan membuka peluang bisnis baru," tegas Henry.

Sementara itu, Telkomsel memperkuat interaksi pelanggannya lewat optimalisasi asisten virtual AVA (AI Virtual Assistant) yang mampu melayani percakapan secara natural dan responsif. Nugroho, Direktur Utama Telkomsel, mengingatkan bahwa secanggih apa pun teknologi pintar yang diadopsi, empati kemanusiaan tetap menjadi roh utama pelayanan. "Di era transformasi digital and Artificial Intelligence (AI), pendekatan yang berpusat pada pelanggan dengan empati menjadi kunci, sehingga setiap solusi mampu menghadirkan kemudahan, rasa aman, dan dukungan dalam keseharian pelanggan," terangnya. 

Aplikasi Super AI sebagai peluang baru

Muara dari semua inovasi ini adalah lahirnya platform SuperApp berbasis AI, sebuah ekosistem terintegrasi yang diproyeksikan tumbuh pesat secara global hingga menembus valuasi USD 968,77 miliar pada tahun 2033. Dengan modal basis pelanggan yang besar dan infrastruktur yang matang, operator seluler tanah air berada di posisi paling strategis untuk memimpin pasar ini. 

Untuk mengakselerasi proses tersebut secara efektif tanpa harus membangun model dari nol, kemitraan strategis dengan penyedia solusi AI global yang memahami pasar lokal menjadi pilihan paling rasional dan berkelanjutan.

Nezar Patria menegaskan bahwa kolaborasi erat antara penyedia teknologi global dan pelaku industri dalam negeri adalah kunci utama untuk melahirkan solusi yang relevan bagi masyarakat. 

Model kemitraan di industri telekomunikasi telah terbukti secara universal. Untuk mengatasi tantangan infrastruktur, Telkomsel berkolaborasi dengan pemimpin industri seperti Microsoft dan Huawei, sementara Indosat bekerja sama dengan Nokia dan NVIDIA. Kini, kolaborasi tersebut meluas tidak hanya pada aspek infrastruktur, tetapi juga pada aspek pengguna. Sebagai contoh, KT Corporation dari Korea Selatan bermitra dengan Microsoft untuk mengembangkan model AI berbahasa Korea dan layanan konsumen berbasis AI yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar domestik. Demikian pula, Yandex baru-baru ini meluncurkan solusi AI for Telecoms di Indonesia dan sejumlah pasar lainnya, serta telah bermitra dengan operator asal Asia Tengah, Tele2, untuk mengembangkan solusi AI yang berpusat pada pengguna.   

Penutup: AI sebagai Penggerak Pertumbuhan Industri Telekomunikasi

Ketika regulasi yang adaptif berpadu dengan perluasan jaringan 5G, pembangunan pusat data, serta kesiapan operator telekomunikasi bertransformasi dari sekadar penyedia konektivitas menjadi penyedia solusi digital (techco), Indonesia tengah memasuki babak baru ekonomi digital. Kecerdasan buatan bukan lagi sekadar perangkat untuk meningkatkan efisiensi operasional, melainkan infrastruktur strategis yang akan menentukan daya saing industri, produktivitas masyarakat, hingga posisi Indonesia dalam peta ekonomi digital global.

Namun, transformasi tersebut tidak akan ditentukan oleh siapa yang memiliki model AI terbesar, melainkan oleh siapa yang mampu menghadirkan AI secara nyata dalam kehidupan masyarakat. Di sinilah kolaborasi menjadi faktor penentu. Pemerintah membangun arah kebijakan dan tata kelola, operator telekomunikasi menyediakan konektivitas dan jangkauan pelanggan, akademisi memperkuat riset dan talenta, sementara perusahaan teknologi menghadirkan inovasi yang dapat diimplementasikan secara cepat dan relevan dengan kebutuhan pasar Indonesia.

Model kolaborasi seperti ini mulai menjadi tren global. Alih-alih membangun seluruh kapabilitas AI dari nol, banyak operator telekomunikasi memilih bermitra dengan penyedia teknologi AI untuk mempercepat inovasi, memperkaya layanan pelanggan, sekaligus membuka peluang monetisasi baru. Pada akhirnya, keberhasilan Indonesia di era AI tidak hanya diukur dari banyaknya teknologi yang diadopsi, tetapi dari sejauh mana teknologi tersebut mampu menciptakan nilai ekonomi baru, memperkuat daya saing industri, memberdayakan UMKM, dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Jika seluruh elemen ekosistem mampu bergerak bersama, AI bukan hanya akan menjadi mesin pertumbuhan baru bagi industri telekomunikasi, melainkan juga fondasi penting bagi terwujudnya visi Indonesia Emas 2045.(*)

Read Entire Article
Parenting |