WAKIL Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Lodewijk F. Paulus menyatakan pemerintah tetap konsisten menjalankan politik luar negeri bebas aktif di tengah dinamika global yang kian kompleks. Sikap itu, menurut dia, menjadi bagian dari strategi Indonesia menjaga stabilitas dan kepentingan nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan Lodewijk saat memberikan kuliah umum di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Jakarta, Selasa, 7 April 2026. Lodewijk menyoroti perubahan geopolitik, geoekonomi, dan teknologi global yang memunculkan spektrum ancaman semakin luas, baik konvensional maupun non-konvensional.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Geostrategi Indonesia dirumuskan dalam konsepsi ketahanan nasional sebagai instrumen utama untuk menjamin tegaknya hukum dan ketertiban, menjaga stabilitas kehidupan nasional, serta mendorong terwujudnya kesejahteraan dan keamanan masyarakat,” kata dia, dikutip dari keterangan resmi, Rabu, 8 April 2026.
Posisi Indonesia sebagai negara kepulauan yang strategis menuntut kebijakan luar negeri yang adaptif dan berimbang. Pemerintah, kata dia, tetap mengedepankan prinsip bebas aktif serta memperkuat hubungan internasional melalui pendekatan good neighbor policy.
“Sebagaimana disampaikan Presiden Prabowo, seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak. Ini mencerminkan orientasi diplomasi Indonesia yang mengedepankan kerja sama dan stabilitas kawasan,” ujar dia.
Menurut dia, orientasi tersebut mencerminkan diplomasi Indonesia yang menekankan kerja sama dan stabilitas kawasan. Arah geopolitik Indonesia, lanjutnya, juga telah tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 yang menjadi landasan perumusan kebijakan strategis, termasuk di bidang politik dan keamanan.
Eskalasi geopolitik meningkat setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran yang memicu konflik terbuka di Timur Tengah. Situasi ini memperlebar ketegangan antarnegara dan meningkatkan risiko konflik kawasan yang lebih luas, terutama di wilayah strategis yang selama ini menjadi pusat kepentingan global.
Dampaknya menjalar ke berbagai sektor. Di bidang ekonomi, terjadi tekanan akibat kenaikan harga energi dan gangguan perdagangan. Sementara dari sisi pertahanan, meningkatnya tensi global sehingga mendorong negara-negara termasuk Indonesia untuk memperkuat kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi potensi ancaman keamanan.


















































