PARA peneliti berhasil membuat tanaman menghasilkan β-casein, salah satu protein utama dalam susu sapi, membuka peluang baru untuk memproduksi bahan baku susu tanpa bergantung pada peternakan. Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Plant Science dan dinilai dapat mendukung pengembangan protein susu yang lebih berkelanjutan.
Penelitian dipimpin oleh Oded Shoseyov dari Hebrew University of Jerusalem bersama perusahaan bioteknologi asal Selandia Baru, Miruku. Dalam studi tersebut, tim merekayasa biji tanaman Arabidopsis agar mampu memproduksi β-casein sapi. Mereka kemudian mengarahkan protein tersebut ke berbagai kompartemen di dalam sel untuk mengetahui lokasi penyimpanan yang paling efektif.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Di luar dugaan, protein susu itu tidak tersimpan di vakuola penyimpanan seperti yang diperkirakan sebelumnya. Hasil pengamatan menggunakan mikroskop elektron menunjukkan β-casein justru membentuk struktur kaya protein yang menyerupai misel kasein alami dan berkumpul di sekitar badan minyak kecil di dalam sel biji tanaman. Struktur tersebut tetap terbentuk tanpa mengganggu proses perkecambahan biji.
Penemuan ini menunjukkan tanaman kemungkinan memiliki mekanisme penyimpanan protein kompleks yang sebelumnya belum pernah diketahui. Selain itu, tanaman dengan hasil terbaik mampu menghasilkan β-casein sekitar 1,26 persen dari total protein biji yang larut, angka yang lebih tinggi dibandingkan banyak penelitian terdahulu yang mencoba memproduksi kasein menggunakan tanaman.
“Salah satu hal paling menarik dalam sains adalah ketika alam memberikan kejutan kepada kita,” kata Shoseyov, dikutip dari laporan Earth, 19 Juli 2026. “Kami awalnya ingin mengirim protein itu ke satu lokasi tertentu di dalam sel, tapi justru menemukan bahwa tanaman secara efektif menciptakan sistem penyimpanannya sendiri.”
Ia menambahkan, “Memahami perilaku yang tidak terduga ini memberi kami wawasan berharga tentang bagaimana tanaman menangani protein kompleks dan dapat membantu kami merekayasa sistem yang lebih efisien untuk memproduksi protein susu berkelanjutan di masa depan.”
Menurut para peneliti, temuan tersebut tidak hanya bermanfaat bagi pengembangan alternatif produk susu, tapi juga dapat diterapkan dalam bidang plant molecular farming, yakni pemanfaatan tanaman sebagai penghasil protein bernilai tinggi untuk pangan, nutrisi, hingga obat-obatan. Dengan memahami cara protein rekombinan tersimpan secara alami di dalam sel tanaman, proses produksi berpotensi menjadi lebih efisien, biaya pemurnian dapat ditekan, dan hasil protein yang diperoleh bisa meningkat.
Sebagai langkah lanjutan, tim peneliti juga telah berhasil menerapkan teknologi yang sama pada tanaman safflower, tidak lagi hanya pada tanaman model Arabidopsis. Safflower dipilih karena merupakan tanaman penghasil minyak yang tahan terhadap iklim panas dan lahan kering, sehingga dinilai lebih berpotensi untuk dikembangkan dalam skala besar seiring meningkatnya kebutuhan akan sumber protein yang lebih ramah lingkungan.

















































